CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
GAJI SESUKA HATI


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Tumben Ma masak rawon,” kata Abu. Ambar bukan tak bisa masak rawon, tapi ada satu bumbu yang sulit didapat dengan kualitas bagus. Jadi dia malas.



“Anak wedok yang masak,” jawab Ambar.



“Enak nih,” puji Angga jujur.



“Enak banget,” jawab Abu setuju dengan papanya.



“Alhamdulillah kalau pada suka,” Ayya bersyukur Angga dan Abu suka dengan masakannya.



“Tadi pagi juga kami sarapannya enak banget. Aksa sampai muji-muji terus,” kata Angga.



“Memang disini sarapan apa?” tanya Ambar.



“Itu Ma, kan ada nasi sisa banyak. Lalu ada sate kambing banyak, juga ada bumbu kecapnya jadi aku bikin nasi goreng kambing. Cuma bisa gitu aja sih Ma, aku masaknya cuma asal campur aja,” kata Ayya.



“Enak kok,” jawab Angga.



“Mumpung ingat,  eyang susunya yang sudah dibawa ke sini belum? Besok pagi jadi aku nggak bingung nyariin.”



“Sudah, tadi Mama sudah bawain. Barang di rumah lama sudah kosong kok. Tinggal beberapa barang besar yang harus dibawa pakai mobil bak. Nanti biar pak Parman cari sewaan mobil bak, sama dua orang yang buat angkat-angkat. Semoga malam ini semuanya bisa selesai diangkat jadi besok bisa kembaliin kunci ke pemilik rumah,” Abu yang menjawab pertanyaan Ayya.



“Iya kalau dapur sudah kosong,” kata Ambar.



“Jadi semua pasti sudah sampai sini.”



“Oh aku belum cek Ma, nanti aku cek biar besok pagi aku sudah bisa bikinkan su5u buat Eyang. Asal Mama kasih tahu takarannya dulu, karena semua orang kan enggak sama takarannya. Ada yang suka kental, ada yang suka gula, ada yang macam-macam lah,” jawab Ayya.



“Iya nanti Mama ajarin takarannya,” jawab Ambar tak keberatan.



“Makasih ya Ma sebelumnya,” kata Ayya.



“Lho harusnya Mama dong yang terima kasih. Mama yang dibantu.”



“Ya pas aku di sini aja Ma. Kalau enggak ya enggak bisa bantu kan?” kata Ayya.


__ADS_1


“Tadi si Aksa mintanya Ayu di sini aja,”  Angga membeberkan niat cucu bungsunya.



“Nanti aku enggak gajian dong Eyang? kasihan lah aku kalau enggak gajian,” kata Ayya, semua tertawa mendengar itu.



\*‘Enak aja dia disuruh di rumah, wong dia aku yang ambil buat nemenin aku ke mana pun,’ \*kata Mukti dalam hatinya.



‘*Aku tidak rela walaupun seandainya mama rela menggaji sesuai dengan gaji yang aku berikan*.’



‘*Eh memang aku akan ngasih gaji dia berapa? Aku belum pernah ngomong soal gaji sama dia. Aduh aku lupa*!’



‘*Tapi kan emang dia enggak bakal aku gaji seperti pegawaiku. Suka-suka aku aja lah*,’ Mukti terus saja bergumam dalam hatinya.



Gimana enggak suka-suka? Orang kemarin aja dia udah belikan laptop belikan handphone, di tambah uang cash entah berapa yang dimasukin ke tabungan Ayya. Orang kaya mah bebas. Suka-suka Mukti aja.



“Wah ini Aksa pasti nyesel kalau tahu kita makan siangnya heboh gini,” ujar Angga.



“Memang biasanya dia pulang sekolah jam berapa Eyang?” tanya Ayya.



“Biasa Aksa pulang jam 04.00 karena sekolah kan sampai jam 03.00. tapi dia suka ada kegiatan. Jadi pulangnya magrib,” kata Ambar.



“Biasanya dia cuma sarapan pagi dan makan malam aja, siang jarang ikut makan di rumah.”




“Besok pagi mau bikin apa?” tanya Ambar.



“Enggak tahu Ma. Aksa sukanya apa?” tanya Ayya.



“Dia apa aja suka sih,” kata Ambar.



“Yang spesifik lah Ma, bagaimana mau masak kalau petunjuknya seperti itu.”



