
“Ini enggak salah rumahnya?” bisik Putri pada Lukas saat mereka sampai di gerbang mansionnya Ariel.
“Kan aku sudah bilang pemiliknya punya 3 atau lebih rumah sakit besar. Dia juga punya beberapa apotek. Lalu sekarang suami anaknya itu punya banyak usaha di Bali. Ibu mertuanya punya banyak villa di Bali, lalu adiknya itu pematung internasional. Kalau yang pemilik Rumah Sakit ini bapak, anak, sama istrinya itu semuanya dokter.”
“Cuma mereka enggak sombong aja kayak elo,” kata Lucas. Carlo memang langsung membawa Komang Ayu ke rumah Ariel
Di depan pintu gerbang satpam langsung bicara.
“Mbak Komang Ayu dari tadi dicariin pak Mukti. Dia bolak-balik telepon tanya Mbak sudah pulang atau belum. Ibu Ambar juga tanya seperti itu. Tadi mereka pesan begitu Mbak sampai rumah, Mbak suruh telepon dan saya juga suruh laporan ke mereka,” kata satpam penjaga gerbang pintu depan sebelum dia memencet tombol untuk membukakan pintu.
“Iya nanti saya telepon, ponsel saya mati jadi harus saya charge,” kata Ayya beralasan.
“Bapak telepon aja saya sudah sampai rumah. Bilang ke Pak Mukti dan mama ya,” pinta Ayya.
“Iya mamanya Non dari tadi ketakutan nyariin Non enggak pulang-pulang,” jawab satpam.
“Iya Bapak langsung telepon aja ya ke nomornya mama,” kata Komang Ayu.
“Ayo masuk,” ajak Ayu begitu pintu terbuka secara otomatis.
“Sebegitu takutnya mereka kamu enggak cepat pulang,” kata Carlo.
“Tadi aku sudah bilang ke mama mau pulang sehabis belanja. Tapi kan kita makan dulu, jadi mama khawatir masa belanja koq lama banget. Sedang mereka tahu, aku paling malas muter-muter mall buang waktu. Aku lebih suka manfaatin waktu sebaik mungkin,” jawab Ayya.
“Keluarga kaya bukannya biasanya enggak perhatian ya sama anak-anaknya?” tanya Lucas.
“Ha ha ha, mama super care, kami di Bali dia di Solo aja tiap jam makan tanya kami makan apa? Menunya seimbang enggak. Bahkan saat mas Mukti ujian semester di Paris, mama terbang buat ndampingin. Terus dia ke London ndampingin mas Sonny.”
“Enggak semua orang kaya jadi lupa anak. Kalau yang punya iman, mereka sadar anak itu amanat Allah. Jadi mereka akan jaga walau sudah menikah sekali pun.”
__ADS_1
Putri iri pada kehidupan Komang Ayu yang penuh cinta dari orang sekitar. Sementara dia yang hidup dengan orang tua kandung tak pernah di sayang seperti itu.
“Aku enggak mampir ya,” kata Carlo tahu diri.
“Iya sorry banget aku juga enggak bisa terima tamu, selain packing buat berangkat besok pagi. Aku juga mau bikin isi burger buat sarapan adik-adikku besok. Adik-adikku juga besok sore pulang ke Surabaya,” jawab Ayya.
“Kamu tuh udah kayak gitu masih masak. Padahal beli jadi kan bisa,” potong Lucas.
“Beli jadi itu tak ada cinta di dalamnya. Ini request-nya adik-adik. Kadang request-nya eyang, siapa aja yang request pasti aku masakin kok. Kalau mereka suka sama masakanku, itu lebih dari segalanya. Kami enggak memandang segalanya bisa dibeli dengan uang. Karena cinta kami ke semua keluarga itu di atas segalanya,” jawab Komang Ayu dengan tersenyum.
“Benar-benar perempuan idaman ya kamu itu,” kata Lucas memuji dengan jujur.
“Ya kalau ada yang mengidamkan diucap Alhamdulillah aja,” kata Komang Ayu dengan senyum manis.
“Kayaknya nyindir yang depan nih,” kata Lucas sambil tertawa.
“Yeee, aku sudah ngomong duluan kok,” kata Carlo.
“Oh gitu,” kata Lucas.
“Wah cuma gue nih yang enggak tahu. Kirain elu enggak berani maju perang,” tukas Lucas lagi.
“Langsung maju perang kok,” kata Carlo.
Carlo menurunkan Komang Ayu di pintu masuk rumah.
‘Jarak pintu masuk rumah ke pagar aja sudah sangat jauh,’ kata Putri dalam hatinya.
“Terima kasih ya. Sampai ketemu lagi entah kapan,” kata Komang Ayu.
__ADS_1
“Nanti kalau gue ke Bali, kita janjian ya?” pinta Lucas.
“Boleh aja. Tapi bulan depan selama 3 bulan aku di Solo,” jawab Komang Ayu.
“Wah, jadwal gue di Solo. Kalau Carlo lokasinya di Cimahi Bandung,” kata Lucas senang.
“Kalau begitu nanti tulis pesan aja biar bisa telepon. Aku kalau langsung telepon kadang pas ribet enggak bisa angkat,” jawab Komang dari luar mobil. Saat itu Lucas memang turun karena dia pindah posisi ke depan duduk sebelah Carlo.
“Kamu dari mana aja Sayang? Bikin mamamu dan Mukti enggak tenang?” Baru aja Komang Ayu turun, eyang Angga langsung tanya tentu Lucas dan Carlo mendengar dengan jelas. Apalagi Putri yang memang fokus pada Komang.
“Aku abis belanja Eyang,” jawab Ayya sambil salim pada eyang Angga. Dengan lembut Angga mengusap kepala Ayya.
“Mamamu sama Mukti sudah kalang kabut nyariin kamu,” lanjut Angga.
“Kayaknya aku enggak bawa kabur sendok mama atau cangkirnya Mas Mukti deh Yang. Kenapa mereka nyariin aku?” canda Komang Ayu yang membuat Angga langsung tertawa terbahak mendengar candaan cucunya tersebut.
“Kamu tuh Eyang ngomong serius malah diajak bercanda,” protes Angga. Ayya menuntun Angga masuk ke rumah.
“Lebih enak bercanda kok Eyang, biar Eyang awet muda,” jawab Ayya.
“Perempuan sekaya itu masih bisa masak dan enggak sombong ya,” kata Lucas.
“Dan dia tidak malu bekerja sebagai penjaga cafe,” kata Carlo.
“Orang kaya baru atau orang tenar baru, memang beda sama yang sudah sejak lahir kaya. Mereka enggak kaget dan enggak sombong,” kata Carlo menyindir Putri.
Komang Ayu langsung mengolah dagingnya dia buat untuk isi burger tentu dia beri bumbu yang sangat nikmat dan dia bentuk dengan ketebalan yang mantap. Besok pagi tinggal dipanaskan dengan roti dan sayurannya juga saos dan keju.
Ponsel tetap belum dia nyalakan, Ayya masih malas bicara dengan Mukti atau Ambar. Dia tak mau menunjukkan kekecewaannnya ke Ambar karena telah membuang waktunya di mall. Yang pasti satpam juga eyang Angga pasti sudah laporan bahwa dia telah tiba di rumah.
__ADS_1