CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
HANYA OBSESI


__ADS_3

“Mas makan ini dulu untuk ganjel sambil menunggu sarapan siap.”


Mukti menerima satu bungkus pulu unti yang diletakkan di piring kecil bersama sendok kecil juga.


“Terima kasih ya Yank, kamu sudah?” Mukti menerima piring kecil berisi satu bungkus pulu unti. Tentu saja ada beberapa orang yang mendengar termasuk pakde Pras dan pakde Pram.


“Belum, habis ini aku akan ambil,” jawab Ayya.


“Ambil satu sekarang, bawa sini,” perintah Mukti.


Tanpa membantah Ayya pun mengambil satu bungkus lagi pulu unti.


“Duduk,” perintah Mukti meminta Ayya duduk di sebelahnya. Sofa panjang tempat Mukti duduk memang masih kosong.


Kembali Ayya hanya bisa patuh. Mukti membuka daun pisang pembungkus pulu unti.  Dia makan satu suap dan sesudah itu dia menyuapi Ayya.


“Enggak ah Mas. Aku malu banyak orang,” tolak Ayya.


“Duduk diam dan makan. Kalau enggak aku laporin ke papa. Kamu sejak tadi ngurusin orang saja enggak ngurus diri sendiri,” omel Mukti.


Dengan menunduk Ayya pun terus menerima suapan dari Mukti.


Dari ruang belakang Sri melihat bagaimana kelakuan Mukti pada Komang Ayu di tengah keluarganya.

__ADS_1


Aksa dan eyang Angga saling melirik dan tersenyum penuh arti. Aksa mengangguk.


“Loh kok Mas nyuapin pacar aku?” kata Aksa setelah mendapat anggukan dari eyang Angga.


“Kamu punya pacar enggak diurusin. Dia belum makan malah sibuk sama orang. Nanti kalau dia pingsan aku yang repot kan?” Mukti tentu saja bisa menjawab teguran Aksa.


“Kenapa Mas yang repot bila pacarku pingsan?”


“Ya jelaslah. Dia asistenku, pasti aku yang ketempuan salah, sama orang-orang dibilang aku enggak perhatian pada pegawai aku,” kata Mukti.


“Ya sudah, sekarang aku yang suapin sini,” kata Aksa.


“Sudah … sudah, aku enggak mau,” jawab Ayya. Dia tak enak, habis disuapin Mukti, masa terus disuapin sama Aksa. Apa pandangan orang terhadap dia nantinya.


“Ingat jangan capek-capek,” Mukti membiarkan Ayya pergi, daripada tetap di sana ada Aksa.


“Iya.”


“Aku merasa kamu banyak sekali berhutang padaku,” tegur Sri.


“Berapa? Aku bayar,” kata Komang Ayu sambil mengeluarkan kantong bagian dalamnya yang kosong. Dia tahu Sri bukan minta bayar uang.


“Cie  yang sudah kaya, sudah banyak uang sehingga berani menanyakan jumlah hutang,” goda Sri.

__ADS_1


“Ha ha ha enggak begitu juga sih, kan lihat kantongku kosong,” balas Komang Ayu.


“Aku tadi lihat perhatian bapaknya Pak Mukti ke kamu itu bukan perhatian seorang bapak pada pegawai anaknya. Juga perhatian pak Mukti ke kamu itu beda. Pasti ada sesuatu yang lebih antara kalian,” tegur Sri.


“Enggak, aku nggak ada apa-apa sama pak Mukti. Mana aku berani menerima cintanya dia kalau dia cinta sama aku. Aku cuma pegawai yang miskin.”


“Kamu tuh kurang apa sih? Teman SMA yang kamu ceritakan tadi malam aja super tajir kamu tolak. Lalu Carlo juga kamu tolak. Dan pak Mukti seperti itu kamu bilang tak mungkin dia cinta ke kamu,” Sri tak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.


“Kalau Arjun yang kamu maksud, sebenarnya aku juga suka. Tapi belum cinta sih. Cuma aku memang langsung pendam perasaan pada Arjun itu.  Aku tak mau perasaan itu berkembang lebih besar karena memikirkan bagaimana ibunya pernah melabrak temanku.”


“Kita bukan hidup sehari dua hari menjadi menantunya. Kalau tiap hari aku ditekan tentu rumah tangga aku dan Arjun akan tidak baik-baik saja.”


“Kalau masalah Carlo, aku enggak bisa terima dia. Kamu bayangin baru satu kali ketemu ketika berkenalan, datang kedua dia langsung menyatakan cinta. Dia belum tahu sifat aku, tiba-tiba dia bilang begitu. Gampang banget kan? Segampang dia beli gorengan.”


“Aku enggak mau pernikahan itu dengan landasan sekonyong-konyong emosi sesaat. Nanti saat dia tahu sifat jelekku dia langsung mundur. Hancurlah rumah tangga kami. Kalau belum ada anak enggak apa-apa, kalau sudah ada anak bagaimana?”


“Belum lagi sebagai artis dia pasti akan banyak kena cinlok seperti kasus beberapa artis sekarang ini. Aku enggak berani mempertaruhkan rumah tangga aku dengan kondisi seperti itu. Bayangin istri artis-artis itu cantik aja dia bisa diselingkuhi.  Lebih-lebih aku cuma perempuan bodoh yang tidak cantik.”


“Kamu terlalu merendah,” ujar Sri.


“Enggak Sri. Aku malah berpikir sangat realistis. Aku tak mau menerima cinta orang yang terlalu tinggi dan terlalu mudah bilang cinta. Itu bukan cinta namanya, itu hanya obsesi semata.”


__ADS_1


__ADS_2