
“Kita lanjut ya. Saras menyuruh Andri yaitu pegawainya atau pacarnya bisa juga dibilang seperti, itu berangkat ke Solo untuk mengetahui tentang seluk beluk pameran yang Mukti gawangi. Tanpa diduga ternyata pameran berlangsung di depan cafe saudaranya Andri.”
“Saudaranya Andri adalah satpam di cafe tersebut.”
“Saras menghubungi Silvana di Jogja. Karena sekarang ternyata Silvana itu tinggal di Jogja. Sudah satu tahun katanya. Jadi sebenarnya waktu dia bertemu denganmu 6 bulan lalu di Solo dia sudah tinggal di Jogja tapi mewakili Bali.”
“Saras meminta Silvana mencarikan dua artis yang bisa menjebak Mukti. Silvana kaget mengapa adiknya ingin menjebak Mukti. Entah bagaimana caranya Silvana mendapatkan Karenina dan Ellyandri. Mungkin mereka teman atau di mana pokoknya entah bagaimana mereka bisa dapat orang tersebut yang kebetulan memang akan magang di pameran. Itu sebabnya sejak awal dosennya minta supaya yang menjadi pembimbingnya adalah Mukti. Tetapi oleh Ayu dialihkan ke Made. Ini di luar dugaan tentunya sehingga membuat Silvana tambah bingung bagaimana cara menjebak Mukti.”
“Sebenarnya eksekusinya bukan akan dilakukan hari Sabtu siang tapi akan dilakukan hari Minggu. Mereka akan menjebak Mukti sendirian tanpa Made, hari Minggu. Bukan hari Sabtu. Tapi tanpa diduga Mukti mendatangi Made yang sedang ada di cafe. Maka eksekusi pun dipercepat setelah Karenina lapor pada Andri. Jadi semua itu memang sudah terencana. Cuma untuk besoknya bikan siang itu, tapi karena Mukt isudah datang ke cafe maka eksekusi dipercepat.”
__ADS_1
“Kalian lihat sendiri kan bagaimana Mukti, Made dan Wayan itu tidak sadarkan diri tapi tak ada yang heboh? Jadi begitu Mukti datang semua tamu diusir termasuk dua temannya Karenina dan Ellyandri dengan alasan pemilik cafe tiba-tiba dapat musibah dan semua tamu dimohon pulang, karena cafe akan tutup. Pegawai cafe pun dipulangkan. Tinggal yang terlibat saja. Jadi di cafe tinggal lima pengunjung.”
“Obatnya tidak ditaruh di minuman atau makanan kalian karena mungkin nanti mengakibatkan cita rasanya berbeda atau mungkin jadi larut oleh minyak atau apa. Obatnya itu ditaruhnya di nasi dan seperti yang aku pernah bilang obatnya sama dengan yang papa dulu minum saat dengan Bu Witri, yaitu menjadi halusinasi.”
“Kalian sudah lihat kan video aslinya bahwa saat itu Mukti sama sekali tidak ngapa-ngapain begitu pun Made dan gadis itu juga tidak sepanjang malam ada di situ mereka santai saja kok mereka baru masuk saat Mukti mau bangun.”
“Kalian sudah lihat di video saat diberikan darah bebek di pembaringan Mukti dan Made, jadi jelaskan waktu kemarin kan sudah lihat video aslinya.”
“Aku pernah dengar mereka cari pil anti hamil. Kalau Mas Mukti dan pak Made nggak pernah melakukannya. Buat apa pil anti hamil itu mereka beli dan mereka minum?” kata Ayya tentu dia penasaran karena dia pernah dengar soal itu di cafe waktu Mukti pingsan.
__ADS_1
“Mungkin mereka main dengan orang lain. Saat itu di cafe selain Andri ada satpam, dan dua orang koki. Bisa jadi sambil menunggu mereka mencari kesibukan sendiri dan lupa pakai pengaman. Tapi yang jelas kalau dari Made dan Mukti tidak ada yang melakukan,” jawab Sonny.
“Pantas ya Mas mereka tidak trauma dengan tempat itu, karena mereka memang tidak dinodai oleh Mas Mukti dan kak Made.”
“Apa kedua gadis itu bisa dituntut?” tanya Mukti. Dia tentu geram karena kedua gadis itu telah memperdaya mereka.
“Bisa dan sangat bisa! Mereka akan dituntut dengan tuntutan kerjasama penipuan terhadap kalian. Biar bagaimanapun mereka artisnya,” kata Sonny.
“Sehabis kejadian itu, yaitu Made dan yang lain sadar, CCTV langsung diambil oleh saudaranya Andri dan mereka langsung pulang ke Bali. Itu sebabnya pemilik cafe susah mencari karena si satpam itu rumahnya bukan di Bali. Dia rumahnya di Tangerang dan tak ada yang tahu dia punya saudara di Bali. Itu sebabnya cukup lama aku ngacak-ngacak pemilik cafe untuk mencari bukti tentang CCTV tadi.”
__ADS_1
“Sampai sini jelas ya? Bahwa dalangnya adalah Sarasvati atau Saras. Kalau ini sudah jelas kita akan ganti topiknya lagi,” ungkap Sonny.
“Aku rasa sih, aku sudah jelas Mas. Nggak tahu yang lain,” jawab Mukti.