CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERTEMU SONNY DAN CLEAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Aku sudah di bandara, Papa dimana?” Mukti menghubungi Abu. Mereka tak bisa berangkat ke Jogja bareng karena Mukti berangkat dari Denpasar, sedang Abu dari Surabaya.



“Papa baru sampai bandara juga,” jawab Abu.



“Lho, dimana? Aku di pintu keluar Pa,” balas Mukti.



“Koq pintu keluar? Papa baru tiba di bandara Surabaya, ya masih di pintu keberangkatan lah,” balas Abu sambil memperlihatkan ticket dan KTP miliknya pada petugas bandara.



“Ya ampun, kita miscommunication Pa. Aku sudah sampai bandara Jogja maksudku,” jawab Mukti sambil nyengir.



“Owalaaaah. Kamu mau cari hotel duluan atau nunggu Papa?”



“Nunggu Papa di bandara aja lah. Aku ngopi aja di sini. Nanti begitu landing Papa telepon ya?” pinta Mukti.



“Ya.”


\*\*\*



Mukti dan Abu menuju hotel di tengah kota karena menurut info dari  Made, rumah Sonny yang dia tinggali ada di tengah kota, bukan di Pajangan ~ Bantul yang Made pernah gunakan dan Mukti juga pernah menginap disana saat Made tinggal di Jogja.



“Kirim pesan ke mas Sonny Pa, biar dia tahu kita ingin bertemu dengannya,” saran Mukti ketika merekabaru saja duduk di taksi.



‘*Papa dan Mukti ingin bertemu. Ada hal urgent*,' Abu mengirim pesan pada Sonny.



Sampai mereka tiba di hotel, pesan itu hanya dibaca oleh Sonny. Tak direspon. Mukti yakin wlau papanya yang minta tetap Sonny belum bisa tergerak hatinya.



‘*Kami sudah di Jogja. Dimana kita bisa bertemu urgent*,' demikian tulis Mukti. Mukti yakin Sonny tak akan mungkin tak merespon bila dia menuliskan sudah tiba di Jogja. Beda dengan pesan yang papanya kirim. Hanya bilang ingin bertemu saja.


__ADS_1


‘*Saya tunggu jam 03.00 sore ini di cafe Selaras alamatnya jalan Sosrowijayan*,’ pesan balasan akhirnya masuk dari nomor Sonny. Walau Mukti mengernyit alis saat membaca tulisan itu. Sonny menggunakan kata SAYA buatnya dan papa mereka. Tapi sudahlah. Yang penting sudah di respon.



Mukti dan Abu naik becak ke cafe yang Sonny tetapkan sebagai tempat pertemuan mereka siang menjelang sore hari ini. Ternyata Sonny telah tiba lebih dulu. Satu cangkir vanilla late ice ada didepannya.



Sonny berdiri ketika melihat kedatangan Abu. Sonny tetap hormat pada papanya ketika lelaki itu datang. Sonny mencium punggung tangan papanya, juga memeluk erat Abu. Mukti tahu, biar bagaimana pun cinta Sonny pada Abu tak akan pernah hilang.



Mukti juga tak kalah sopan dia mencium punggung tangan Sonny seperti selama ini Ambar, mama mereka ajarkan. Mukti memeluk kakaknya.



"Maafin aku Mas" kata Mukti jujur.



"Duduk kita bicara aja," jawab Sonny datar. Sonny memanggil pramusaji dan meminta Mukti dan Abu memesan minuman atau bahkan makan siang. Abu dan Mukti memesan kopi panas dan snack basah.



"Ada apa kalian datang ke Jogja?" tanya Sonny, rupanya dia tak ingin membuang banyak waktu berharganya.



“Jadi pertama gini Mas. pertama aku ngucapin mohon maaf.  Aku salah. Aku tahu aku sangat salah." Mukti memulai pertemuan ini dengan kembali meminta maaf. Walau saat pertemuan di Jakarta dia telah minta maaf.



"Iya lalu?" tanya Sonny masih dengan ekspresi datar.




”Yang ketiga, berawal dari sejak eyang Menur menyuruh mama merawat bayi kecil yang baru lahir yang semua orang tahu itu adalah anak Papa dengan ibu kandungku.”



“Yang keempat, dan ini sangat fatal Mas. Aku baru tahu dari mama kemarin. Aku nggak tahu Mas sudah tahu apa belum. Sejak ku kecil dan papa berat sebelah terhadap aku dan Mas Sonny serta Aksa. Mama sudah sering mengadu kepada eyang Mernur. Tapi eyang Menur tidak pernah memarahi atau menegur papa sama sekali.”



