
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Mukti langsung bersiap. Walau Ambar bilang akan makan siang bersama. Tapi dia ingin punya waktu lebih lama dengan bidadari nya itu. Seorang perempuan yang dengan tulus mengasihi nya tanpa pernah satu kali pun membedakan dirinya dengan dua anak kandung.
Buat Mukti kehadiran sosok Ambar adalah yang terbaik. Belum tentu dia akan sebaik sekarang bila dia dirawat dan didik ibu kandungnya yang tak pernah peduli akan siapa pun kecuali kepuasan diri sendiri.
"Wah aku kalah nih sama Papa. Papa semangat banget," Mukti yang baru datang langsung berteriak melihat sang papa sudah datang lebih dulu.
"Masuk rumah itu kasih salam, bukan teriak," tegur Ambar dari dapur yang langsung bereaksi mendengar suara Mukti.
"He he he lupa Ma," Mukti langsung berlari ke dapur dan mencium tangan Ambar seperti biasa dan memeluknya erat perempuan yang sangat dia hormati itu.
"Aku cinta Mama," bisik Mukti.
"Mama tahu itu," jawab Ambar dengan berbisik pula.
"Halo Dek,” sapa Mukti pada Aksa.
"Hai Mas," jawab Aksa. Selanjutnya Mukti keluar dari dapur dan baru menyalami Abu serta mas Sonny.
Aksa menilai papa dan mamanya sudah ada perkembangan tapi belum saling mendekat saat itulah Abu masuk ke dapur.
"Assalamu'alaykum. Sibuk Ma?" Abu bertanya untuk berbasa-basi.
Ambar meletakkan pisau di tangan kanannya dan mengelap tangannya agar kering lalu dia mencium tangan Abu seperti dulu sebelum berantem.
Abu langsung menarik tangan Ambar dan memeluk tubuh istrinya.
Ambar menangis dalam pelukan Abu. Mukti, Aksa dan Sonny melihat momen itu. Mereka melihat kedua orang tuanya yang sedang saling menangis.
__ADS_1
"Maafin aku ya Mas," kata Ambar sambil terisak.
"Kamu enggak salah Bee. Aku yang salah jawab Abu," balas Abu lirih. Dia dekap tubuh wanita yang sangat dia puja sejak SMA itu.
"Enggak kita berdua enggak salah," jawab Ambar.
"Ya benar kita berdua nggak ada yang salah. Kita hanya wayang yang diatur oleh seorang dalang. Wayang tak pernah salah," jawab Abu.
\*\*\*
"Plong rasanya ya," bisik Sonny pada Mukti.
"Iya Mas, aku juga plong," jawab Mukti.
"Semoga aja untuk seterusnya damai," Mukti berharap yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
"Aamiiiin," sahut Sonny. Dua makhluk dewasa itu tak memperhatikan adik mereka yang bingung mengapa empat orang dewasa di depan nya malah saling bisik.
'*Mbuuuh lah*,' Aksa langsung mengambil es krim yang tadi dibawakan oleh Abu. Lalu dia bawa ke kamarnya
\*\*\*
"Enaknya kita makan dulu atau bicara dulu Ma," Sonny menghampiri Ambar di dapur. Sang mama sudah selesai membereskan bekas membuat salad dan mengatur meja makan untuk makan siang nanti.
"Enaknya gimana?" tanya Ambar, malah dia balik bertanya kepada putra sulungnya itu.
"Kalau menurut Mas enaknya kita bicara dulu Ma. Biar cepat clear. Tapi Mama harus bilang ke orang dapur, makanan diantar kalau kita bilang suruh antar. Jangan mereka antar tiba-tiba pas kita lagi bicara!" Sonny tentu tak mau diskusi mereka terganggu.
"Iya kamu aja yang ngomong ke orang dapur," Ambar tahu kalau Sonny yang bicara semua pegawai villa tak ada yang berani bantah. Beda bila Mukti yang bicara apalagi Abu. Tanpa menjawab, Sonny langsung menghubungi bagian dapur cafe villa.
\*\*\*
"Dek kita bicara dulu yuk Dek," ajak Sonny pada Aksa di kamarnya setelah dia membereskan masalah pesanan makanan pada dapur Villa, makan siang kali ini Ambar memang hanya pesan makanan. Karena mendadak dia tak masak sendiri.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Aksa.
'Wah ada sesuatu hal yang penting nih,' lelaki kecil itu pun mengikuti kakak tertuanya duduk di ruang tengah.
"Bismillah. Ma, Pa, kita mulai sekarang ya. Sengaja Mas buka sebelum makan siang, biar semua cepat clear.”
"Mas mulai ya. Mamas ini anggap diri Mas sebagai mediator antara Papa dan Mama. Enggak mungkin kan enggak ada yang memulai bicara?”
“Mas dan semua tahu, ada Aksa yang harus kita libatkan dalam pembicaraan kali ini karena menyangkut masa depan kita semua. Dan mas anggap Aksa sudah mengerti semua persoalan yang terjadi selama ini. Mas anggap Aksa sudah dewasa dan bisa menangkap semua yang akan kita bahas.”
"Jadi gini, seperti kita tahu kemarin, selama ini kan Papa sama Mama itu dijadikan wayang dengan dalangnya adalah eyang Menur."
"Tadi Mamas lihat Papa dan Mama sudah saling memaafkan dan menyadari kekeliruan nya. Kalau kita pecah berarti tujuannya eyang Menur itu tercapai!"
"Kalau membunuh itu legal dan boleh sudah Mas bu-nuh dia. Dia merusak Papa dan Mama semenjak Mas berumur dua tahun! Mungkin sejak Papa dan Mama nikah atau bahkan sebelumnya. Aku tahu dia merusak sejak dia membuat program bayi di dalam perut Bu Witri sehingga lahirlah Mukti."
"Jadi memang sudah dia rencanakan dari awal itu."
"Sejak Papa menikah dengan Mama kalian sudah dibenci oleh eyang Menur. Dia ingin memisahkan kalian yaitu dengan cara dia memupuk bu Witri supaya hamil. Sampai sini jelas ya."
"Kalau menurut aku, aku berpikir mungkin tante Imelda ngerusak pernikahan Papa juga skenario dia!"
"Skenario itu enggak berhasil dia memupuk bu Witri, begitu dugaanku."
"Tapi kita kesampingkan dulu persoalan dalang dan wayang itu. Kita bahas nanti karena itu akan berkaitan dengan strategi perang."
"Yang perlu kita bahas sekarang adalah masalah kita dulu. Intern kita dulu."
"Ini bagaimana Pa? Bagaimana Ma? Yang mana yang duluan bicara. Mama atau Papa?"
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok
__ADS_1