
“Kamu dari mana aja Sayang? Mama dari tadi nyariin kamu!”
“Maaf Ma. Aku lupa kabarin Mama. Tadi begitu sampai aku tidur Ma. Semalam kan aku nggak bisa tidur, Mama tahu itu. Jadi begitu sampai aku langsung cas hp di kamar, terus aku tidur. Mas Mukti langsung kerja.”
“Pas bangun ada pegawai yang bikin rujakan Ma, aku ikut makan rujak terus kami pergi pakai mobil bak. Mas Mukti nggak tahu aku keluar. Aku ingat sudah di jalan HP-ku masih di kamar.”
“Memangnya kamu pergi ke mana?” tanya Ambar.
“Iseng aja Ma, ikut mobil bak ke Gianyar lalu balik lagi. Enggak ngapa-ngapain. Abis bete nungguin mas Mukti kerja. Aku belum kerja karena laptopku kan masih di studio di Uluwatu. Jadi ya udah daripada bengong aku ikut mobil kanvas aja. Pulang-pulang aku dimarahin mas Mukti karena pergi nggak pamit,” Ambar tertawa terbahak mendengar kejujuran Ayu yang memang sangat polos.
Cerita Ayu dan Mukti sama persis, yaitu saat ditelepon Ayu sedang tidur lalu selanjutnya Ayu pergi tanpa Mukti tahu ke mana jadi Ambar tak curiga kalau Mukti dan Ayu berantem.
Mukti lari tergopoh-gopoh dari luar, dia masih tak percaya Ayya marah begitu tiba di galeri karena ada perkataan temannya yang menohok Ayya. Di depan pintu kamar Ayya dia mendengar bahwa Ayya sedang bicara dengan mamanya. Mendengar Ayya yang sedang bicara dengan Ambar tentu saja Mukti agak sedikit tenang.
__ADS_1
“Mama masak apa Ma?” kata Ayu pada Ambar.
“Nggak masak lah, masih di rumah mama Vonny kan,” kata Ambar.
“Oh iya Ma, kapan Mama balik ke Solo?” tanya Ayu.
“Sore ini rombongan Jember pulang. Mungkin besok papa dan Mama serta eyang Angga akan kembali ke Solo. Tapi belum beli tiket sih. Lihat situasi dulu,” jawab Ambar.
“Mama kan juga harus urus kantor papa termasuk Sri yang sudah standby di Solo.”
“Iya sudah di Solo, tapi kan Mama harus atur serta harus belanja barang buat kantin karena memang kantinnya belum berdiri sama sekali. Nanti Mama dan Sri yang akan atur. Sekarang dia baru rekrut pegawai sesuai dengan feel yang dia mau. Agar bisa jadi team yang bagus.
Mukti mengetuk pintu kamar Ayu. Kalau tak di ketuk bisa sampai malam pun mamanya tak akan selesai ngobrol dengan Ayya.
__ADS_1
“Sebentar ya Ma, kayaknya mas Mukti ngetok kamar deh,” ucap Ayya.
“Kata Mukti dia sedang banyak teman-temannya datang?”
“Iya Ma teman-teman SMA-nya datang. Entah janjian atau kebetulan. Tadi sih pas aku pulang main mereka ada di depan semua,” jawab Ayya sambil membuka pintu lebar-lebar karena tadi pintu tak di tutup hanya terbuka kecil saja.
“Ya sudah kamu urusin teman-teman Mukti dulu. Mama cuma takut kamu kenapa-kenapa aja karena kamu nggak bisa dihubungi dan kamu nggak langsung lapor saat tiba di bandara seperti biasa.” kalimat panjang komplain Ambar kembali keluar.
“Iya Ma, maafin aku ya Ma. Seriusan aku lupa karena saking senangnya sudah kembali lagi ke Bali,” kata Ayu.
“Iya,” jawab Ambar.
“Salam buat papa dan eyang Angga ya Ma. Juga eyang Soetiono yang hari ini baru mau pulang ke Jember.”
__ADS_1
“Ya, nanti Mama sampaikan salamnya,” kata Ambar.