CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PENGGEMAR TEMPE


__ADS_3

Mukti merasakan ada yang beda saat dia bangun tidur. Ada tuBu h hangat dalam pelukannya. Dia lihat jam di dinding kamar itu.


‘Ya ampun, aku tidur lama banget. Sudah jam 12.20. Aku belum salat dzuhur pula,’ batin Mukti.


Dia pandangi wajah manis dalam pelukannya, dia juga memandangi lukisan di dinding, foto mereka berdua yang dilukis hitam Mukti. Rasanya dia ingin minta diuntukkan lukisan sedang berbaring memeluk tuBu h kekasihnya seperti ini.


‘Aku berharap kamu mau maafin aku Yank,’ batin Mukti sedih.


Mukti mau bangkit tapi ragu tangannya ditindih oleh tuBu h Ayya, kalau dia tarik pasti Ayya akan terganggu dan jadi bangun. Dia kasihan tapi dia ingin ke kamar mandi. Bingung juga kan?


Pelan-pelan Mukti berupaya menarik lengannya.


“Eh Mas sudah bangun?” Ayya merasakan pergerakan lengan Mukti yang jadi bantalnya.


“Maaf ya Yank, Mas jadi bangunin kamu. Kamu keganggu deh tidurnya,” jawab Mukti.


“Nggak apa-apa kok,” kata Ayya. Dia pun lalu mengangkat badannya agar Mukti bisa menarik tangannya.


“Sudah siang ya Mas,” Ayya menoleh jam di dinding kamar.


“Sudah lewat dzuhur Yank. Ayo kita salat dulu terus makan atau mau makan dulu?” tanya Mukti lemBu t.


“Kayaknya aku nggak salat deh,” jawab Ayya.


“Oh ya sudah kalau gitu. Mas bangun dan salat dulu ya. Habis itu kita makan bareng. Mungkin Made sama Wayan sudah nungguin Mas,” kata Mukti.

__ADS_1


“Iya Mas. Mas pakai kamar mandi Mas saja ya, soalnya aku juga mau ke kamar mandi. Mau bersih-bersih,” kata Ayya. Dia merasa ada tamu Bu lanan yang mengganggunya.


“Iya. terima kasih ya, Mas boleh tidur di sini,” ucap Mukti tulus.


“Iya Mas. Sama-sama,” jawab Ayya.


“Hai Bro sabar ya aku salat dulu, baru kita ngobrol,” kata Mukti saat dia keluar kamar dan bertemu Wayan.


“Kalian sudah makan?” tanya Mukti sebelum masuk ke kamarnya.


“Ini baru selesai makan kok.” kata Wayan yang akan menuju ruang tengah sambil melakukan video call dengan kedua anaknya.


“Oke kalau gitu aku salat dulu. Habis itu baru kita ngobrol sekalian aku makan siang.”


“Ya silakan,” jawab Wayan.


“Bu Parman maafin aku ya nggak bantuin.” kata Ayya yang habis mandi dan bersih-bersih.


“Nggak apa-apa kok. Santai saja. Mbaknya habis pulang subuh tadi, pasti capek,” Bu  Parman sangat mengerti.


“Iya Bu, capek banget.”


“Mbak Ayu mau bikin apa?” tanya Bu Parman melihat Ayya mencari sesuatu di kotak bumbu .


“Aku mau bikin kunir asem seperti biasa Bu. Ada kan bahannya?” tanya Ayya.

__ADS_1


“Ada semua kok Mbak. Ada semua,” kata Bu Parman.


“Sudah Mbak di sana saja, Ibu yang buatkan,” bu Parman hafal, pasti calon istri Mukti sedang kedatangan tamu bulanan.


“Iya Bu. Sekarang aku mau bikin lemon tea dulu buat makan,” Ayya pun membikin teh yang diberi perasan jeruk lemon menggunakan air dingin untuk teman makan siang kali ini. Dia bikin 4 gelas sekalian untuk Made dan Wayan tentunya.


“Kak Made ini mau ditaruh di mana lemon teanya apa mau bareng sama kami di meja makan?” tanya Ayya.


“Boleh di meja makan saja, sekalian kita nemenin kalian makan menghemat waktu untuk bahas masalah kerjaan.” balas Made yang baru masuk ke rumah setelah merokok dan menghubungi anaknya, kegiatan rutin bapak satu anak itu.


Ayya tahu, lingkungan Mukti adalah sosok yang cinta keluarga. Teman dan saudara Mukti semua mementingkan keluarga. Jadi sebenarnya kalau tanpa jebakan seperti yang dilakukan Pricilla dan Witri serta yang sekarang terjadi, semua selalu setia pada pasangannya.


Ayya pun membawa 4 gelas lemon tea dingin ke meja makan. Dia hanya menggunakan air es, tanpa es batu. Itu sudah cukup dingin.Tak boleh lebih dari itu terlebih kondisi Mukti belum terlalu sehat.


Hari itu Bu  Parman masak garang asem dengan bahan dasar ikan bukan ayam. Lalu ada tahu bumbu  tauco yang dicampur dengan pete dan cabe ijo serta jantung ayam.


Tak ketinggalan ada tempe garet yaitu memang tempe kecil-kecil yang diberi garis untuk membuat bumbu nya meresap dan digoreng. Tanpa bertanya Ayya menyiapkan nasi untuk Mukti. Diambilkan tahu masak tauco dan dia bukakan bungkus daun garang asemnya. Garang asemnya sengaja dia taruh di piring kecil hanya dibuka daunnya saja tidak dipindah ke piring.


“Tambah tempe nggak Mas?” tanya Ayya lembut.


“Enggak ah. Mas mau banyakin tahu bumbu tauco saja. Nggak usah pakai tempe,” jawab Mukti.


“Kak Made, kak Wayan. Ini tempenya baru digoreng lho. Enak anget. Kalian sambil makan tempe lah ngobrolnya,” Ayya menyodorkan piring tempe pada Made.


“Kalau Wayan tuh lihat tempe nggak usah disuruh lebih-lebih tempe dari Jawa sini. Enak banget terus juga masih panas,” kata Made mengambil piring berisi tempe dari tangan Ayya dan dia sodorkan pada Wayan.

__ADS_1


“Kamu senengnya buka rahasia aku,” kata Wayan. Wayan dan Made pun ikutan makan tanpa nasi, hanya makan tempe panas saja.


__ADS_2