CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERTEMU MAMA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Hari ini Mukti akan mengambil semua barang sisa miliknya setelah minggu lalu dia dan Abu mengosongkan barang Abu dan Airlangga yang tersisa di rumah keluarga Abu di Bali. Barang di rumah Surabaya milik Abu juga sudah dikosongkan sebelum Abu menyerahkan semua kunci mobil, BPKB dan sertifikat rumah.



Semua sudah Abu berikan pada Ambar. Mukti harus segera membereskan barang di rumah ini. Dibantu pak Kusno dan mbok Ambar yang masih berjaga di rumah ini Mukti bergegas, dia tak ingin kehadirannya di rumah ini memicu amarah Ambar.



“Den, ini teh es tanpa gula seperti biasa,” mbok Darmi mengangsurkan segelas air teh pakai es tanpa gula seperti kesukaan Mukti yang mbok Darmi ingat.



“Maturnuwun ya Mbok” Mukti menerima teh yang mbok siapkan lalu kembali meneruskan packing.


\*\*\*



“Apa khabar Mbok?” Mukti mendengar suara Ambar, mamanya. Titisan dewi yang menjaga dirinya sejak dia lahir. Perempuan mulia buat dirinya dan Abu.



 "Eh Nyonya," begitu selanjutnya Mukti dengar kata  mbok Darmi seperti gugup menjawab sapaan Ambar. Mobil Mukti sedang digunakan pak Kusno membeli kardus tambahan sehingga Ambar tak melihatnya. Mukti yakin bila mamanya melihat ada mobil miliknya tentu Ambar akan mengurungkan niatnya masuk rumah ini.



"Baik Nyonya, saya baik," sahut mbok Darmi terbata.



"Bapak bilang, dia udah kosongin barang dia, saya mau ambil barang-barang Aksa Mbok," kembali Mukti mendengar suara Ambar mamanya.



‘*Aku tak salah dengar. Itu memang suara mama. Aku bukan sedang berhalusinasi*.’ Mukti yang mendengar suara mama nya dia keluar dia langsung bersimpuh dan memeluk tulang kering Ambar.



"Maafin aku Ma. Maaf. Maafin aku Ma. Aku benar-benar minta maaf karena kelahiranku mama jadi terluka. Karena kelakuan dengan Vio mama tambah terluka. Maafin aku Ma," Mukti bahkan sampai mencium kaki ibunya. Buat dia Ambar adalah ibunya.



"Berdirilah. Aku enggak ada urusan sama kamu," kata Ambar datar.



Mbok Darmi yang melihat itu menjadi trenyuh. Dia sangat tahu luka hati majikannya. Dia yang tahu bagaimana majikannya nangis hingga matanya bengkak, tapi selalu tersenyum pada semua anaknya juga pada suaminya.



Pak Kusno yang masuk membawa banyak kardus yang baru datang, kaget melihat drama anak dan ibu itu.



"Tapi maafin Ma. Aku tobat. Semua harta sudah aku kembalikan. Aku sadar aku tak berhak atas harta keluarga Lukito." Mukti masih bersimpuh tapi tak mencium kaki Ambar lagi.



"Aku udah maafin kamu dengan catatan : *Jangan pernah lagi lihatin muka kamu karena mukamu itu membuat aku terluka Aku nggak benci kamu karena kelahiranmu. Enggak demi Allah aku enggak benci kamu. Tapi muka kamu mengingatkan aku pada Menur dan Abu*," Ambar mengeluarkan uneg-unegnya.



"Aku marah karena kelakuanmu pada Sonny yang berkaitan dengan Vio, itu pasti. Tapi aku enggak benci kamu karena kelahiranmu! Bedakan itu!"



"Terserah mau kamu anggap apa. Yang pasti semua kehancuran hidupku DISEBABKAN SIFAT JAHAT MENUR!"



"Sejak kamu kecil, aku selalu mengadu pada Menur ( Ambar bahkan tak menyebut eyang di depan nama Menur ) aku bilang aku terluka dengan perlakuan Abu."



"Tapi Menur enggak pernah menegur papa mu."


__ADS_1


"Kalau dia tak menegur Abu, lalu dia lapor Airlangga, biar Airlangga yang negur aku masih bisa mengerti. Tapi semua tak Menur lakukan." Ambar duduk. Karena sejak tadi dia berdiri dan membuatnya pegal.



Lalu semua uneg-uneg yang selama ini Ambar pendam dia muntahkan dan Mukti tak percaya mendengarnya.


\*\*\*



"Aku minta waktu ya Ma, aku juga mau kosongin barangku daripada Mama buang."



"Santai aja, Mama juga lagi mau kosongin di kamar Aksa."



"Ya udah aku bantu Ma," akhirnya Mukti membantu mengosongkan kamar Aksa.



Sampai malam barang di kamar Aksa dan Mukti baru benar-benar kosong kecuali furniture dan alat dapur. Sementara barang milik Aksa dalam kardus, tetap ditinggal di sana agar tak bikin penuh di Villa.



Pada Mukti, Ambar juga memberitahu bahwa rumah itu akan dijadikan rumah singgah atau homestay  buat orang-orang yang biasanya kerja sebulan dapat tiga bulan atau lima bulan di Bali nggak sampai tahunan.



Biasanya pegawai seperti itu memang cari homestay karena bila tinggal di hotel sampai bulanan tentu terlalu mahal. Tapi tapi kalau bayar kontrak rumah tahunan mereka juga rugi. Jadi kalau di rumah singgah berarti mereka bisa bayar bulanan. Mukti berjanji akan memasarkan homestay milik Ambar.


