
“Ma, tadi kue dimakan semua enggak sama Ayu?” bisik Mukti pada Ambar tapi tetap saja Laksmi mendengar.
“Habis kok dimakan Ayu,” jawab Ambar.
“Serius Ma? beneran enggak bohong kan?”
“Benaran habis, Tante saksinya,” kata Laksmi.
‘Wah benar di absen. Untung tadi aku makan semua bukan makan punya mama. Untung tadi Sri mengingatkan aku,’ batin Ayu mendengar tante Laksmi bicara. Dia bisa menerka pasti Mukti melakukan introgasi pada Ambar.
“Ayo Mas keluar duluan. Ma aku duluan ya, mau taruh baju kotorku di kamar,” pamit Ayya memotong penyelidikan Mukti selanjutnya.
“Iya.”
“Bude, Tante, Mbak, aku duluan,” pamit Ayya.
“Iya Nduk,” kata para Bude dan Laksmi.
“Nanti kita bikin foto resmi berdua ya,” pinta Mukti saat mereka sedang berjalan pelan ke arah kamarnya Ayya.
“Baju kotor Mas mana?” tanya Ayya, dia sengaja mengalihkan pembicaraan dari foto barenga yang Mukti minta.
“Tadi Mas titip ke Aksa, sudah ditaruh di kamar,” jawab Mukti.
__ADS_1
“Oh ya sudah. Takutnya kalau ditinggal di kamar rias tertukar atau hilang.” jawab Ayya.
“Enggak kok. Mas sudah suruh taruh di kamar tidur,” jawab Mukti.
“Di ruang resepsi kita foto dulu sebelum make up mu berantakan ya. Kita foto resmi pakai kamera jangan pakai ponsel,” Mukti kembali mengulang permintaannya tadi.
“Buat apa?” tanya Ayya.
“Buat ganti wallpaper Mas.”
“Kan wallpaper-nya sudah bagus ada mama juga,” jawab Ayya keceplosan.
“Kok kamu tahu?” Mukti tak percaya Ayya tak pernah komplain dengan wallpapernya selama ini.
Memang wallpaper ponsel Mukti adalah dia bersama dua bidadari hatinya yaitu Ambar dan Ayya saat tunangannya Sonny dulu. Terjawab sudah ya readers yang penasaran sama wallpappernya mas Mukti.
“Kalau mau ganti harus yang bertiga juga, aku enggak mau foto kita berdua yang dipakai,” protes Ayya.
“Kalau enggak mau foto kita yang berdua, ya foto kamu sendirian,” jawab Mukti sambil tersenyum simpul.
“Bodo ah,” jawab Ayya kesal. Dia mengetuk pintu kamarnya. Rupanya Sri baru mulai make up wajah karena kan dia tidak repot ganti pakaian adat seperti yang Ayya dan Mukti kenakan. Dia juga tak bertugas menerima tamu.
“Aku duluan ya Sri, karena aku akan menemani Mas Mukti menerima tamu keluarga di bawah.”
__ADS_1
“Iya enggak apa apa, nanti aku ke bawah,” jawab Sri.
Tiba di bawah Mukti langsung mengajak Ayya ke tempat lokasi pemotretan tamu. Mereka melakukan sesi foto berdua, ada juga yang Ayya sendiri maupun Mukti sendiri.
Ayya sampai tak enak hati karena foto berduanya sangat-sangat di luar dugaan. Mukti mengekspresikan semua perasaannya tanpa malu di depan fotografternya.
Semua gaya bahkan Mukti yang sengaja atur. Ada foto dia sedang mencium kening Ayya, ada yang sedang mencium pipi Ayya. Dan foto akrab lainnya.
“Kamu sering ambil kami berdua secara candid ya,” bisik Mukti pada seorang fotografer.
“Baik pak Mukti,” kata orang tersebut.
Ayya sejak tadi diam karena dia jadi malu sendiri. Hari ini benar-benar kejutan tak terduga. Tadi pun di lift Mukti benar-benar melakukan serangan magrib. Bukan serangan fajar ya.
“Kamu cantik banget,” begitu Mukti ucapkan lirih membuat Ayya tersipu dan menunduk.
Melihat Ayya menunduk Mukti langsung memegang dagunya dan mencium kening serta hidungnya juga kedua pipinya. Tentu saja Ayya tak bisa berontak karena mereka hanya berdua di lift.
Di tambah kejadian barusan, foto dengan para fotografer tapi Mukti yang menjadi pengarah gayanya, bukan dari fotografer yang atur posisi. Tentu saja semua membuat Ayya tambah tak menentu.
Mas Mukti enggak mengungkapkan dengan kata-kata kalau dia cinta atau sayang sama Ayya, tapi dia langsung bergerak cepat melakukan tindakan.
__ADS_1