CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERITA BAHAGIA TENGAH MALAM


__ADS_3

“Kenapa diam saja dipanggil dengan sebutan cinta sama Carlo?” tanya Mukti dengan rasa tak suka.


“Apa aku bisa ngelarang Mas panggil aku yank? Itu kan mulutnya Mas, pikirannya Mas. Sama juga seperti Carlo, dia mau panggil aku apa pun ya terserah dia. Yang penting aku enggak merasakan senang atau bangga dengan panggilan seperti itu darinya,” jawab Ayya dengan bijaksana.


“Jadi kamu enggak suka aku panggil yank?”


“Suka atau enggak suka, aku enggak ngelarang kan? Terserah aja orang memanggil aku apa. Yang tahu isi hati aku ya cuma aku,” balas Ayya diplomatis.


Mukti diam, dia membenarkan apa yang Ayya katakan, bahwa gadis itu tidak bisa melarang Carlo memanggil dia dengan sebutan cinta.


‘Apa panggilan yank dari aku tidak spesial di hati dia?’ tanya Mukti dalam benaknya sambil makan.


“Kenyang enggak makan segitu enggak pakai nasi? Tambah lagi ya?” tawar Ayya. Dia selalu seperti itu pada setiap orang. Selalu care, sehingga membuat orang suka padanya.


“Aku nanti tambah bihun deh, kayanya tadi ada bihun goreng kan? Atau aku tambah udang asam manis sama capcay aja,” balas Mukti.


“Sini aku ambilin,” tawar Ayya selanjutnya.


“Enggak usah, yang kedua aku ambil sendiri aja. Kamu terusin makan,” mukti masih enggak enak hati memikirkan panggilan yank buat Ayya .


Ayya memang tak merasa spesial dengan panggilan YANK dari Mukti, karena dia tahu pasti panggilan itu juga pernah disematkan untuk Vio. jadi kata-kata yank buat Ayya itu tidak spesial


Ayya lebih suka panggilan cinta dari Carlo karena tak semua orang akan memanggil pasangannya dengan sebutan cinta.  Kata yank itu sudah umum apalagi honey, baby ah pasaran.

__ADS_1


Dari Mukti, Ayya lebih menyukai panggilan AYYA daripada yank karena Ayya hanya panggilan dari orang tertentu yang dekat dengan dirinya. selain Papa, ibu Pakde Saino dan bude Ati, Mukti lah yang memanggil dia seperti itu.


Hanya lima orang itu yang memanggil dia dengan nama Ayya. Itu lebih mengena di hati Ayya daripada panggilan yank.


“Sri. Besok pagi kita check out sehabis sarapan ya? Bisa enggak?”


“Bisa sih. Aku sudah bilang datang agak siangan,” jawab Sri.


“Biar kita enggak kelaparan walaupun kita di cafe. Enggak enak makan di sana. Kita besok berangkat berdua naik taksi, aku sudah dapat izin kok dari Mas Mukti.”


“Alhamdulillah kalau kamu dapat izin,” Sri senang niat Komang bertemu teman-teman di cafe akan bisa terlaksana.


“Nanti sehabis check out di sini, sehabis makan siang bersama keluarga besar mas Mukti baru jemput aku. Aku enggak boleh pulang sendiri.”


“Wah senang ya, kita bisa ketemu agak lama. Aku pikir dia membatasi kamu hanya satu atau dua jam saja di cafe.”


“Oh iya kamu siap-siap resign juga.”


“APA?” pekik Sri.


“Kamu serius?” tanya Sri tak percaya.


“Kamu tahu kan tadi waktu aku sedang ngobrol sama Carlo dan Arjun aku dipanggil papa Abu?” jawab Komang Ayu sambil mengangguk membenarkan pertanyaan Sri walau dia belum menjelaskan dengan kata-kata verbal.

__ADS_1


“Iya aku lihat. Memang pak Abu bilang apa?”


“Papa bilang kamu nanti mengelola kantin di perusahaan dia yang baru. Ada kamar di belakang kantor. Jadi bukan di dalam kantin. Kamar itu ada tersendiri di belakang kantor ada 4 kamar. Satu kamar bisa untuk berdua.”


“Kalau makan kan kamu bisa ngambil dari kantin sepanjang hari. Mas Mukti bilang dia minta pekerjaan pada papa dan mamanya untuk kamu sesuai dengan kriteria yang kamu mau.”


“Kalau kantin di Surabaya bisa terima tapi kamarnya enggak ada hanya bisa makan gratis saja.”


“Alhamdulillah. Ini serius kan?” Sri masih tak percaya dengan berita yang dia dengar tengah malam ini.


“Sangat serius dan minggu depan kamu sudah ada di Solo.”


“Aku akan langsung resign hari ini, lalu aku kembali dulu ke Cilacap baru nanti aku ke Solo. Aku bahagia bisa pulang ke rumah dulu sebelum ke Solo.”


“Kamu siapkan aja semua barang biar bisa segera pulang. Nanti aku kasih tahu papa Abu minggu depan kamu siap. Besok pagi kita ngobrol saat sarapan itu sebabnya aku bilang kita check out-nya habis sarapan.”


“Iya aku datang siang ke cafe juga berani kalau memang sudah ketahuan mau resign,” kata Sri bahagia.


“Ya sudah pokoknya kamu sudah ada jalan keluar sehingga kita bisa nabung banyak-banyak untuk orang tua kita,” kata Komang Ayu.


“Terima kasih bantuanmu ya, aku sangat bahagia mendengar ini.”


“Tidak usah berterima kasih, kamu lebih banyak membantu aku selama ini.” Ayya tak bisa menghitung bantuan Sri selama dia susah ketika ibunya sakit dulu.

__ADS_1


“Yang penting persaudaraan kita tidak terputus,” kata Sri.


“Sekarang kita tidur, besok bisa kesiangan, pasang alarmmu.”


__ADS_2