Lalu mengalirlah cerita yang satu minggu lalu terjadi antara Mukti dan Ambar hingga pertemuan Mukti dan Abu di hotel Bali. Juga kepulangan Abu ke Surabaya sampai Abu dan Airlangga tak sengaja menangkap BANDIT di rumah Airlangga.



Sonny tak percaya. Bagaimana eyang nan sangat lembut punya sifat demikian keji pada mamanya juga dirinya, Mukti dan Aksa yang jadi korban?



Sonny makin tak percaya kalau selama ini mamanya tahu kalau Menur jahat, tapi tak pernah speak up pada siapa pun. Semua mamanya pendam sendirian.



Sonny bahkan tak percaya eyang Airlangga juga kena tipu eyang Menur dan sekarang akan ngetest DNA tante Laksmi.

__ADS_1



"Papa ingin sekali bicara dengan mama karena selama ini terjadi salah paham mama mengira Papa itu salah, dan Papa selama ini tahunya Mama yang jahat terhadap Mukti. Papa ingin meng-clear-kan masalah ini.” harap Abu.



"Aku tidak bisa menjanjikan kalau aku bisa bicara langsung dengan mama. Karena persoalan begini tidak bisa by phone. Ini harus face to face. waktu aku sedang mepet. Aku sedang super sibuk sehingga tidak bisa terbang ke Bali. Sebaliknya Mama pun tidak bisa ke sini karena Aksa sudah mulai ujian.” jawab Sonny. Intonasinya sudah kembaali menjadi Sonny anak Abu dan kakaknya Mukti. Tak datar seperti awal pertemuan tadi.



“Tentu aku janji mau bantu lebih-lebih dia sudah menikam ibuku. Dia juga sudah menikam Ayahku.  Pasti aku mau bekerja sama tapi aku tidak bisa menjanjikan apakah mama bisa kooperatif. Karena kita tahu sendiri mama sudah terlalu sakit.”



“Tapi aku setuju memang semua harus di clear kan. Karena mama dan Papa sama-sama tidak tahu selama 28 tahun ini sudah diadu domba oleh eyang Menur. Untuk saat ini aku belum bisa bergerak. Kalau ikutin emosi sekarang juga aku mau langsung labrak eyang Menur karena mamaku dan papaku disakiti.”



"Tapi kalau ngikutin sesuai petunjuk yang Airlangga, oke aku akan ngikutin arahan eyang Airlangga.



"Benar persoalan seperti ini tak bisa by phone. Itu sebabnya Papa dan Mukti ke sini harus face to face denganmu. Secanggih apa pun alat komunikasi kalau tidak bertemu tentu beda rasanya." Abu senang, putra sulungnya mengerti kalau mereka ternyata hanya korban dari kebrengsekan Menur.



"Benar Pa. Dan kita harus kepala dingin mengatasi iri kalau kita salah langkah bisa *bubrah*," kata Sonny.



"Jadi sementara itu yang bisa aku berikan.  Untuk yang lain aku belum bisa. Sebenarnya sekarang juga pengen langsung lari ke Mama. Tapi bagaimana?  Pokoknya kita sudah tahu selama ini kita semua salah pengertian," ujar Sonny membuat Mukti bisa tersenyum bahagia karena sekarang dia kembali memiliki kakak yang sangat dia sayangi dan dia banggakan.



"Apa eyang Menur sengaja nitip Mukti saat bayi agar ngerusak rumah tangga papa? Lalu nanti dia cari perempuan yang bisa dia setir atau dia kendalikan?" ujar Sonny melempar wacana apda Mukti dan Abu.



"Kenapa saat Witri atau ibunya Mukti sekarat yang dia kasih nomor eyang Menur ke bidan? Kapan eyang Menur tukeran nomor ponsel? Ada perjanjian apa antara mereka berdua? Kenapa bukan nomor orang tuanya atau nomor papa yang Witri berikan ke bidan? Bukankah dia nipu semua orang kalau bayi yang dikandungnya ANAK PAPA?" Ujar Sonny lagi.



Mukti dan Abu jadinya harus berpikir menyingkap pertanyaan Sonny kali ini.



"Papa akan selidiki hal itu," janji Abu.



 "Papa harap dengan pertemuan ini kita bisa lebih waspada. Semoga mama bisa memaafkan Papa karena yang Papa terima mamamu yang sering tidak adil pada Mukti, maka  Papa membela Mukti."



"Papa ingin semuanya guyub rukun. Eyang Menur bilang mama cuma manis di depan Papa. Jadi mohon maaf Papa sama sekali nggak pernah punya rasa benci atau marah sama mamamu. Dia perempuan satu-satunya dalam hidupku," kata Abu.



Akhirnya ketiganya berpisah setelah makan malam.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya  yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK  yok



__ADS_2