CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SESUAI UCAPANMU


__ADS_3

“Yank, ini Pak Putut ngabarin tiba-tiba jadwal sidang banding dimulai besok,” kata Mukti pada Ayya.


“Apa kita berdua harus datang?” tanya Ayya.


“Mungkin hanya aku yang harus datang?” Ayya meralat kalimatnya.


“Mas sedang mencoba menghubungi dia untuk langsung bicara, tapi teleponnya sedang bicara dengan orang lain. Jadi tunggu sampai dia selesai bicara. Nanti baru Mas akan tanya apakah kita berdua yang perlu datang. Nggak mungkin kamu sendirian datang. Pasti akan Mas temani. Tapi kalau Mas yang harus datang, kamu nggak perlu datang nggak apa-apa,” balas Mukti cepat.


“Aku datang sendiri bisa kok. Aku bisa pakai motornya Bu Pinem atau kalau nggak boleh ya aku naik ojek online atau taksi online. Mas nggak perlu anterin aku,” kata Ayya.


“Aturan dari mana kamu boleh berangkat sendiri?” tanya Mukti.


“Ya jangan karena kita pasangan, lalu semua-semua harus bareng lah Mas. Biarin aku jalan sendiri nggak apa-apa kok. Jadi aku nggak merasa di rantai.”


“Mas baru sadar loh ternyata selama ini kamu merasa Mas ikat ya. Oke mulai besok kamu bebas ngapain aja,” kata Mukti lalu berjalan masuk ke kamarnya.


“Mas Mukti lagi PMS kali ya?” kata Ayya. Dia pun tak peduli lalu langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Ayya membuka kamarnya saat ada yang mengetuk pintu.


“Kamu lagi halangan? Nggak salat?” tanya Mukti ketika Ayya membuka pintu kamarnya.


“Aku sudah salat duluan. Mas silakan aja  salat Mas sendiri,” kata Ayya. Mukti memandangi wajah Ayya dengan tajam.


“Kamu salat di mana dan kapan?” tanya Mukti tak percaya mendengar jawaban absurd dari tunangannya itu.


“Aku sudah salat di kamar,” jawab Ayya tenang.


“Nggak apa-apa. Sudah Mas nggak usah buang waktu. Silakan salat aja,” jawab Ayya. Dia pun menutup pintu kamarnya.


Sampai waktu sarapan Mukti tidak mendapatkan kopi atau teh madu buatan Ayya. Ada kopi buatan bu Pinem. Gadis itu tetap tak mau keluar kamar.


Dan bu Pinem pun tidak menyuruh Ayya sarapan seakan sudah tahu kalau Ayya tak akan sarapan.


Tanpa mengetuk pintu Mukti langsung masuk ke kamar Ayya.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih Yank? Aku nggak dibuatin teh madu atau kopi. Kamu juga nggak keluar sarapan sama sekali. Itu sarapan sudah siap. Ayo kita sarapan dulu,” ajak Mukti. Dia lihat Ayya sedang menatap laptopnya. Tak terlihat apa yang sedang gadisnya amati.


“Aku nggak mau sarapan. Kalau Mas mau sarapan silakan aja,” kata Ayya tanpa berpaling matanya dari laptop. Entah apa yang sedang diamati atau dia cermati di layar monitor.


“Kamu kok aneh sih sejak bangun tadi? Mas nggak ngerti deh sama kamu.”


“Semalam yang bilang kalau mulai besok kamu bebas ngapain aja tuh siapa?” Tanya Ayya.


“Aku ikutin omongan itu kok. Sekarang aku bebas mau ngapain aja. Nanti aku akan mulai kerja eight to five,” kata Ayya. Membuat Mukti tersedak ludahnya sendiri!


Mukti terperangah mendengar kata-kata Ayya itu. Semalam memang dia kesal saat Ayya bilang merasa dirantai. Jadi dia juga spontan ngomong Ayya bebas melakukan apa aja mulai hari ini.


“Fine! Mas minta maaf kalau kata-kata itu melukai kamu. Tapi kan kamu duluan yang marah sama Mas. Kamu yang bikin marah kok. Kamu yang bilang merasa dirantai. Kan Mas kesinggung,” kata Mukti.


“Ya kalau aku ke mana-mana harus sama Mas, harus diantar Mas, itu apa aku bukannya dirantai? Bukannya aku dikekang? Selama ini aku bisa loh pergi ke mana aja. Tapi sejak sama Mas kan aku nggak bisa. Seakan-akan kalau nggak diantar Mas aku tuh nggak bisa ngapa-ngapain. Padahal aku bisa kok bawa motor sendiri. Sejak SMA aku pakai motor sendiri, bahkan maaf, walaupun belum pernah punya mobil aku bisa kok bawa mobil. Walaupun aku belum punya SIM,” kata Ayya.


Mukti malah kaget ternyata Ayya bisa menyetir mobil.

__ADS_1


__ADS_2