
“Alhamdulillah. Nikmat banget Ma. Super nikmat,” kata Adelia saat makan bubur sumsum buatan Ambar. Ayya pun sama dia akan makan bubur sumsum sebagai sarapannya nanti. Tapi sekarang Ayya sedang melayani eyang Angga dulu.
“Eyang mau pakai nasi atau lontong atau ketupat? Ini ada ketupat juga aku siapin sedikit buat opornya,” tawar Ayya.
“Kayaknya ketupat opor enak deh Yu,” jawab Angga.
Ayya pun mengambilkan ketupat dan opor untuk eyang Angga.
Sesudah itu tanpa bertanya Ayya pun mengambil ketupat dengan porsi agak banyak dari yang untuk eyang Angga dengan opor untuk Mukti dan diberi banyak taburan bawang merah.
“Kok kamu nggak tanya dulu Mukti mau apa?” tanya Adelia melihat tingkah laku calon iparnya itu.
“Aku sudah tanya dalam telepati kok Kak.” jawab Ayya dengan meyakinkan.
Mukti hanya tersenyum mendapat jawaban Ayya pada Adelia seperti itu.
“Dia sudah bisa membaca apa yang ada di benakku tanpa bertanya. Dia selalu seperti itu. Dia tahu porsi aku makan pagi juga beda dengan porsi makan siang dan malam. Dia juga tahu apa yang aku sukai,” Mukti bangga menceritakan Ayya sambil menerima piring sarapannya.
Ambar tersenyum saja dia sangat menyukai interaksi Ayya dan Mukti sekarang ini. ‘Benar-benar mereka sangat cocok.’
“Sambelnya koq engga ada Yank?” pinta Mukti.
__ADS_1
“Alhamdulillah pagi ini aku nggak bikin sambel yang di goreng buat opornya Mas. Ini sarapan jadi aku memang tidak bikin sambal matang seperti biasa,” kata Ayya.
Biasanya memang Ayya menyediakan sambal yang digoreng buat teman makan opor.
“Aku mau juga dong diracikin seperti itu Sayangku,” rengek Aksa. Hanya dia yang tak diladeni. Abu tentu disiapkan oleh Ambar. Dan Sonny disiapkan oleh Adelia walau tak diambilkan. Hanya di beri piring kosong dan di sodorkan ketupat untuk Sonny ambil sendiri. Beda dengan Mukti dan eyang Angga yang di raciki.
“Kamu mau apa Pacarku?” tanya Ayya.
“Aku sepertinya nasi dengan opor deh,” jawab Aksa.
“Kenapa jadi pacarku yang nyiapin kamu?” protes Mukti.
Aku kan pacarnya Mas. Tenang saja yang penting kan Mas sudah duluan,” jawab Ayya sambil mengusap lengan kiri Mukti yang memang berada di sebelah kanannya. Ayya menyodorkan nasi berikut opor yang sudah dia tambahkan di piring lalu dia sodorkan ke seberangnya yaitu tempat Aksa duduk.
“Iya Ma. Ini memang sudah selesai kok,” jawab Ayya. Dia langsung mengambil bubur sumsum untuk sarapannya.
“Ayya kamu memang benar-benar cenayang,” kata Sonny.
“Kenapa lagi Mas?” tanya Ayya.
“Ini kamu siapin ketupat. Padahal aku dalam hati nggak kepengen lontong opor. Tapi kemarin ngucapnya lontong. Yang aku kepengenin itu ketupat opor. Maksud aku memang ketupat bukan lontong, tapi yang aku ucap lontong. Memang salah aku sih. Untung kamu siapin ketupat,” ucap Sonny.
__ADS_1
“Aku ingat kalau lebaran kan kita pakainya ketupat bukan lontong. Kalau hari-hari biasa memang lontong opor karena jarang yang bikin ketupat. Tapi kalau lebaran pasti ketupat opor. Karena itu aku siapinnya ketupat juga lontong. Kalau lontongnya nggak dimakan nanti siang kepakai kok,” jelas Ayya.
“Memang siang kamu mau masak apa?” tanya Adelia.
“Aku siapin papa rujak cingur. Kemarin waktu aku masak rujak cingur papa nggak makan. Jadi siang aku mau siapin buat papaku.”
Abu tersenyum ketika mendengar Ayya menyebut kata PAPAKU. Dia senang dengan bahasa itu. Memang kebahagiaan itu bukan diukur dengan materi saja, tapi dengan kata-kata dan senyum manis kebahagiaan itu bisa timbul.
“Wah anak Papa lagi ngerayu nih. Pasti ada maunya,” goda Abu.
“Aku mau ngerayu Papa apa ya Pa?” kata Ayya. Dia sudah tak canggung terhadap tingkah laku semua anggota keluarga ini.
“Bagaimana kalau rayuannya berupa sangu buat ke Jogja besok?” kata Mukti.
“Itu sih pasti keinginan Mas. Aku nggak kepengen itu,” jawab Ayya.
“Aku pengen yang lebih besar,” kata Ayya selanjutnya. Tentu saja semua tertawa. Mukti langsung mengacak puncak kepala Ayya karena gemas.
“Kamu sudah dua piring loh Bun,” kata Sonny pada istrinya.
“Enak banget Mas. Sumpah ini enak banget. Aku memang kepengen bubur sumsum buatan mama. Rasa santannya itu gurih banget dan kerasa,” kata Adelia tanpa malu.
__ADS_1
“Benar Kak. Aku juga suka banget bubur buatan mama. Kemarin waktu pas Mas Mukti sakit mama juga buatin dan yang ngabisin aku sih. Mas Mukti dikasih bubur dengan banyak gula saja dia bilang pahit,” kata Ayya.
“Namanya orang sakit, ya lidahnya pahit lah,” balas Mukti lagi.