
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ya Mas mau bicara,” begitu Mukti bicara pada Ayya saat mereka sudah selesai makan malam.
“Iya Mas silakan,” kata Ayya.
“Enggak di meja makan gini lah, di meja di ruang tengah sekalian Mas cek hasil kerjaan kamu hari ini,” balas Mukti.
“Ya Mas, saya bereskan meja makan dulu. Nanti saya bawa laptop ke depan,” Ayya segera berdiri untuk membereskan meja makan.
“Enggak usah dibereskan, biar Mbok Darmi saja,” Mukti juga ikut berdiri bersiap meninggalkan meja makan.
“Ya enggaklah, wong kita yang makan kok, mosok mbok Darmi yang bereskan? Harusnya juga tadi Mbok Darmi makan bareng sama kita, seperti saat kita di Solo semua makan bersama. Tapi karena dia sudah makan duluan, dia enggak mau makan bareng kita,” Ayya tak mau menerima larangan Mukti.
Sebenarnya Mbok Darmi dan suaminya belum makan, cuma mereka memang tak ingin mengganggu Ayya dan Mukti. Dari pembicaraan dengan bu Ambar sepertinya ada harapan ari keluarga agar Mukti bia jadian dengan Ayu.
“Silakan Mas,” kata Ayya saat dia sudah siap di ruang tengah dan laptopnya sudah menyala. Mukti sudah menunggunya di sana dari tadi. Ayya membawakan kopi untuk tuannya itu.
“Kamu kenapa diam aja?” Mukti mengawali pembicaraan mereka.
“Maksudnya apa?” tanya Ayya tak mengerti apa yang ditanyakan Mukti. Dari tadi dia bicara koq, tidak diam saja.
__ADS_1
“Kamu kenapa diam aja enggak bilang ke Mas kalau kemarin kamu sudah dikunciin di kamar mandi dan kamu juga terjatuh di dapur karena di jegal gagang sapu?”
“Itu kan enggak sengaja Mas. Kebetulan aku kesandung gagang sapu lalu aku mau laporan apa kalau memang enggak sengaja. Sama aja soal terkunci di kamar mandi, aku mau lapor apa? Aku enggak tahu siapa yang ngunciin ‘kan?” jawab Ayya.
“Lalu apa pendapatmu saat kamu kena musibah ke siram kopi panas? Apa itu juga enggak sengaja setelah dua kali kejadian kamu mengalami hal yang buruk saat bersamaan?”
“Kalau soal kopi, aku tentu terluka karena tubuhku tersakiti. Tapi kalau hati aku yakin pasti akan langsung dibalas oleh Allah. Kalau aku mau balas bagaimana cara balasnya? Pelakunya sudah bilang maaf karena tidak sengaja. Masak aku harus bales siram sedang aku juga sedang kesakitan teramat sangat?”
“Ya sudah terserah kamu, tapi kasus itu tidak berhenti di situ aja,” jelas Mukti. Dia mau bilang apa kalau Ayya bilang tak bisa balas?
“Maksud Mas apa?”
“Kemarin mama telepon saat kamu ada di dalam sedang pemeriksaan oleh dokter. Ini bukan rekayasa, kamu bisa cek ke mama. Mama bilang dia punya feeling enggak enak tentang kamu. Mama tanya ada apa dengan kamu?”
“Mama langsung marah sama Mas. Enggak lama Mas Sonny telepon marah-marah. Dari mama pasti semua tahu. Begitu pula Kak Adel rupanya Mama langsung lapor pada mereka tanpa bisa aku cegah.”
“Kak Adel itu kan beda feelingnya. Waktu kasus Vio Kak Adel itu yang bilang bahwa ada sesuatu yang membuat Vio tenang maka kami segera mengusutnya. kemarin kak Adel langsung marah sama aku minta rekaman CCTV di tempat kejadian. Kebetulan semua galeri pasti ada CCTV-nya karena barang-barang berharga kan banyak di Galeri kami. Aku langsung minta Made kirim rekaman sebelu dapat marah lebih lanjut.”
“Tak lama habis Kak Adel telepon, Mas Sonny telepon lagi. Dia minta rekaman CCTV, Mas jadi kalang kabut karena pasti nanti semua akan minta ke Mas.”
“Rekaman CCTV itu baru aku terima saat sudah di rumah. Kan aku sibuk. Padahal dari sore Wayan itu sudah pegang rekaman, tapi aku belum lihat karena kan aku harus menghubungi papamu juga mengurus pembayaran dan segala macam.”
__ADS_1
Ayya ingat memang kemarin Mukti sibuk, bahkan sempat mikirin menghubungi papanya tak takut bila dimarahi oleh Wayan. Mukti juga sempat-sempatnya mikir makan malam buat semuanya. Pasti dia sibuk, belum lagi minta mobilnya di antar ke rumah sakit karena mereka berangkat menggunakan mobil Wayan teman Mukti.
Ayya ingat semua kejadian saat dia mengeluh panas dan bagaimana Mukti menggendongnya sampai mobil Wayan. Mengingat itu wajah Ayya merah. Ada saat satu momment dalam mobil yang sangat dia ingat. Dan tentu membuatnya sangat malu.
“Tadi pagi waktu di Dinas Pariwisata, Mas, Wayan, Ketut, dan Made bertukar pikiran. Keluarga besar Lukito pasti akan marah melihat CCTV itu. Dan bisa dipastikan Mas bisa digantung atau disunat mama lagi bila aku tidak langsung bergerak.”
“Kamu tahu posisi aku kan kemarin, aku sudah salah sampai aku dibuang oleh keluarga Lukito. Keluarga yang sangat aku cintai. Mama adalah perempuan yang paling berharga buat aku. Dia mau mengurusi aku yang bukan siapa-siapa dengan kasih sayang tulus. Tak ada perempuan sebaik mama buat aku.”
“Kalau aku diam dengan kasusmu kemarin, maka mama akan tambah kecewa.”
“Teman-teman menyarankan aku membuat laporan polisi karena kalau tidak aku yang lapor, pasti Mas Sonny, Aksa atau papa yang akan bikin laporan. Mereka akan marah sekali melihat CCTV itu kalau sudah aku kirim.”
“Memang rekaman CCTV apa isinya kok sampai bikin keluarga Lukito marah?”
“Dalam CCTV terlihat semua itu kelakuan satu orang yang sama. Yang kunciin kamu di kamar mandi dia, lalu dia memang sengaja jegal kamu bukan tidak sengaja. Kita bisa lihat di CCTV-nya bagaimana gerakan dia sengaja membuat kamu terjatuh.”
“Dan bagaimana cara dia sengaja membuat kopi itu jatuh ke badanmu walau mungkin bukan target mencelakai kamu sampai luka bakar. Dia enggak berpikir efeknya akan membuat luka bakar parah seperti itu,” jelas Mukti.
Ada rahasia apa waktu di mobil Wayan koq Ayya malu kalau ingat kejadian itu?
Kelanjutannya gimana kok berhenti di sini sih Eyank? Aduh bikin penasaran deh. Yang penasaran kirim kopi dulu ya nanti eyank lanjutkan di bab berikutnya.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1