
“Lebih baik kamu ceritakan awal kejadian sampai saat ini. Bagaimana perkembangannya?” kata Angga yang sejak tadi banyak diam.
“Siang itu aku mau makan. Ayya sedang pergi dengan Sri ke pasar Klewer. Terakhir aku telepon dengan dia saat dia telah sampai di pasar, hampir jam sebelas siang saat itu. Karena dia pergi maka dia nggak antar makanan ke pameran. Aku ajak Wayan untuk makan siang berdua. Wayan bilang kita bareng Made yang saat itu sedang memberi arahan kepada anak mahasiswa dari Jogja yang sedang magang. Aku pun setuju.
“Made bilang makan di cafe tempat dia ketemu para mahasiwi saja. Karena dia sudah ada di kafe. Maka aku dan Wayan pun menuju cafe tempat Made.”
“Aku, Wayan dan Made duduk satu meja. Karena saat kami datang Made pindah ke meja kami. Empat mahasiswi di meja lain. Lalu yang tertinggal dua mahasiswi yang belum pulang di meja lain. Sekali lagi aku tegaskan, kami tidak satu meja.”
“Aku makan bertiga. Tiba-tiba aku tersadar sudah ada dalam kamar bersama salah satu mahasiswa yang tadi ada di cafe. Aku tidak tahu di mana Made juga Wayan. Saat itu entah bagaimana aku dan dia sama-sama menginginkannya. Tidak ada kata-kata atau rayuan kami langsung melakukannya saja. Aku tak ingat Ayya bahkan keluarga sama sekali. Hanya itu. Aku juga tidak tahu kalau ponselku mati. Sama sekali aku tidak tahu. Dan seingatku aku hanya melakukan satu kali lalu tak ingat apapun lagi setelah minum air kemasan dalam kamar itu.”
“Aku bangun sudah berada di samping perempuan tersebut. Dia belum bangun waktu itu. Aku langsung membersihkan diri lalu pakai baju. Aku nyalakan ponselku kaget ada panggilan sangat banyak dari mama, papa eyang maupun Ayya. Dan aku baru sadar aku bangun di hari yang berbeda setelah melihat tanggalan di ponselku kalau itu sudah hari Minggu.”
__ADS_1
“Aku bingung. Aku matikan lagi ponselku. Aku baru sadar apa yang harus aku katakan pada Ayya aku tak pulang semalaman tanpa berita padanya? Tapi akhirnya saat siang aku nyalakan ponsel. Aku mau bicara dengan Wayan dan Made mengapa bisa terjadi seperti ini. Saat ponselku nyala, bertepatan dengan panggilan Ayya masuk.”
“Ayya tanya aku di mana. Aku langsung jawab aku sedang di ruang pameran. Padahal aku masih di kamar bersama perempuan tersebut yang sudah bangun dan sedang menangis. Aku suruh dia diam karena aku terima teleponnya Ayya.”
“Saat itulah Ayya bilang dia ada di ruang pameran. Dia tunggu aku dalam hitungan kelima. Ya aku nggak bisa sampai ke sana dengan cepat wong aku saja belum tahu posisi aku saat itu ada di mana. Dan di mana mobilku.”
“Akhirnya aku menghubungi Wayan dan Made. Ponselnya Wayan belum nyala ponselnya Made nyala dia cerita formasinya dia juga sama seperti aku. Dia tidur dengan salah satu perempuan dan HP-nya juga baru nyala ada panggilan banyak termasuk dari Ayya juga dari mama. Kami nggak ngerti siapa yang menjebak. Tapi aku dan Made sama nasibnya. Wayan belum aku ketahui saat itu.”
“Dan aku sudah bilang sama anak itu sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menikahi dia. Karena sama sekali nggak kenal.”
“Sampai saat ini kami belum mendapat keputusan bagaimana selanjutnya. Tapi perempuan itu setuju tak ada masalah lanjutan antara kami. Sekarang kami hanya menyelidiki siapa dalangnya dan apa motivasinya. Aku bahkan tak mau bicara dengan dia hanya berdua dan aku tak mau menyimpan nomor teleponnya. Kami tak mau bicara apa pun lagi. Tepatnya aku tak mau. Bukan aku sudah untung mendapatkan dirinya, AKU RUGI BESAR. Kerugianku kehilangan kepercayaan Ayya dan keluarga besar Lukito.”
__ADS_1
“Kenapa kamu nggak bilang sejak awal? Kalau kamu bilang sejak hari Minggu pagi kamu bisa kasih perempuan tersebut pil untuk penunda kehamilan sehingga dia tidak mungkin hamil karena pil hanya bisa bila belum 72 jam sejak senggama, artinya 3 X 24 jam saja.”
“Kalau saat ini itu akan sulit ini sudah hari ke-5. Sekarang kita nggak bisa minta tolong Adelia karena nanti pasti langsung ketahuan. Kita harus cari orang lain agar anak perempuan tersebut mau disuntik agar tidak hamil. Kesalahan kamu satu, kamu tidak langsung bilang sama Papa?” ujar Abu.
“Kamu lebih pintar dari siapa pun. Mamamu sudah menekan kalau ada apa-apa jangan ngomong Mama karena kamu nggak langsung cerita. Sekarang mau bagaimana kalau sampai dia hamil?” kata Angga dengan penuh penyesalan.
“Maafin aku Eyang. Aku benar-benar ingin mencoba menyelesaikan masalahku sendiri. Aku tak tahu ada dampak video yang membuat semua bocor sebelum aku selesai memecahkan masalah ini.”
“Sekarang akhirnya rekaman itu sampai ke Ayu, bagaimana kamu menceritakan ke Ayu? Kalau waktu Papa dengan Witri tidak ada rekaman dan memang kami nggak ngapa-ngapain saja mamamu sudah sangat sakit dan tak bisa memaafkan. Kalau ini jelas kamu dan dia making love mau kasih alasan apa ke Ayu?”
Mukti hanya bisa menangis dia tak percaya nasibnya fatal seperti sekarang Mukti yakin Ayya tak akan mungkin lagi mau kembali apalagi jelas-jelas video tersebut bukan video editan tapi memang video yang nyata dia memang melakukannya.
__ADS_1