
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Pak, Bu silakan makan dulu, Ayya juga belum makan. Kalau di IGD kan memang belum terdaftar sebagai pasien yang dapat makan. jadi ini makan dulu,” kata Mukti saat dia kembali dari kantin.
“Kamu bisa duduk Ya?” tanya Mukti.
“Bisa makan sendiri atau mau disuapin Bude atau aku?” tanya Mukti tanpa ragu.
“Enggak aku bisa duduk kok. Aku makan sendiri aja.”
“Bude dahar dulu nanti sakit,” kata Ayya pada bu Ati.
“Papa makan dulu Pa, jangan telat. Pakde Saino juga,” Ayya malah sibuk menyuruh semua makan.
“Mas ini ponselnya. Tadi kak Adel telepon,” Ayya memberikan ponsel Mukti yang layarnya telah gelap sejak tadi. Tanpa sadar Mukti menerima ponselnya dan memasukkan ke saku.
“Nanti aku telepon kak Adel. Paling dia mau tanya kamu karena mama langsung lapor mas Sonny dan kak Adel. Tadi mas Sonny sudah marahin aku,” jawab Mukti.
Akhirnya mereka pun makan. Selesai makan pak Saino, Bu Ati dan Wayan menemani Mukti menunggu hasil reaksi obat suntik di tubuhnya Ayya.
“Saya periksa dulu ya, saya lihat dulu,” kata suster yang datang memecah obrolan bude Ati dan Ayya. Mukti, pak Saino dan Wayan menunggu di luar ruangan.
“Saya harus lapor ke dokter,” saat 3 jam berlalu suster datang untuk melihat kondisi tubuh Ayya.
“Baik Suster.”
“Sudah ya Mbak, saya akan laporkan,” pamit suster pada Ayya,
“Bapak ditunggu di meja dokter,” seorang perawat memanggil Mukti untuk menerima penjelasan dokter mengenai observasi kali ini.
“Ayo Pak kita ke ruangan dokter biar bapak juga dengar apa kata dokter,” Mukti mengajak Wayan menemui dokter.
__ADS_1
“Pakde, saya titip Ayya ya,” kata Mukti.
“Iya Mas Mukti enggak apa-apa,” jawab Pakde Saino.
“Bapak hasilnya sudah keluar, dia tidak memberi reaksi negatif sehingga saya resepkan obat ini untuk diminum ya. Nanti langsung ditembus. Malam ini tak perlu minum karena sudah ada dari obat suntik tadi. Mulai besok pagi ini minum sampai habis,” kata dokter sambil menuliskan resep.
“Obat salepnya teruskan yang tadi sampai habis.”
“Kapan kami bisa konsul ke dokter kulit?”
“Begitu sudah kering atau lusa juga boleh konsul ke dokter kulit dan kecantikan. Ini saya berikan rujukannya ke bagian kulit dan kecantikan saja. Yang tadi tidak usah karena tadi rujukannya ke dokter kulit dan kela-min. Lebih tepat ke yang baru saja,” jelas dokter.
“Baik Dok terima kasih,” jawab Wayan.
“Terima kasih Dokter,” kata Mukti.
“Pak saya ke bagian administrasi dulu belum bayar semuanya baru kita pulang ya,” pamit Mukti.
“Sudah Bapak ikut kamu saja,” jawab Wayan.
“Enggak perlu Pak. Bapak ke tempatnya Ayya aja. Nanti saya kembali kok yang penting saya bayar sekalian ke apotek.”
“Ya okelah kalau begitu Papa tunggu di tempatnya Ayya.”
“Iya Pak, saya ke depan,” kata Mukti, dia pun lalu bergegas untuk ke bagian administrasi rumah sakit.
Saat menunggu obat Mukti baru ingat tentang Made dan Wayan temannya. Tadi dia sudah nanya tapi Wayan lupa belum cerita akhirnya Mukti langsung menghubungi Made.
“Bagaimana hasil dari CCTV mu?”
“Kamu bukan tadi sudah nyuruh Wayan buat tanya dan juga aku ceritakan semuanya ke Wayan.”
__ADS_1
“Maaf tadi dia mungkin lupa cerita ke aku karena papanya Komang Ayu datang sehingga lupa.”
“Kalau begitu aku kirimkan aja rekaman CCTV-nya ke kamu tadi sudah aku pindahkan ke ponsel. Daripada kamu tahu versi aku, lebih baik kamu lihat langsung aja agar lebih valid,” kata Made.
“Oke aku tunggu. Terima kasih ya sebelumnya,” jawab Mukti.
“Kamu sedang di mana?” tanya Made.
“Aku masih di rumah sakit, ini baru nebus obat dan baru bayar uang administrasi. Malam ini Komang boleh pulang kok. Cuma enggak boleh kena air dan lukanya cukup lebar di bagian dada dan perutnya.”
“Astagfirullah,” kata Made dia tak percaya Komang Ayu sampai luka seperti itu.
“Mungkin kalau yang perempuan bisa lihat, kalau aku kan tadi dilarang dokter. Dokter hanya bilang lukanya cukup lebar.”
“Wah itu enggak main-main kalau sampai seperti itu.”
“Mama juga sangat marah. Mama tadi telepon karena dia bilang feelingnya enggak enak. Segitunya cinta mama ke Komang Ayu sampai bisa ada perta;ian batin sekuat itu.”
“Mama bilang mau datang cuma dicegah oleh Komang, alasan Komang Mama lagi sibuk jadi enggak perlu datang. Kan dua minggu lagi pernikahan Mas Sonny. Komang bisa meredam Mama untuk tidak langsung terbang ke sini.”
“Kalau enggak lagi sibuk pernikahan Mas Sonny pasti Mama langsung terbang. Dia marah sama aku karena anaknya sampai terluka seperti itu. Aku nggak bisa bayangin kalau lukanya di wajah Komang Ayu. Aku bisa digorok mama,” kata Mukti.
“Tadi mas Sonny sudah marahin aku juga. Aku yakin sebentar lagi Aksa, papa dan eyang akan nyusul telepon aku. Tadi kak Adel telepon tapi aku pas pergi beli makan malam.”
“Semua cinta pada Komang rupanya,” kata Made.
“Kamu tahu sifat Ayya sejak awal aku cerita kan? Dengan sifatnya itu semua jatuh cinta padanya,” jawab Mukti.
“Maaf aku stop dulu. Aku tunggu videonya. Nama Ayya sudah dipanggil. Obatnya sudah selesai,” Mukti pamit menyudahi pembicaraan karena obat sudah selesai.
Apa ya reaksi Mukti kalau tahu rekaman video CCTV?
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.
__ADS_1