
“Cari sampai dapat!” bentak Sonny.
“Bali itu luas Pak.”
“Pokoknya cari sampai dapat. Saya tidak mau peduli. Dan saya butuh malam ini juga,” perintah Sonny. Bigboss mah semauna saja. Lha sekarang saja sudah pukul 22.03. dia minta malam ini juga!
“Ini kami sudah dapat Pak, tapi kami jadi ragu karena identitas itu adalah identitas orang yang sudah meninggal. Itu KTP lama dari orang yang sudah meninggal dan sedang diurus akta kematiannya,’ kata pemberi info yang disuruh Sonny mencari data nomor pengirim video pada Ayya.
Tadi dia bilang identitas yang digunakan untuk mendaftar nomor ponselnya adalah orang Bali dengan alamat yang jelas.
“Kamu lacak di mana keluarganya dan sebagainya sampai bisa ketemu. Besok pagi saat saya salat subuh harus sudah ada. Nggak mau tahu besok pagi harus ketahuan siapa yang menggunakan identitas palsu tersebut. Bukan siapa keluarganya tapi siapa yang menggunakan identitas palsu tersebut,” kata Sonny menegaskan beda antara kerabat dari pemilik identitas itu dengan siapa yang menggunakan.
“Orang Bali?” tanya Abu cepat saat Sonny menghubunginya. Dia sedang duduk di ruang tengah bersama Ambar dan Angga.
“Benar Pa. Orang Bali sudah meninggal sedang di urus akte kematian oleh keluarganya. Jadi ada orang yang menggunakan KTP-nya. Aku sudah cari siapa keluarganya dan siapa yang menggunakan KTP tersebut,” jelas Sonny.
“Bisa jadi yang menggunakan adalah orang yang bekerja di dukcapil dia menggunakan data orang-orang yang meninggal untuk mendaftar nomor ponsel seperti itu.” ulas Angga. Sejak tadi Abu memang sengaja me-load speaker pembicaraan agar Ambar dan Angga bisa jelas mendengar.
“Entahlah Pa. Aku minta besok pagi jam 08.00 harus sudah ada siapa yang menyalah gunakan KTP tersebut,” ucap Sonny. Padahal tadi pada orang suruhannya dia bilang subuh harus ada. Karena kalau bilang ke Abu subuh dan ternyata oran tersebut terlambat kasih info, bisa-bisa keluarga besar Lukito kecewa.
__ADS_1
“Artinya orang itu mungkin sangat benci pada Mukti, sehingga akan menghancurkan Mukti! Karena orang Bali, mungkin ada hubungan dengan usaha Mukti,” ucap Angga.
“Ma panggil Mukti cepetan,” pinta Abu.
“Iya Ma,” jawab Mukti begitu mendengar pintu kamarnya diketuk dan Ambar memanggilnya dari luar. Dia sedang melamun memandang foto dirinya dan Ayya di dinding kamarnya.
“Ke ruang tengah cepetan ditunggu papa sama eyang,” kata Ambar sedikit kencang karena tak membuka pintu kamar anaknya. Ambar bergegas kembali ke ruang tengah. Takut tak mendengar info terkini dari diskusi mereka malam ini.
Aksa yang mendengar perintah mamanya pada Mukti ikutan ke ruang tengah.
“Siapa musuhmu di Bali yang ingin membuat kamu hancur ?” tanya Sonny saat Abu mengatakan Mukti sudah berada di ruang tengah bersama mereka.
“Orang yang mengirim video pertama kali ke nomornya Ayu itu menggunakan KTP orang Bali yang sudah meninggal. Jadi jelas ini ada kaitannya denganmu di Bali sana. Dan orang itu juga antisipasi kalau nomor itu akan dilacak atas nama siapa sehingga dia pakai nama orang yang sudah meninggal,” jawab Sonny.
“Kok bisa tahu nomor pengirim pertama ponsel orang yang mengirim video ke Mbak Ayu?” tanya Aksa.
“Tadi siang Mama sudah bertemu dengan mbak Ayu dan dia memberikan nomor ponsel pengirim video tersebut,” jawab Ambar.
“Mama kok nggak kasih tahu aku? Kalau tahu kan aku datang biar ketemu Mbak Ayu,” sama seperti Mukti dan Abu, Aksa juga komplain dengan pertemuan Ambar dan Ayya.
__ADS_1
“Semuanya sama saja, ngomelin Mama. Mbak Ayu tidak ingin bertemu siapa pun kecuali Mama. Jadi jangan macam-macam. Kalau sampai ada yang ngikutin saat Mama ketemu dia, dia bilang dia nggak akan kenal kita seumur hidup. Jadi jangan mancing kemarahannya dia lebih dalam, Karena dia sudah sangat marah sama Mukti yang bohongin dia.” ucap Ambar.
“Ada apa lagi dengan Mukti?” tanya Angga yang belum tahu. Sonny dan Abu sudah tahu siang tadi saat Ambar di kantor Abu.
“Saat Mukti berbohong bahwa dia ada di ruang pameran, Ayu mendengar suara tangis di sebelah Mukti. Suara tangis perempuan dan itu membuat Ayu sangat marah dan terluka sampai sekarang.” Sonny langsung marah besar, tadi memang dia keqi saat Ambar bilang. Tapi kan belum marah pada Mukti.
“Mukti kamu tuh memang keterlaluan, sangat-sangat bodoh,” kata Sonny setelah selesai caci maki berkepanjangan.
“Aku nggak berpikir akan seperti itu Mas aku nggak pikir suara itu akan terdengar Ayu,” jawab Mukti membela diri.
“Lalu kamu berpikirnya bagaimana? Seorang perempuan mendengar tunangannya ditelepon dalam lingkungan senyap ada orang perempuan menangis. Apa kamu nggak pikir dugaannya Ayu kamu sedang memeluk perempuan itu membujuk agar perempuan itu reda tangisnya?” kata Sonny.
“Astagfirullah,” kata Angga yan baru sadar kalau pasti seperti itu dugaan Ayu.
“Siapa pun perempuan yang mendengar seperti itu pasti dugaannya begitu, bahwa Mukti sedang bersama perempuan itu dan membujuknya serta memeluknya agar perempuan di sisinya tenang.” jawab Ambar.
Mukti tambah tak bisa berkutik lagi dengan kebohongan yang semakin membuat dia sangat nista di depan Ayya. Jelas-jelas dia berbohong dan jelas-jelas ada perempuan menangis di sebelahnya. Tak mungkin tidak dia peluk. Itu logika orang waras. Padahal Mukti sama sekali tak mau menyentuh orang itu lagi sejak dia bangun tidur. Tapi pikiran orang tentu tidak seperti itu!
“Sudah sekarang pikirkan saja siapa kira-kira yang ingin membuat kamu dan Ayu berpisah di Bali sana. Itu saja dulu,” Abu berupaya kembali pada pokok pembahasan saat dia meminta Ambar memanggil Mukti.
__ADS_1
“Soal kebohongan Mukti pada Ayu, itu urusan belakangan. Siapa kira-kira oknum yang mengirim video tersebut pada Ayu?” kata Abu.