
“Mungkin satu atau satu setengah jam lagi mereka akan sadar. Mungkin bisa lebih cepat.” kata dokter.
“Apa itu akan berpengaruh untuk kondisi keduanya?” tanya Abu.
“Tidak Pak, begitu mereka sadar mereka langsung sehat kok seperti sebelum pingsan atau sebelum tidur. Jadi tenang saja tidak akan mengganggu aktivitas mereka. Kalau mereka punya kegiatan malam ini, itu juga tidak akan terganggu,” kata dokter tersebut.
“Baik Dokter, terima kasih,” kata Abu tenang.
“Sekarang Dokter mau ke mana? Tapi kita minum dulu, atau dokter mau makan siang?” tanya Abu.
“Kebetulan saya baru makan. Jadi minum saja boleh,” kata dokter tak menampik tawaran minum dari Abu.
Ambar mempersilakan dokter mencicipi sirup jus markisa dari Medan juga brownies yang memang Ayya buat kemarin pagi.
Dokter ini juga yang menangani Mukti saat dibawa ke rumah sakit ketika pingsan dulu pada saat Mukti depresi ditinggal Ayya.
“Rasanya saya tidak akan menunggu mereka sadar ya. Saya masih ada janji lain,” kata sang dokter ketika ada panggilan masuk.
“Baik Dokter. Dokter mau ke mana? Silakan bilang saja sama sopir yang siap mengantar. Maaf saya tidak bisa antar karena saya akan bicara dengan anak-anak,” kata Abu.
“Tidak apa-apa pak Abu. Itu saja saya sudah bersyukur langsung diantara kembali ke tempat pertemuan saya berikutnya,” kata sang dokter yang memang sangat sibuk.
Angga memandang Mukti dan Ayya yang tertidur lelap dia tak percaya nasib keduanya seperti ini. Angga memang tak meninggalkan kamar Ayya saat Ambar dan Abu keluar mengantar dokter setelah selesai memeriksa.
“Semoga ke depannya kalian selalu rukun dan bisa berjodoh panjang. Tidak seperti aku. Selalu berpegang tanganlah agarlah kalian kuat menahan badai,” bisik Angga. Dia selalu mendoakan yang terbaik untuk semua cucunya.
__ADS_1
“Belum bangun Pa?” tanya Abu melihat Angga akan keluar dari kamar Ayya.
“Belum. biarkan saja mereka tidur dulu agar lumayan fresh,” jawab Angga.
“Made, Wayan ini sirupnya,” Abu menawarkan sirop pada dua tamu yang menginap di rumahnya.
“Ya Om,” jawab MAde dan Wayan hampir bersamaan.
“Tadi Sonny bilang, eh maaf Adelia yang bilang. Kalau Sonny sudah menyuruh orang-orangnya menyelidiki dua mahasiswamu,” kata Ambar pada Made.
“Mereka sedang menyelidiki latar belakangnya. Baik keluarganya, maupun keseharian mereka itu seperti apa. Apakah benar-benar polos seperti dugaan kita selama ini atau mereka artis pemain watak.”
“Kita lihat CCTV-nya sekarang atau nunggu mereka sadar?” tanya Abu.
“Tunggu mereka sadar saja, biar lebih enak. Kasihan kalau tokoh utama ditinggal. Kita tahan dulu satu jam masa nggak sabar sih nunggunya?” kata Angga. Lalu Erlangga atau Angga memanggil ibu Parman.
“Kamu gorengkan lumpia yang saya bawa. Masih ada kan?”
“Masih Eyang. Tapi bukannya Eyang tidak boleh banyak gorengan ya? Itu sudah dibuatkan brownies kukus sama Mbak Ayu loh,” kata bu Parman.
“Kan lumpianya nanti buat Made dan Wayan. Nggak apa-apa lah saya nyobain satu,” kata Angga. Pasti saja alasan agar bu Parman menggoreng lumpia seperti keinginannya.
Ambar dan Abu hanya tersenyum melihat usilnya eyang Angga emang kemarin brownies kukus ini dibuat oleh Ayya untuk eyang sehingga tak terlalu banyak gorengan.
“Eyang curang ya kita yang buat alasan,” kata Made. Dia pun mengambil brownies kukus.
__ADS_1
“Ini brownies kukus kesenangannya Pram,” ucap Made sambil menggigit kue kesukaan anaknya itu.
“Nanti kalau kamu pulang ke Bali, Tante akan minta Ayu buatkan untuk Pram beberapa loyang,” kata Ambar.
“Wah enak sekali,” sahut Wayan.
“Kalau tahu, aku tadi bilang saja ya anakku juga suka. Biar ikut dibuatkan.”
Mereka tentu saja tertawa dengan candaan Wayan.
“Anakmu itu kan anaknya Komang,” kata Made.
“Benar Komang paling senang dengan Elang dan Puspa anakku,” kata Wayan.
“Kalau sudah bertemu mereka, pasti semuanya dilupakan.”
“Benar. Aku juga sadar itu. Dia kalau ke Made tak terlalu dekat,” sahut Made.
“Mungkin ada rasa cemburu karena ibunya Made itu kan cinta mati sama Mukti,” jawab Ambar.
“Bisa jadi seperti itu,” kata Made lagi.
“Kalian ini aneh, jodoh kalian muter-muter kayak nggak ada orang lain lagi saja,” ejek eyang Angga.
“Benar Eyang. Mereka malah jadi tukeran jodoh seperti itu,” kata Wayan.
__ADS_1
“Bukan jodoh lah. Pasangan hidup. Kalau jodoh itu sehidup semati. Kalau kami kan nggak. Aku dan Mukti sama-sama hanya sesaat saja. Vio dengan Mukti sesaat aku dan Pricilla juga sesaat. Walau cinta aku dan Mukti benar-benar tulus tapi mereka yang aneh,” jawab Made.