CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SATU LEVEL DENGAN TULISAN WELCOME DI KESET


__ADS_3

Ayya melihat Mukti sudah terlelap. Dia melepaskan diri pelan-pelan lalu dia bangkit dari kasur. Memakai pakaian dalam atas juga kaos training tebal. Baru dia akan lanjut tidur lagi. Tentu dia tak ingin besok pagi Mukti bangun duluan dan melihat dirinya masih belum berpakaian.


Ayya sudah merasa lebih enak. Dia sudah tidak menggigil. Dia keluar kamar dan segera memanaskan teh jahe panas yang tadi sudah dibuat Mukti.


“Loh Mbak Ayu, ada apa?” tanya bu Pinem yang kebetulan malam itu bangun hendak mengambil air putih.


“Saya demam Bu. Ini saya lagi panaskan jahe gula merah yang tadi mas Mukti buat,” sahut Ayya.


“Kenapa nggak bangunin saya?” tanya bu Pinem.


“Nggak apa-apa Bu. Waktu kami baru pulang mas Mukti yang bikinin aku jahe gula merah. Lalu sekarang dia tidur jadi aku panaskan sendiri,” kata Ayya.


“Sudah nggak apa-apa, tinggal saja. Saya nggak apa-apa kok. Sebentar lagi juga selesai. Saya nggak ingin terlalu panas, saya enggak menunggu sampai mendidih, biar diminum enak. Jadi tinggal saja. Sebentar lagi saya juga masuk koq,” ujar Ayya.

__ADS_1


Bu Pinem akhirnya masuk kembali ke kamar. Tadi dia kehabisan air putih di dalam kamarnya sehingga mengambil air putih sebanyak satu botol.


Ayya masih membayangkan mengapa Lingga seperti itu pada dirinya. Mengapa Lingga tak punya keberanian melarang tantenya melakukan hal tersebut, setidaknya kalau dia melarang tentu dia tak akan kena tuduhan berkomplot. Tapi karena dia membiarkan kejadian itu berarti dia kena tuduhan berkomplot.


 Ayya menyesal karena dirinya, Mukti jadi kehilangan temannya lagi. Tapi Ayya yakin siapa pun perempuan pendamping Mukti, pasti akan dapat perlakuan seperti itu. Karena semuanya bukan sebab siapa dirinya, tapi karena Muktinya! Jadi siapa pun perempuan yang akan jadi istri atau kekasih Mukti tetap akan mendapat nasib yang sama.


Ayya menyeruput jahe gula merah yang hangat, diambil roti yang baru tadi dia beli. Roti sobek coklat dan keju yang memang selalu ada di meja makan. Diambil roti keju dan mulai memakannya karena rupanya dia juga lapar.


Ayya menuliskan list belanjaan yang belum dia beli di supermarket dan meletakkan beberapa lembar uang merah. Dia letakkan di meja dapur dengan tulisan bila dia kesiangan bu Pinem belanja saja.


Ayya kembali ke kamar dan masuk dalam selimut, dia peluk Mukti erat. Dia merasa nyaman dan tertidur hingga keesokan harinya.


“Kenapa kalian bisa seperti ini?” tanya orang tua Lingga yang diminta Lingga untuk datang saat dirinya ditangkap polisi tadi.

__ADS_1


“Ini bukan kesalahan aku biyang ( ibu dalam bahasa Bali ),” kata Lingga.


“Ini karena Aunty,” jelas Lingga.


“Kamu sekarang nyalahin aku? Kalau kamu tadi nggak bilang sebel dengan Mukti yang tak mau menoleh sama sekali padamu, aku nggak akan berbuat begitu. Aku ini ngebelain kamu!” bantah Sekar.


“Aku sebel pada Mukti jawabanku IYA. Tapi tidak bikin pembalasan seperti ini. Kan sudah aku ceritain ada orang yang nyiram kopi pada Komang, langsung sekarang di penjara,” kata Lingga.


“Itu kan karena bermasalah. Komang jadi luka bakar. Kalau es kan enggak akan berbahaya,” Sekar membela diri.


“Tetap saja dia terluka batinnya. Memangnya sudah pasti kalau es itu tidak membuat dia sakit?” kata ibunya Lingga. Ibunya Lingga itu sepupunya Sekar. Jadi Sekar bukan adik kandung,  tapi adik sepupu. Itu sebabnya selisih usianya cukup jauh dengan ibunya Lingga. Dia lebih sepantaran usianya dengan Lingga.


“Ajik tidak mau tahu. Ajik tidak mau bantu kamu untuk mengirim pengacara. Karena dari media viral saja nama Ajik sudah cemar. Lebih baik biarkan saja kamu urus sendiri karena ini kesalahan kalian berdua yang berbuat semena-mena terhadap orang.”

__ADS_1


“Gadis itu tidak bersalah apa pun. Kenapa jadi kamu siram seperti itu? Yang tidak menggubris kamu kan si lelaki. Kamu tadi cerita tunangannya masih mau ngobrol, masih senyum. Kenapa kamu bukan siram pada si lelaki? Kenapa kamu balas pada tunangannya? Itu kesalahan kalian!” kata ajik atau ayahnya Lingga.


“Lagian kalian itu perempuan yang tak ada harga dirinya. Kalau laki-laki tidak mau memandang kamu, itu karena dia tidak suka kamu! Kenapa kamu marah? Berarti kamu memang tidak perlu dianggap oleh dia. Terlebih sekarang kamu melakukan tindakan seperti ini. Ya sudah di mata mereka kamu itu sama seperti keset. Semanis apa pun senyum kamu, sebagus tulisan welcome di keset. Tak ada artinya sama sekali!” kata biyangnya Lingga.


__ADS_2