CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KESEDIHAN PAPA WAYAN


__ADS_3

“Astagfirullah,” kata Made saat mendengar cerita tentang video yang dikirim ke nomor Mukti. Saat itu Ambar dan Ayya mulai tenang juga sudah ada Aksa di rumah.


“Tadi Adelia telepon,” kata Angga, mereka duduk di ruang tengah tentu saja ada Aksa dan Made serta Wayan karena mereka akan berembug masalah yang baru terjadi.


“Adelia bilang sebaiknya Mukti bicara dengan papanya Ayu. Jangan sampai Wayan mendengar atau melihat video tersebut lebih dulu karena takutnya orang ini akan menjelek-jelekkan Ayu agar Mukti tak pernah menikahi Ayu. Tujuannya jelas dia ingin dirinya yang memiliki Mukti entah siapa pun perempuan ini. Setidaknya kalau dia tidak memiliki Mukti, Ayu juga tidak boleh memiliki Mukti. Perkiraan Adelia Wayan pasti akan segera mendapat video ini.”


“Iya Eyang, tadi juga aku sudah berpikir akan menghubungi Papa,”  kata Ayya.


“Tapi aku takut salah cerita,” lanjut Ayya lagi.


“Benar seperti Adel bilang. Lebih baik Mukti dan Mama yang cerita. Nanti biar kamu telepon pakai nomormu. Lalu bilang kita semua sedang kumpul di sini. Biar Mukti dan Mama yang bicara,” usul Abu.


“Itu lebih akurat, bahwa kamu tidak bertindak sendiri dan kamu didukung Mama dan Papa di sini,” kata Abu lagi.


“Iya lebih baik seperti itu. Jadi Papa Wayan tahu bahwa kamu tidak sendirian menanggung beban ini. Ada Mama, Papa juga Eyang. Kalau perlu kita video call saja biar jelas bahwa kami semua mendukungmu,” Angga setuju dengan usul Abu.


“Assalamu’alaykum,” kata Wayan karena Ayya langsung menghubungi dengan nomor ponselnya.

__ADS_1


“Pa pindah ke video call ya Pa, aku mau bicara,” ucap Ayya saat telah menjawab salam Wayan.


“Kok tumben?” tanya Wayan.


“Sudah Papa pindah saja ke video call,” pinta Ayya.


“Pa, ini aku sama Mas Mukti. Ini mamanya Mas Mukti, papanya, eyang dan teman-teman Mas Mukti ada di sini.” Ayu memperlihatkan siapa saja yang ada di sana dengan mengedar kamera ponselnya. Ambar, Abu dan semua tentu memberi senyum dan menangkupkan tangan depan dad4 seakan bertemu langsung.


“Ada apa Ya? Kenapa kamu seperti itu?” Wayan jadi ketakutan ada hal buruk menimpa putrinya.


‘Apa Ayya hamil dan mereka tak bisa datang ke Badung lalu akan menikahkan Ayya tanpa kehadiranku?’


“Assalamu’alaykum Pa,” sapa Mukti ketika menerima telepon dari Ayya.


“Wa’alaikum salam. Ada apa Nak?” kata Wayan dengan hati-hati.


“Pa, Papa tahu kan aku dan Ayya  sudah 3 bulan ini ada di Solo terkait dengan pameran aku?” Mukti membuka percakapan.

__ADS_1


“Dan Papa juga sudah tahu kan kasus waktu Ayya disiram kopi. Kan Papa juga ada di rumah sakit saat itu sama aku,” ucap Mukti.


“Iya, lalu apa hubungannya?” tanya Wayan tak sabar.


“Aku yakin Papa tahu, tiga minggu lalu Ayya kabur dari aku Pa,” jelas Mukti.


“Papa tahu itu, tapi Papa nggak tahu Ayya ke mana,” jawab Wayan jujur.


“Panjang ceritanya Pa. Nanti aku ceritakan lain waktu. Yang penting aku cerita saat ini dulu ya Pa.”


“Ayya itu kabur karena mendapat video aku sedang berbuat buruk Pa. Aku dijebak orang, tanpa sadar melakukan hal itu. Dan semua tahu di sini aku tidak bohong. Ayya juga sudah sadar hal tersebut bahwa aku memang tidak tahu apa yang aku lakukan karena aku di bawah pengaruh obat.”


“Belum selesai masalah itu Pa, kami masih menyelidiki siapa pelakunya. Tadi sore aku yang dapat video, dan video ini aku yakin Papa juga sebentar lagi akan menerima yaitu video orang SERUPA Ayya sedang melakukan perbuatan buruk,” ucap Mukti yang langsung di respon Wayan.


“Apaaaaaaaaaaaaaaaa?” kata Wayan tak percaya.


“Iya Pa. Itu sebabnya aku dan keluarga telepon Papa. Papa lihat kan kami di sini semua mendukung Ayya. Ayya itu tidak pernah pergi ke mana pun selain dengan aku dan mama. Pernah satu kali dia kemarin keluar bersama teman perempuannya. Itu pun hanya ke pasar Klewer di sini untuk beli baju. Siang-siang dia sudah pulang jadi kalau Papa terima video tentang perbuatan buruk Ayya itu, itu bukan Ayya Pa. Itu editan. Papa harus mengerti itu. Papa jangan kaget atau marah pada kami. Kami semua akan menyelidiki hal tersebut. Kami mendukung Ayya Pa. Kami tahu Ayya tidak seburuk itu,” kata Mukti.

__ADS_1


“Kalau Papa nggak percaya, Papa bisa cerita sama mama atau papa aku. Di sini juga ada eyang, ada adik aku dan ada sahabat-sahabat aku dari Bali,” ucap Made.


“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Wayan sedih.


__ADS_2