CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DIA SUDAH KETEMU PAWANGNYA


__ADS_3

Made sebagai sahabat dari SMA melihat perubahan yang sangat jauh dalam diri Mukti. dia melihat Mukti sudah kembali ceria seperti sebelum dia kenal dengan Vio. Jiwa cerianya benar-benar telah kembali. Itu yang membuat Made bahagia. Sebagai sahabat tentu dia bahagia bila temannya telah kembali normal.


‘Ternyata dia sudah ketemu pawangnya,’ kata Made dalam hati.


“Jadi nanti kita ketemu lagi itu kalau sidang banding Pak?” tanya Komang Ayu pada Putut.


“Nanti saya kabari Mbak Komang, kapan kita diperlukan datang sebagai saksi. Kalau nggak diperlukan datang sebagai saksi saya nggak minta kalian datanglah. Buat apa buang waktu? Kecuali kalau memang kalian ingin selalu mengikuti jalannya sidang,” kata Pak Putut.


“Baik Pak terima kasih. Kami tunggu aja info dari Bapak,” jawab Mukti. Saat itu mereka sudah di parkiran dan masing-masing akan pergi ke tujuan yang terpisah.


Mukti dan Ayya akan ke rumahnya Wayan sesuai dengan niat mereka kemarin. Saat perjalanan menuju ke rumah Wayan, Ayya jadi ingat kemarin sepanjang perjalanan dari Badung ke Denpasar dengan ojek dia berpikir keras apa yang papanya katakan bahwa semua itu ada batasnya.


Wayan papanya menerangkan bagaimana dia berjuang mati-matian tapi batasnya adalah Sukma meninggal saat dia terbebas. Kalau saja Wayan mau berontak terlebih dulu tanpa harus menunggu uangnya cukup tentu dia masih bisa hidup bersama dengan Sukma beberapa saat.


“Papa minta kamu berubah mulai sekarang. Jangan sampai penyesalan yang Papa rasakan akan kamu rasakan juga. Papa tahu kamu cinta sama Mukti kok. Kamu nggak cinta sama Carlo dan Arjun. Walau kamu mau menerima Arjun hanya kendala di mamanya. Tapi kamu nggak cinta sama dia.”

__ADS_1


“Sebelum waktumu habis kamu harus berubah. Kita nggak tahu sampai seberapa kesabarannya Mukti menunggu kamu. Walau dia sudah bicara di depan papa mamanya dia akan menunggu kamu, tapi manusia itu punya batas kesabaran. Papa mohon perjuangkan cinta kamu kalau memang kamu mau sama Mukti. Tapi kalau kamu nggak mau ya udah nggak usah dipaksakan!” itu perkataan Wayan ketika Ayya mau pulang kemarin.


Kata-kata itu yang terus di pikir Ayya sepanjang perjalanan bahwa dia harus segera berbalik arah bila tak ingin menyesal seperti yang Wayan rasakan. Wayan tak pernah mengungkapkan niat dia untuk berjuang berpisah dari Dewi. Dia hanya berjuang sendirian dalam diam sehingga Sukma sama sekali tak pernah tahu bahwa Wayan sedang berjuang. Itu suatu kesalahan tak pernah mengungkapkan apa yang sedang mereka rintis.


Itulah titik balik mengapa Ayya langsung mau berubah. Mengapa Ayya langsung menyuapi Mukti ketika tahu Mukti belum makan. Mengapa Ayya mau keluar menemui teman-teman Mukti dan ikut mengakui bahwa mereka memang benar telah tunangan. semua karena Wayan sang Papa yang sudah merasakan pahit getir cintanya yang kandas.


Cinta Wayan memang hanya untuk Sukma sama seperti cinta Sukma hanya untuk Wayan.


Ketika Ayya masih kecil beberapa kali Wayan menyuruh Sukma menikah agar ada orang yang menopang hidupnya secara jelas tidak seperti dia yang hanya bisa sesekali memberi uang. Tapi demi cintanya Sukma tak mau menikah dengan siapa pun. Dia hanya ingin bersama Wayan. Begitu pun Wayan.


Sayangnya Wayan tak pernah cerita pada Sukma itu saja.


Kalau kita bicara kembali ke takdir ya nggak ada yang bisa menentang takdir itu memang sudah jalannya Sukma harus meninggal saat itu.


“Yank … Yank,” kata Mukti.

__ADS_1


“Eh iya, kenapa Mas?”


“Kamu ngelamunin apa? Dari tadi Mas tanya kamu diem aja,” tegur Mukti.


“Oh maaf Mas. Aku lagi mikirin soal bandingnya Saras. Kalau kita kalah bagaimana?” jawab Ayya tak jujur.


“Nggak usah dipikir. Mau kalah mau menang biarin aja, yang penting dia sudah merasakan hidup di dalam penjara. Tapi insya Allah nggak kalah kok kita,” kata Mukti mencoba menenangkan hati Ayya.


“Mas tadi mau nanya apa?” tanya Ayya.


“Kita mau bawa apa ke rumah papa? Kata kamu kita mau makan malam di sana juga.” Mukti tentu harus tahu apa yang akan di bawa.


“Aku sudah bilang sama papa. Papa nggak perlu masak nanti sebelum masuk ke ke desa ada rumah makan di situ kita beli lauk aja,” jawab Ayya.


‘Sekalian beli buah-buahan buat papa sama bude Ati dan pakde Saino.”

__ADS_1


“Kirain kamu belum bilang sama papa.”


“Sudah Mas kemarin aku pagi-pagi udah bilang kok bahwa kita mau ke sana sehabis ke pengadilan.


__ADS_2