
Tadi di awal sudah disebut satu minggu ini ada manis-manis pahit manisnya dalam kehidupan Ayya dan Mukti. Sudah diungkap bahwa hubungan Ayya dan Mukti semakin baik dengan komunikasi yang semakin lancar untuk hubungan asmara. Kalau komunikasi kerja tetap berjalan bagus.
PAHITNYA?
Pahitnya bukan buat Mukti apalagi buat Ayya. Lalu buat siapa dong?
Hari ini sidang kedua kasus banding yang diajukan Saras sebagai terlapor. Ayya dikonfrontasi dengan dokter yang memberi visum. Sidang mendengar semua keterangan Hakim juga keterangan dari pengacara terlapor.
Dokter ahli kecantikan itu langsung mendidih darahnya. Dia merasa kredibilitasnya diragukan. Dia merasa visum yang dia buat dengan sesungguhnya dianggap tidak benar oleh pihak Saras melalui pengacaranya. Tanpa menunggu selesai sidang, dokter menghubungi pengacaranya membuat somasi pencemaran nama baik.
Dokter Windy dan pengacaranya langsung melaporkan Saras dan pengacara Saras kepada kepolisian. Siapa yang mau terima kalau keahliannya dianggap main-main?
Jam istirahat sidang, Saras dan ibunya semakin kalang kabut mendapat perkembangan baru kasus hukum yang mereka ajukan. Bukan menambah mudah tetapi malah sekarang tambah kasus baru. Tentu saja ini di luar dugaan mereka. Mendapat tekanan seperti itu Saras langsung pingsan.
Mukti, Ayya dan Pak Putut juga dokter Windy yang membuat visum sedang istirahat di cafe karena kebetulan saat itu jam makan siang. Ponsel Pak Putut bergetar. Rupanya terbiasa di dalam ruang sidang, maka pak Putut hanya menggunakan mode getar saja.
“Maaf saya angkat sebentar ya,” kata Pak Putut. Mereka memang makan siang di cafe sambil menunggu sidang lanjutan.
__ADS_1
“Wah ternyata sidangnya ditunda minggu depan,” jelas Pak Putut sat selesai bicara di telepon.
“Kenapa Pak Putut?” tanya Mukti.
“Saras dan pengacaranya mengatakan tak bisa hadir, karena Saras tadi pingsan begitu mendengar laporan dokter Windy dan pengacara juga kaget dia dituntut tentang somasi itu,” balas pak Putut. Rupanya telepon dari pegawai pengadilan.
“Saya juga nggak mau dong nama baik saya cemar dengan pernyataan seperti itu. Saya nggak pernah buat main-main kok melakukan visum,” kata Dokter Windy.
“Dia stres karena saat ini sedang hamil, mendapat tekanan seperti itu yang langsung pingsan, jadi alasan penundaan karena terlapor tak bisa hadir dengan alasan kesehatan,” jelas Putut.
“Nah dugaanku minggu lalu benar kan Mas?” kata Ayya sedikit keras. Dia tak sadar langsung berkata seperti itu mendengar penjelasan pak Putut.
“Aku menduga, Mas itu mau dijadiin target biar jadi suami Saras. Karena dia sedang hamil. Minggu lalu aku kan bilang, dia sedang dipenjara, tertekan batinnya, makanannya juga nggak sesuai selera, kok pipinya tambah cubby,” kata Ayya.
Mukti ingat semua yang Ayya bilang minggu lalu dalam perjalanan dari pengadilan ke galery Gianyar.
“Ya, sekarang kehamilannya masuk tiga bulan atau tadi dokternya bilang sudah masuk minggu ke minggu ke sebelas.”
__ADS_1
“Dan tragedi saya itu delapan minggu lalu,” kata Ayya.
“Jadi saat itu dia sudah masuk minggu ketiga, dan ingin menjebak Mas Mukti biar Mas Mukti bisa bertanggung jawab terhadap bayinya. Atau jangan-jangan itu memang bayinya Mas?” kata Ayya memandang Mukti tajam.
“Kamu tuh ngawur ya Yank. Tiga minggu sebelumnya kita lagi di mana Dan kita ngapain saja?”
“Satu bulan sebelum kejadian itu atau bahkan enam minggu, kan kita lagi di Jakarta kasusnya Vio, juga di Solo. Masak Mas bisa ngehamilin orang jarak jauh? Kirim sper-ma pakai telepati atau lewat email?” Mukti menjabarkan kondisi yang ada pada Ayya yang terlihat emosi.
“Ya kemungkinan seperti itu, dia cari korban buat penanggung jawab,” balas pak Putut.
“Mendengar kasus seperti ini, saya jadi makin semangat. Saya nggak akan mundur dari kasus saya,” kata Windy.
“Perempuan enggak benar, enak saja dia bilang saya yang nggak bisa bikin visum.”
Selesai makan akhirnya semua pulang karena tak ada sidang lanjutan. Di mobil tentu saja Mukti penasaran dengan perkataan Ayya tadi. Karena sejak itu Ayya tetap diam.
“Yank, kamu menduga beneran ya? Mas enggak pernah main sama Saras sama sekali. Kan Mas sudah jujur cuma Vio sama kamu yang pernah Mas cium dan ada satu perempuan yang mencium Mas. Cuma itu doang.” kata Mukti pelan sedikit putus asa.
__ADS_1
Ayyanya bergeming. Kenapa Ayya diam ya?