
PLONG!
Itu yang dirasakan Mukti saat ini, ketika dia sudah mengakui kesalahannya pada Wayan dan Wayan menerima pertunangan tak resmi yang telah dia lakukan. Setidaknya tinggal satu langkah lagi menuju lamaran resmi dan menikah. Tapi seperti janji Mukti tadi dia tidak akan mengejar-ngejar Ayya untuk segera menerima lamarannya dan menikah.
Sekarang yang terpenting adalah bagaimana membuat Ayya menjadi nyaman dengan kehadirannya.
“Ngapain sih Mas?” kata Ayya, sejak tadi tangan kanannya berada dalam genggaman tangan kiri Mukti, selama dalam perjalanan pulang dari rumah Wayan ke studio.
“Nggak boleh ya Mas merasa bahagia?” kata Mukti.
“Bahagia nggak harus gitu juga kali?” tepis Ayya.
“Harus bagaimana?” kata Mukti. Lelaki itu mengambil jemari Ayya dan mengecupnya. Tentu saja Ayya jadi panas dingin karena dia belum pernah diperlakukan seperti itu.
‘Andai kamu bukan Ayya Andira pasti sudah kulumat bibirmu itu,’ kata Mukti. Dia merasakan bagaimana Ayya bergetar ketika jemarinya dikecup. Padahal Mukti sudah beberapa kali mengecup kening Ayya, juga pipinya. Tapi Ayya tidak bereaksi seperti sekarang. Rupanya ada rasa yang beda ketika jemarinya dikecup.
Ayya berupaya menarik tangannya tapi tak bisa, genggaman Mukti malah semakin erat sehingga akhirnya dia pun membiarkan jemari Mukti terus menggenggam tangan kanannya.
“Mas mau kerja enggak malam ini?” tanya Ayya.
__ADS_1
“Besok pagi aja Mas mulai kerjanya. Sekarang Mas mau tidur dulu,” jawab Mukti. Ada rasa lega jadi dia ingin istirahat dulu.
“Ya sudah kalau gitu aku langsung masuk kamar ya,” pamit Ayya.
“Ya,” jawab Mukti, tapi sebelum gadis itu turun Mukti menarik tubuh tunangannya. Dia kecup keningnya dengan lembut dan dalam.
“Met bobok ya,” kata Mukti. Ayya hanya mengangguk sambil menunduk. Dia malu menatap matanya Mukti. Ayya langsung keluar mobil dan bergegas menuju kamarnya.
“Kenapa telepon malam-malam?” tanya Ambar.
“Aku lagi bahagia Ma,” jawab Mukti. Ambar tak aneh kalau Mukti curhat. Karena sejak dulu Mukti lah yang paling terbuka pada dirinya. Sonny dan Aksa juga sering curhat, tapi tak sesering Mukti.
“Nah itu mah kan Mama juga pasti tahu dari Pak Putut bahwa Saras melakukan banding. Pasti bukan karen itu lah Ma,” jawab Mukti.
“Lalu karena apa? Jangan bikin Mama penasaran deh,” jawab Ambar.
“Tadi habis dari pengadilan kan kami ke rumah papanya Ayya Ma. Lalu aku langsung bilang sama papanya Ayya bahwa aku telah lancang bertunangan saat kami di Jakarta. Tapi sebelumnya aku minta maaf dulu ke papa Wayan.”
“Lalu apa kata papanya Ayu?” tanya Ambar penasaran.
__ADS_1
“Alhamdulillah papa Wayan menerima Ma. Yang penting aku nggak boleh nyakitin hatinya Ayya, karena Ayya sudah terlalu banyak disakiti oleh papanya saat mereka berjauhan. Bukan papanya benci atau marah tapi kan waktu berjauhan papanya nggak bisa mendekap Ayya kalau Ayya kesulitan baik dalam pelajaran maupun dalam keuangan. Jadi sekarang papanya Ayya tidak mau Ayya terluka lagi.”
“Terus bagaimana dengan pernikahan?” tanya Ambar.
“Seperti yang kemarin Mama bilang aku jangan sampai mendesak Ayya untuk menikah karena dia belum nyaman. Papanya juga bilang seperti itu. Jadi aku mau bikin Ayya nyaman dulu berada di sebelah aku. Kalau dia sudah nyaman baru aku ngomongin proposal buat menikah. Sekarang dia belum merasa nyaman,” kata Mukti.
“Ya sudah ingat, jangan pernah menekan dia, dan jangan bikin dia terluka,” ulas Ambar.
“Iya Ma. Aku nggak akan bikin terluka, tapi mungkin aja orang-orang di sekitar yang bikin dia terluka. Mungkin dia menjadi salah paham itu yang aku takutkan,” Mukti memberitahu ketakutannya.
“Selama kamu benar, nggak akan ada yang perlu ditakutkan. Mungkin bisa aja dijebak seperti waktu ibumu dan eyang Menur menjebak papa. tapi akhirnya semua terbukti kan? Menghadapi hal seperti itu kita nggak perlu takut apabila kita benar.”
“Aku minta Mama dan keluarga semua selalu mendukung aku Ma. Aku takut salah langkah lagi seperti dulu,” ucap Mukti sendu.
“Selama kamu terbuka tidak akan mungkin salah langkah. Kesalahan kita kemarin adalah kita tidak terbuka. Mama, Papa dan kamu tidak terbuka.”
“Anda sejak awal Mama terbuka apa yang eyang Menur lakukan pada Mama tentu papa mengerti dan apabila papa waktu itu terbuka soal Witri dan segala macamnya Mama juga akan mengerti. Dan kamu juga seperti itu kalau sejak awal dijebak oleh Vio kamu terbuka pasti nggak akan seperti itu. Jadi semua kita kembalikan lagi pada keterbukaan. Kamu Ayu dan kita semua harus selalu saling terbuka.”
“Katakan saja semua walaupun itu mungkin menyakitkan, tapi lebih baik daripada kebohongan yang manis.”
__ADS_1