CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TUNANGANNYA SAKIT


__ADS_3

Ayya merekap semua pekerjaan kemarin, dia juga mengotak-atik tabel agar lebih enak dilihat. Dia benar=benar serius kerja tanpa ada gangguan. Sesekali orang galeri telepon dan dia jawab.


“Mbak ini sudah waktunya salat dzuhur mau makan dulu apa salat dulu?” tanya Bu Pinem.


“Sebentar ya Bu. Saya bangunin mas Mukti,” kata Ayya. Sekarang dia sudah menyebut mas di depan semuanya. Tak perlu takut lagi menggunakan Pak toh semua karyawan tahu dia tunangannya Mukti.


“Atur makan aja nggak apa-apa Bu. Nanti biar terserah dia mau salat dulu atau makan dulu,” ujar Ayya.


Ayya langsung berdiri untuk membangunkan Mukti. Cukup lama Ayya mengetuk pintu tidak ada jawaban.


“Bu, mas Mukti nggak dengar sejak tadi saya ketuk pintunya nggak ada jawaban. Maaf ya Bu saya izin masuk kamarnya,” kata Ayya kepada bu Pinem.


“Nggak usah izin sama saya lah Mbak. Mbak kan tunangannya nggak apa-apa, lagian saya kan cuma pegawai,” jawab bu Pinem.


“Saya takut pandangan buruk orang lain Bu. Tidak baik saya masuk kamar seorang lelaki walau itu tunangan saya sekali pun,” kata Ayya.


‘Ya ampun Mbak. Kamu itu memang terlalu polos. Pantas pak Mukti tergila-gila sama kamu. Banyak orang sengaja menjatuhkan diri pada pelukan dia tapi Pak Mukti yang tidak mau,’ kata Bu Pinem dalam benaknya.

__ADS_1


“Sudah masuk saja Mbak. Bangunkan kasihan kalau terlambat makan siang,” ujar bu Pinem.


“Iya Bu,” jawab Ayya. Ayya membuka pintu kamar Mukti lebar-lebar sengaja tidak dia tutup saat dia berada di dalam kamar lelaki tersebut.


Ayya melihat kamar itu sangat artistik. Dia sangat suka dengan pengaturan kama.r warnanya didominasi warna coklat kayu. Semua dindingnya pun dilapis dengan semacam potongan tripleks kecil-kecil yang di plitur sehingga benar-benar menyerupai berbahan kayu.


Ayya melihat Mukti berselimut.


“Siang-siang gini kok selimutan padahal AC nggak dipasang loh,” kata Ayya. Dia mendekati ranjang.


“Mas, bangun yuk. Kita makan dulu,” sapa Ayya, tapi Mukti tetap tak bergerak. Ayya berinisiatif membangunkan dengan memegang lengannya saat itu dia kaget ternyata tubuh Mukti sangat panas.


Mukti tak bisa membuka mata, dia malah menggigil. Ayya berlari ke kamarnya dan mengambil ponselnya dia langsung menghubungi Adelia.


“Kamu cari obat di situ, obat turun panas apa pun itu. Entah Paracetamol entah apa pun cepat  bacakan pada saya,” kata Adelia.


“Bu Pinem kotak obat mana?” kata Ayya sambil tidak memutus hubungan dengan Adelia.

__ADS_1


“Nggak ada Kak nggak ada obat itu. Nggak ada obat apa pun di sini. hanya ada obat anak-anak milik Menik anaknya Bu Pinem,” kata Ayya.


“Sekarang bikinkan teh hangat manis kalau ada pakai madu, ya madu. Pokoknya manis. Kamu minum kan dan ingat kalau bisa kamu skin to skin.”


“Maksudnya apa Kak?”


“Skin to skin, perbanyak permukaan tubuh dia yang menempel ke tubuh kamu tanpa penghalang. Skin to skin. Kulit dengan kulit, sehingga suhu tubuh dia nanti akan pindah ke tubuh kamu.”


“Kalau mau cepet ya seperti itu. Buka kaos atau kemejanya kamu peluk dia, tempelkan di kulit kamu.”


“Jangan berpikir porno atau apa pun. Kalau kamu ragu ya punggung kamu menempel di punggung dia sehingga bisa melepas panas dari tubuhnya.”


“Nggak bisa dikompres aja Kak? Pakai alkohol atau air hangat atau air dingin?” tanya Ayya.


“Yang tercepat itu, minum obat atau skin to skin jangan lupa kasih minum air hangat,” ucap Adelia.


“Baiklah aku akan coba,” kata Ayya.

__ADS_1


“Bu aku minta teh hangatnya pakai gula atau pakai madu aja. Pakai madu aja Bu. Kan ada madu, madu aja 3 sendok biar lebih manis,” kata Ayya dengan sangat gugup.


“Habis itu beli obat di apotik Bu,” pinta Ayya. Dia langsung kembali berlari ke kamarnya Mukti.


__ADS_2