“Kalau bihun goreng Ma? Kayanya ada bahan bihun goreng tuh. Atau mie goreng? Tadi aku beli mie goreng sama sayuran serta sea food nya lengkap deh Ma.”



“Waduh nasi goreng seafood atau mie goreng seafood paling enak tuh buat sarapan,” kata Abu.



“Ya udah nanti aku lihat bahannya pagi-pagi ya Pa. Kalau banyak nasi, aku bikin nasi goreng seafood. Tapi kalau enggak ada ya aku bikin bihun goreng atau mie goreng ya,” janji Ayya.



\*‘Ni anak malah pamer masak kan, bikin aku tambah gendut entar makan mulu,’ \*kata Mukti.


__ADS_1


Ini aja rawon Mukti nambah terus. Rawon  memang Mukti paling suka. Kalau sedang di Bali Mukti pasti akan ke rumah makan Jawa dan cari rawon buat makanan yang dia pesan.



“Kamu tadi dapat KLUWEK bagus?”



“Iya Ma, karena aku lihat kluwek, maka aku langsung inget masak rawon.  Untung  Bude Parman jago nyari kluwek tua. Kalau kluweknya enggak tua tentu rawonnya kurang sedap rasanya malah terasa pahit,” kata Ayya.



“Iya nek kluwaknya enggak tua memang enggak enak,” kata bude Parman.



\*‘Saat anak gadis sekarang sibuk dengan make up, kamu malah sibuk pilih kluwek Yu. Gadis lain kalau pun masak pasti milih bumbu racik instan yang banyak tersedia di pasar,’ \*Angga punya nilai plus buat Ayu.



“Wah Papa tambah gendut nih kalau kamu tiap hari masakin buat makan pagi dan makan malam,” kata Abu.



“Memang Papa mulai kapan lagi ke kantor Pa?” kata Mukti.



“Sekarang tanggung kan mau ke kantor. Lalu minggu depan kan mau berangkat ke Jakarta dulu. Habis dari Jakarta lah. Papa baru ngantor. Jadi makan cuma pagi dan malam aja kalau di rumah.”



“Kapan-kapan kalau pas aku libur, aku ke sini deh pas hari Sabtu dan Minggu. Papa kan libur. Jadi aku sempat masakin,” Ayya lupa ongkos Bali Solo tentu mahal. Ayya juga lupa selama dia bekerja dengan Mukti pasti akan sering di bawa ke Solo bila Mukti kerja, kecuali bila Mukti ke Solo dalam rangka liburan.



“Tapi enggak tahu sih aku kapan liburnya. Nanti kalau aku sudah di Badung aku tiap hari juga pasti masak karena kan aku tinggal sama papaku,” kata Ayya. Dia membayangkan hidup bersama papanya.



“Apa jam kerjamu bisa pulang pergi ke rumah dan ke galeri?”  tanya Abu.



“Bisa lah Pa, kalau Pak Muktinya pas pulang ke rumah kan aku bisa pulang ke rumahku,” jawab Ayya dengan polosnya.



“Mukti kan lebih banyak di Denpasar. Galeri Bandung tuh jarang dia kunjungi.”



“Oh gitu, aku pikir lebih banyak di Badung.” Ada nada kecewa di suara Ayya mengetahui Mukti jarang di Badung.



“Enggak, dia lebih banyak di Denpasar dan biasanya tinggalnya di Uluwatu di Villa kami, karena rumah Denpasar sudah kami jual,” kata Ambar.



“Wah sudah enggak ada rumah di sana lagi Ma?”



“Rumah enggak ad,a tapi Villa masih banyak,” kata Ambar.



“Ya enggak apa apa lah. Kalau pas di Badung aja aku pulang.” Ayya sedih dia membayangkan akan segera pulang untuk tinggal bersama papanya.



\*‘Andai aku sekarang berhenti kerja enggak masalah sih. Kan aku sudah tidak harus cari uang buat ibu. Aku bisa hidup seadanya bersama papa. Nanti aku bicarakan dulu dengan papa deh. Aku memang mau bersama papa aja enggak usah kerja,’ \*kata Ayya dalam hatinya.



‘*Sekarang yang penting aku bekerja sebaik mungkin agar tidak mengecewakan mas Mukti. Habis itu aku resign*.' tekad Ayya. Dia ingin segera resign dan hidup bersama papanya.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.



__ADS_2