
“Dari pagi banyak telepon masuk, aku cuma jawab kita kemungkinan datang sore atau malam karena aku nggak tahu kamu bangun jam berapa.” Made melaporkan apa yang dia dan Wayan dapati.
“Tadi aku sama Wayan berpikiran kita datang saja langsung tanpa nungguin kamu bangun. Tapi ingat perintah pak Abu semalam bahwa kita nggak boleh lepas dari bodyguard, jadi aku mau tanya kamu dulu karena kan nggak enak langsung calling papamu,” jelas Made selanjutnya.
“Iya juga sih, tapi memang tugas kita ngapain saja? Kan hari ini para delegasi dari beberapa daerah mulai packing untuk pulang kan? Kita sebagai panitia belum ngurusin apa-apa sih. Paling mereka tanya-tanya saja,” kata Mukti.
“Kita kan juga nggak ngurusin delegasi Bali, kita bukan ketua atau anggota delegasi Bali. Kita kan panitia, beda jalur,” kata Mukti lagi.
“Ya beberapa cuma tanya prosedur saja, sama surat kelengkapan dari panitia saja sih. Ya sudah berarti hari ini kita santai,” kata Wayan.
Ayya tak banyak bicara dia hanya mendengarkan Wayan dan Made serta Mukti berdiskusi masalah pameran. Mukti, Made dan Wayan memutuskan habis makan Wayan dan Made akan mengambil semua barang mereka dari mess kontingen dan tinggal di rumah Abu sampai mereka kembali ke Bali nanti. Sedang Mukti minta waktu untuk bicara dengan Ayya.
__ADS_1
“Mau tambah Mas?” tanya Ayya. Dia lihat di piring Mukti masih ada sisa nasi tapi lauknya sudah habis.
“Iya yang garang asemnya saja yang ditambah,” jawab Mukti. Ayya membuka satu bungkus garang asem lagi sesuai permintaan Mukti.
Mukti pun menghabiskan nasinya dengan lahap. Dia suka ikan atau ayam di bumbu garang asem seperti ini. Kebetulan kali ini bu Parman membuat yang dari ikan.
Mobil lama mereka digunakan oleh eyang Angga dengan pak Parman. Eyang Angga pergi sejak tadi sebelum Mukti bangun.
Memang di Solo sini Abu tidak membeli banyak mobil seperti ketika di Bali dulu. Cukup satu mobil untuk dirinya, satu mobil untuk Ambar dan satu mobil lama dari Jakarta dulu yang digunakan oleh eyang Angga. Hanya itu. Yang lainnya tidak ada lagi.
__ADS_1
Saat di Bali dulu mobilnya banyak, tapi kalau diperlukan nanti bisa digunakan oleh usaha Sonny. Kalau sekarang buat apa? Lebih banyak tak terpakai bila banyak mobil. Daripada seperti itu lebih baik tak usah beli mobil. Sedang Aksa tentu saja tak mau menggunakan mobil, tak mau diantar ke sana kemari, sedang untuk bawa sendiri dia belum boleh walau sudah mahir mengemudi. Jadi Aksa lebih senang dengan motornya saja.
“Sampaikan salamku untuk rekan-rekan delegasi Bali ya. Tapi besok kan kita masih ketemu karena mereka kan nggak akan cepat pulang. Pasti packingnya lama.”
“Dan aku juga harus urus barang-barang pribadiku sendiri untuk dibawa pulang di packing menuju Bali,” kata Mukti. Tentu saja return barang dari pameran ini semua nanti laporannya ke Ayya. Mana yang keluar, mana yang tidak laku, semua itu laporannya nanti tentu ke Ayya.
“Oke aku pamit dulu ya,” Wayan pamit pada sepasang manusia yang terlihat tegang saat dia hendak tinggal.
“Hati-hati. Tetap jangan asal minum atau makan walau di mess kontingen Bali,” pesan Ayya.
“Siap Nyonya. Aku juga sudah trauma. Aku dua kali lho kena, tidak seperti kalian. Untungnya aku tidak dijebak dengan perempuan. Maaf bukan apa-apa. Kalau Mukti ada kamu, pasti akan ada masalah atara kalian tapi kalian belum ada ikatan resmi dan belum ada anak. Made kan untungnya tidak ada perempuan lain. Kalau aku kena, bagaimana nasib istri dan anak-anak aku? Kalau sampai terjadi seperti itu, walau itu adalah jebakan. Tapi tentu saja istriku tak akan memaafkanku,” ucap Wayan.
__ADS_1
“Itu yang aku rasakan. Sulit untuk memaafkan, walau tahu itu adalah jebakan,” kata Ayya dengan tegas. Mukti hanya diam. Dia tahu sebentar lagi bom akan meledak begitu Made dan Wayan pergi. Karena memang mereka akan menyelesaikan permasalahan itu berdua.