
“Mau ngapain Mas?” tanya Ayya.
“Sebentar Mas mau ambil washlap,” kata Mukti gugup. Dia segera keluar kamar sementara mereka dan masuk ke kamar Ayya, mencari washlap di sana untuk melakukan kompres pada dahi Ayya karena tubuh tunangannya sudah mulai panas.
“Kenapa lagi Dek?” Adelia bertanya pada Mukti.
“Maaf Kak ganggu,” jawab Mukti. Tadi dia memang menghubungi Sonny apakah Adelia bisa diganggu. Ternyata Adelia saat itu belum tidur jadi bisa menerima teleponnya Mukti.
“Ayu panas Kak,” kata Mukti. Dia menyebut nama Ayu padahal biasanya kalau Mukti menyebutkan pasti Ayya. Mungkin agar enak didengar oleh Adelia saja.
“Dia juga menggigil,” lanjut Mukti.
“Tadi sudah aku kasih obat penurun panas sebelum aku tahu badannya seperti sekarang tinggi panasnya. Tadi dia baru bersin-bersin saja.”
“Kalau dia sudah minum obat, sabar sebentar. Kalau bisa kalian skin to skin. Itu memang lebih cepat. Tak usah peduli omongan orang lain. Kalau merasa tak enak bisa saling punggung atau Ayu memeluk kamu dari belakang. Jangan kamu yang memeluk misalnya. Biar Ayu yang memeluk kamu dari belakang itu akan lebih efektif. Terserah bagaimana enaknya kalian lah. skin to skin itu memang lebih cepat dan efektif.”
“Kita jangan berpikir negatif. Jangan berpikir tentang pornonya. Jangan berpikir kotornya, tapi berpikir untuk kesehatan dan Kakak yakin kalian bisa kok.”
“Baik Kak aku akan coba. Jadi untuk sementara ini tak perlu ditambah lagi obatnya?”
“Untuk sementara ini tak perlu kamu tambah obat. Cukup obat tadi. Nanti 4 jam lagi kamu beri atau kalau minum obat yangnya sudah sejak tadi ya 3 jam lagi kamu kasih.”
“Baik Kak. Aku akan tanyakan apakah dia mau metode tersebut,” jawab Mukti. Tentu dia tak bisa memaksa Ayya.
__ADS_1
“Aku pagaikan kompres juga di keningnya,” kata Mukti.
“Ya nggak apa-apa. itu bagus,” jawab Adelia.
Mukti mencoba menjelaskan pada Ayya, tentang saran yang diberikan oleh Adelia. Ayya pun setuju seperti yang Adelia bilang. Dia membuka kaos dan pakaian dalam atasnya lalu mendekat pada Mukti yang sudah melepas kaos tidurnya juga. Ayya memeluk Mukti dari belakang.
Mukti memegang erat tangan Ayya yang memeluknya. Dia sangat kasihan gadis tersebut malah sakit saat ini. Mukti merasakan tubuh Ayya menggigil.
“Yank … Yank,” panggil Mukti.
“Hhmm,” Jawab Ayya.
“Ke rumah sakit saja ya. Kamu nanti bahaya kalau seperti ini terus,” saran Mukti.
“Bagaimana mau sabar kalau senapanku tiba-tiba siap tembak, kamu peluk dengan kondisi seperti ini,” keluh Mukti.
“Yah senapannya saja yang nakal. Orang aku nggak ganggu dia,” protes Ayya.
“Makanya bagaimana kalau kita ke dokter saja biar aku nggak kalang kabut seperti ini,” ucap Mukti jujur. Dia bingung menenangkan senapannya.
“Mas nggak mau tolongin aku ya?” kata Ayya sedih.
“Kalau Mas balik badan boleh nggak?” tanya Mukti.
__ADS_1
“Mau ngapain?” jawab Ayya.
“Meluk kamu lah!”
“Peluk saja?”
“Cium dikit lah!”
“Cium saja?”
“Iya cium dan peluk saja.” jawab Mukti.
“Nggak boleh lihat, nggak boleh megang yang lain ya,” Ayya memberitahu syaratnya.
“Mas nggak akan lihat. Mas cuma lihat wajah kamu sama peluk kamu. Swear!”
“Oke saat sebelum balik badan, sebelum peluk, Masnya harus sambil tutup mata!”
Mukti pun mengikuti syarat yang Ayya berikan. Dia balik badan dengan menutup erat matanya, agar Ayya tahu bahwa dia benar-benar tidak melakukan kebohongan.
Lalu dia peluk erat tubuh Ayya dan menempelkan dad4 bertemu dad4.
Mukti hanya mengecup kening Ayya, juga matanya dan hidungnya. Dia malah tak berani menyentuh bibir tunangannya. Dia yakin kalau bibir mereka bertemu pasti akan berlanjut lebih jauh dari itu. Makanya dia tahan untuk mengecup bibi Ayya, karena senapan di bawah sudah siap menembak.
__ADS_1
‘Ini ujian pertamaku. Sama-sama tak menggunakan baju, memeluknya tapi tak boleh lebih dari itu. Jadi lebih baik aku menghindari mencium bibirnya,’ batin Mukti. Dia berupaya untuk tidur. akhirnya tanpa sadar Mukti tidur lebih dulu.