\*\*\*



"Papa di mana ?" tanya Mukti sepulang dari rumah keluarga Lukito.



"Di hotel. Sore baru pulang," kata Abu.




"Ya kesini aja Papa sendirian nggak ada siapa-siapa," jawab Abu.



Tanpa buang waktu Mukti langsung menuju kamar Abu di hotel yang Abu beritahu.



"Ada apa?" tanya Abu penasaran melihat Mukti yang menampilkan wajah bahagia tapi bingung.



"Sejak pagi aku ketemu mama. Bahkan bersama mama hingga habis Maghrib." Jelas Mukti.



"Dimana?" Abu tentu penasaran. Terlebih Mukti bilang dia bersama Ambar seharian dari pagi hingga habis Maghrib.



"Ketemu mama di rumah satu hari penuh karena kami sama-sama packing."



"Mama maafkan aku dengan catatan habis ini aku nggak boleh ketemu mama lagi. Kenapa? Karena wajah aku membuat mama ingat kejinya eyang Menur dan Papa kata mama," jawab Mukti.



"Ada apa dengan eyang Menur?" Abu tentu bingung. Kalau hanya nyuruh merawat bayi Mukti, tentu enggak akan sedalam itu kan luka yang Ambar rasakan?



"Sejak aku lahir mama itu sering mengeluh ke eyang Menur, bukan sejak aku lahir sejak Papa bersikap berat sebelah, atau sejak …  pokoknya sejak dia tahu aku bukan anaknya Papa kali." Mukti malah bingung sejak kapan Ambar mulai mengeluh pada eyang Menur.



"Eyang nggak pernah lapor ke eyang Airlangga. Eyang Menur juga nggak pernah marahin Papa gitu kata Mama Pa."

__ADS_1



"Jadi eyang Menur enggak mau marahin Papa karena takut papa benci eyang Menur lalu hartanya enggak di kasih ke eyang Menur sama tante Laksmi."



"Terus eyang Menur juga enggak mau lapor eyang Airlangga karena kalau eyang Airlangga marah ke Papa, Papa marah juga ke eyang Menur, imbasnya ke eyang Menur juga kan akhirnya?"



"Mama punya bukti bahwa eyang Menur itu otak dibalik kejahatannya tante Imelda sama Vio Pa. Mama punya buktinya. Bahkan mama berani di konfrontasi di pengadilan!"



"Apa?" Abu tak percaya mendengar semua itu.



"Serius Pa. Mama ternyata tahu bahwa sifatnya eyang Menur itu nurun persis ke tante Imelda.  Jadi kita juga harus hati-hati sama tante Laksmi karena kan kemungkinan turun dari eyang Menur juga."



"Astaghfirullahaladzim, Papa enggak nyangka kayak gitu dia. Sampai takut Papa nggak bagi harta ke Tante Lasmi dan tante Imelda. Terus gimana caranya kita dapat bukti itu dari mamamu?" Abu bingung.



Buat Abu, Menur adalah ibu kandung karena sejak ibunya meninggal ketika dia berusia delapan tahun, satu tahun kemudian Airlangga memperkenalkan Menur dia suka pada wanita lembut itu.



Dan satu tahun kemudian, saat Abu berusia sepuluh tahun Menur resmi menjadi ibunya.



"Nah itu kita nggak mungkin kan ngomong ke eyang  Airlangga tanpa bukti?"



"Kita kasih tau info ini ke pengacara kita Pa. Suruh dia cari bukti keterlibatan eyang Menur." Mukti memberi saran pada Abu.



"Iya, akan Papa bicarakan infi ini ke pengacara papa. Dan papa akan kasih tahu eyang Airlangga sedikit kata petunjuk biar dia enggak kaget. Nanti Papa pulang Papa akan kasih tahu ini."



"Papa lagi urus transisi pindah kantor dari Bali ke Surabaya  kalau ada info gini rasanya Papa pending ajalah. Kalau perlu Papa kembali tinggal di Bali dan menetap di villa aja," Abu jadi galau sendiri melihat kenyataan ini.



"Kata mama kemungkinan rumah Surabaya dijual Pa. Terus rumah yang di Bali dibikin sewa bulanan Jadi kalau ada volunteer atau apa dari luar negeri mereka bisa pakai maka tadi aku pindahin barang Aksa. Besok mau mulai di cat biar rapi," Mukti memberi info rencana mamanya.



"Iya Papa juga udah kasihin BPKB-nya mobil yang punya mama sama mobilnya Aksa. Enggak jadi Papa jual. Nanti salah kalau Papa jual."



"Baguslah. Aku juga enggak ke pikir ke sana. Tadi mama pulang ke villa emang nyetir mobil yang biasa mama pakai sih." Mukti kembali memberi info kalau Ambar berkenan menggunakan mobil itu sementara waktu sebelum pindah ke Jogja.



"BPKB kedua mobil itu atas nama Papa. Tapi kan enggak enak aja karena kan biasa mobil itu dipakai mama dan Aksa. Daripada ribut Papa kasih aja ke mama," kata Abu.



"Iyalah Pa. Mama benar-benar hebat ya Pa selama ini dia nutupin semuanya dari Papa dan kita," Mukti sangat mengagumi sosok Ambar untuk dirinya.



"Iya dia wanita terhebat dan nggak akan mungkin digantikan oleh siapa pun kalau buat Papa," kata abu.



"Iya tapi aku sedih Pa. Aku nggak boleh deketin mama semua ini berawal dari eyang Menur Pa.”



Akhirnya malam itu Mukti tidur di hotel bersama papanya bercerita sampai larut malam.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya  yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN  yok


__ADS_1


__ADS_2