CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
JANGAN GE ER


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Hari pertama Ayya tinggal di studio, pagi-pagi sekali dia mulai bikin kopi untuk Mukti dan akan ditaruh di meja pendek di pendopo bagian depan, karena dia tahu di sana tempat Mukti beraktifitas. Di studio tak ada ruang tengah atau ruang apa pun. Hanya ada kamar, kamar mandi umum depan, lalu dapur dan ruang terbuka pendopo.  Sementara kamar belakang tempat para pegawai tinggal gedungnya terpisah dengan bangunan utama studio, dipisah halaman belakang yang tak terawat dan gersang.



Jadi kalau mau makan, mau beraktifitas, terima tamu pun ya semua di pendopo. dan di pendopo tidak ada kursi tamu, tak ada kursi makan hanya ada meja pendek besar dengan bentuk yang artistik jadi seperti meja untuk lesehan. Makan pun diatur di situ. Semua lesehan.



Ayya kaget ternyata Mukti masih bekerja atau sudah bekerja, dia juga kurang tahu. Yang pasti dia melihat Mukti sedang asyik berkreasi dengan pahat dan alat lainnya pada kayu yang sedang dia geluti.



“Mas sejak kapan bekerja?” tanya Ayya. Sengaja dia hampiri Mukti di halaman studio.



“Tadi habis salat subuh,” jawab Mukti tanpa menoleh.



“Tadi malam tidur enggak?” selidik Ayya.



“Tidur habis kita ngobrol itu kan aku tidur,” kilah Mukti. Tangannya terus menari tanpa henti.



“Serius?”



“Serius lah sayaaaaaaaaaank, aku baru bangun subuh lalu langsung kerja,” jawab Mukti santai. Dari sudut matanya Mukti melihat Ayya menunduk dan pipinya memerah mendengar kata sayank yang dia ucapkan barusan.



“Yo wis itu kopinya di meja,” Ayya langsung balik badan dan menuju dapur. Dad4 Ayya berdegup kencang mendengar bos-nya mengatakan sayank untuk dirinya.



‘*Jangan ge-er Ya, dia bisa menyebut kata itu pada siapa pun. Ingat kamu hanya karyawannya*,’ Ayya mengingatkan dirinya sendiri agar tak terbawa arus.



“Bikin sarapan apa Bu Pinem?” tanya Ayya melihat koki untuk semua pegawai sudah sibuk. Tiap hari bu Pinem masak untuk semua orang di studio tanpa terkecuali. Mukti memang menanggung makan siang karyawannya. Makan pagi dan malam hanya untuk semua karyawan yang tinggal di studio. Atau saat ada yang lembur bisa ikut makan di sini.

__ADS_1



“Masak nasi santan apa namanya nasi uduk atau apa? Saya tidak mengerti nama di tempat Mbak. Nasi gurih santanlah pokoknya. Untuk sarapan juga bawa bekal Menik sekolah. Lauknya tempe dan ayam goreng. itu aja sih buat sarapan pagi ini. Habis ini Ibu baru berangkat ke pasar sekalian Menik berangkat sekolah,” jawab bu Pinem.



“Ibu punya kacang?” tanya Ayya melihat tempat bumbu ada cabe rawit dan bawang putih.



“Kacang apa yang dicari?” tanya bu Pinem.



“Kacang tanah sedikit saja.”



“Ada itu di tempat bumbu sana,” Bu Pinem menunjuk tempat kacang yang dia maksud.



“Saya minta ya. Saya mau bikin sambel kacang yang encer buat makan nasi uduk,” pinta Ayya.



“Aduh pagi-pagi sudah pakai sambel, enggak takut sakit perut?” respon Pinem dengan medok Balinya yang kental.




Ayya pun membuat sambal kacang untuk makan nasi uduk tentu beda sambal kacang dengan untuk pecel atau gado-gado.



“Cobain deh Bu, pakai tempe aja enak,” Ayya menawarkan bu Pinem hasil kreasinya.



“Ibu nih tidak kuat sambal Nak. Tapi tak apa lah Ibu coba. Pedas tidak ini?”



“Pedas itu relatif Bu. Kalau buat buat saya ini tidak pedas, tapi buat Ibu mungkin sangat pedas. Karena kan tingkat toleransi kita terhadap pedas itu berbeda.”



“Iya benar Nak,” kata ibu Pinem. Dia pun mencicipi hanya ujung tempe saja dia sentuhkan disambal.


__ADS_1


“Enak Nak, tapi pedas. Saya tidak sanggup,” jawab bu Pinem.



“Iya Bu memang pedas, kalau tak kuat pedas jangan nanti malah bahaya untuk perut Ibu,” ucap Ayya.



“Biasanya pak Mukti makan pagi jam berapa kalau sudah sibuk kerja begitu Bu?” tanya Ayya karena dia belum pernah melihat Mukti bekerja sebagai pemahat.



“Kalau sudah kayak gitu enggak pernah ingat makan kalau tidak kita antar piringnya ke depan mulutnya. Nanti dia kalau sudah dipaksa baru dia akan makan atau minum. Mamanya sering telepon dan kadang minta video call untuk melihat dia sudah makan atau belum.” ucap bu Pinem. Tentu saja ini mengagetkan Ayya.



“Kalau minum kopinya Bu?”



“Kalau sedang bekerja begitu tergantung Nak pagi itu kadang dia minum sebentar nanti dia kerja lagi. Terus begitu, biasanya kopinya akan dia bawa ke dekat dia kerja. Jadi kapan pun dia butuh minum dia akan langsung seruput kopinya.” jelas bu Pinem.



“Air putih Bu?”



“Tidak minum air putih kalau lagi kerja gitu. Dia sepanjang hari hanya minum kopi saja.”



“Juice?”



“Apalagi juice Nak. Siapa yang mau urus bikin juice. Disuruh makan aja susah. Tak ada yang bisa ngurusin pak Mukti kalau sudah seperti itu. Harusnya dia punya istri yang siap menyuapi dia siang dan malam kalau sedang bekerja,” ungkap bu Pinem.



“Iya juga ya Bu, kalau orang seperti itu tidak pernah kenal waktu.”



“Tapi kalau sedang tidak mood Nak, dia hanya memandang saja tanpa kerja. Bahan kayu hanya dipandangi. Bisa satu atau dua hari hanya memandang kayu tanpa kerja. Mungkin dia sedang mencari sudut pandang atau apa Ibu enggak mengerti. Tapi seperti itu juga tetap tidak makan,” kata Bu Pinem yang sudah hafal tentang bagaimana keseharian Mukti.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.


__ADS_1


__ADS_2