CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
CARLO PATAH HATI


__ADS_3

Tanpa malu Carlo, Lukas, Niken dan Hanum menghabiskan semua masakan yang terhidang bahkan Carlo dan Lukas juga makan pakai nasi tidak cukup hanya dengan kentang.


“Kalau aku dekat aku serahin semua honor aku buat kamu biar aku dimasakin tiap hari,” kata Hanum.


“Besok aku buka catering khusus buat mbak Hanum sama Mbak Niken deh,” jawab Ayya sambil berseloroh.


“Aku nggak mau!” kata Mbak Niken cepat.


“Bukan nggak mau ngasih duit, tapi nggak mau badan aku melar 3 kali lipat dari sekarang,” jelas Niken yang memang badannya sudah lumayan jumbo untuk ukuran perempuan setinggi dia.


Tentu saja mereka terbahak-bahak karena memang makan masakan Ayya tak bisa diet.


“Nggak perlu takut kok. Aku imbangin dengan serat. Tenang saja, pak Mukti ini paling susah makan serat jadi mamanya selalu akan tanya makanan apa yang dikonsumsi pak Mukti.”


“Itu kan dulu Yank. Waktu belum ada kamu yang urus Mas,” kata Mukti protes.


“Begitu ada Komang, mama langsung stop nanya. Karena tiap hari aku dijejelin sayuran,” Mukti ngadu pada keempat tamunya.


“Kalau dia nggak masak sayur, dia langsung akan jejali aku dengan salad atau puding bahkan sampai rujak serut, karena aku malas makan rujak iris biasa.”


“Dan tiap hari mulai jam 10.00 lah, dia sudah kasih aku jus satu botol harus habis. Memang dia siapin di botol jadi kapan pun aku mau minum sudah ada tersedia di sebelahku.”

__ADS_1


“Wah bener-bener sehat ya kalau kayak gitu,” kata Hanum.


“Iya mbak Hanum memang seperti itu tiap hari harus habis satu jus buah dan sekarang kopi hanya di jatah satu kali sehari kecuali ada tamu malam masih boleh ngopi,” jawab Mukti selanjutnya.


“Terus saja terus ngadu kalau ada orang,” Ayya merajuk.


“Mumpung ada pendengar Yank. Kalau nggak ada pendengar juga aku nggak bisa ngadu ke siapa-siapa, karena satu keluarga sudah hafal bagaimana kamu mengatur semuanya,” blas Mukti dengan senyum smirk.


“Mau enggak aku atur?” tanya Ayya.


“Nggak! Nggak kok. Aku terima kok kamu atur-atur,” kata Mukti gelagepan. Kalau enggak Ayya atur, artinya Ayya enggak peduli ‘kan?


“Wah jadi pawang dong ya?” kata Niken.


“Iya benar, penggaris kayu panjang suka dipakai sama guru zaman dulu. Kalau zaman sekarang kan anak-anak SD saja sudah pakai laptop,” jawab Hanum.


“Di sini kan banyak bahan kayu panjang pakai itu saja,” kata Carlo memberi ide buat Ayya.


“Aku pengen cari rotan Carlo. Biar mukulnya tuh lebih mantap,” jawab Ayya.


“Kayaknya kalau jadi guru dia nggak pantes,” kata Lukas.

__ADS_1


“Mana ada guru manis dan lembut kayak kamu.”


“Ih manis dan lembut kalau sudah pegang rotan juga jadi galak,” kata Ayya.


Mereka memang telah selesai makan dan Ayya belum mengeluarkan salad menunggu sampai agak turun dulu makanan di lambung mereka.


Tak lama Bu Pinem mengeluarkan potongan buah lalu mayones dan krim keju serta parutan keju di piring terpisah mereka tinggal atur sendiri mana yang disuka mana yang tidak. Buahnya juga pilih sendiri.


Ayya langsung meracik salad buat Mukti. Tentunya dia ambil semua buah dikasih mayo dan custard, sedikit parutan keju tapi banyak krim kejunya.


“Terima kasih ya Yank,” kata Mukti menerima salad yang disodorkan buat dia.


“Komang Kamu jahat sekali sama aku,” kata Hanum.


“Kenapa Mbak?” tanya Ayya bingung.


“Aku tuh kalap kalau lihat buah buat salad buah,” jawab Hanum.


“Wah samaan sama mas Mukti ya. Dia juga kalap kalau lihat salad buah kalau salat sayur dia nggak terlalu kalap walaupun enggak nolak.”


“Sudah nggak usah banyak ngomong. Ambil saja 3 mangkok juga nggak apa-apa,” kata Mukti sambil mulai mengunyah salad miliknya.

__ADS_1


Tanpa disuruh dua kali memang Niken dan Hanum sudah mengambil buah untuk dia racik menjadi salat.


Carlo patah hati saat melihat Ayya menerima suapan salad dari Mukti menggunakan sendok yang sama dari mangkok yang sama karena Ayya sendiri tak mengambil salad dengan alasan masih kenyang.


__ADS_2