
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Tadi kenapa terlambat masuk?” tanya Mukti, saat ini adalah coffee break sore Mukti langsung menghampiri Komang Ayu yang sedang mematikan laptopnya.
“Aku di mushola Mas,” jawab Ayya tanpa melihat wajah Mukti.
“Kenapa terlambat dan kenapa teleponmu sibuk saat saya menghubungi kamu?” cecar Mukti tanpa kasihan. Tanpa menjawab Komang Ayu membuka ponselnya.
“Papa saya menghubungi saya,” Mukti melihat tepat jam masuk Ayya memang ada telepon masuk dari papanya dengan durasi 21 menit. Ayya memang langsung memberitahu data daftar panggilan masuk tadi siang.
Mukti tak bisa marah kalau memang itu yang sudah terjadi. dia melihat datanya akurat.
“Mari Mas, saya mau ngopi,” Komang Ayu langsung pergi ke ruang konsumsi dia akan mengambil kopi.
Mukti tak bisa berkutik begitu melihat Ayya langsung pergi nyeluntur tanpa peduli pada dirinya yang memang sengaja menghampiri Komang Ayu.
Ayya berpikir Mukti ke situ menghampiri Wayan dan ingin bicara dengan Wayan.
“Hai,” sapa Trisno.
“Kok sendirian lagi?” tanya Trisno ramah.
“Saya tidak sendirian kok. Kan ada Mas Trisno,” jawab Komang Ayu sambil membuat kopi yang dia inginkan. Sedikit gula tapi banyak cremernya.
Komang Ayu juga mengambil kue yang dia inginkan, lalu duduk di ruang konsumsi. Tidak langsung kembali ke ruang meeting.
Waktu istirahat memang hanya 15 menit, bergegas Komang Ayu menghabiskan kopi juga snack yang dia ambil tadi.
“Mau ke mana kamu?” tanya Trisno melihat Komang Ayu akan beranjak pergi.
“Saya mau salat Mas.”
“Oh ya silakan,” jawab Trisno. Trisno adalah lelaki Solo asli yang beragama Katolik jadi dia tidak melakukan salat. Komang Ayu langsung menuju mushola.
“Kamu lihat Komang Ayu?” tanya Wayan yang baru masuk ruang konsumsi.
“Dia baru aja dia pergi dari sini, itu bekas kopinya. Dia sekarang ke mushala,” kata Trisno.
“Oh,” jawab Wayan. Wayan pun tentu tidak akan ke mushola. Dia bukan Muslim. Yang beragama muslim adalah Made, kalau Wayan beragama Hindu.
__ADS_1
Mukti hanya diam mendengar pembicaraan kedua temannya. Dia pun membuat kopi yang dia inginkan.
Saat kembali dari ruang konsumsi Mukti melihat Komang Ayu belum kembali, padahal tadi di mushola sudah tidak ada.
Saat itulah Mukti melihat di ujung ruangan Komang Ayu sedang berbicara dengan seorang pembuat film dari Bandung.
‘Oh rupanya orang tersebut yang ingin menarik Komang Ayu di kantornya dengan jam kerja hari Senin sampai hari Jumat jam 08.00 sampai jam 05.00 sore,’ pikir Mukti.
Mukti melihat Komang Ayu tersenyum manis dan orang itu tertawa terbahak-bahak.
‘Walau baru kenal, rupanya mereka cukup dekat,’ kata Mukti melihat interaksi keduanya.
Mukti kembali ke tempat duduknya bersama Trisno. Hari ini tak mungkin kan dia pindah tiba-tiba. Sudahlah, sudah terlanjur sejak pagi dia yang menjauh dari Komang Ayu, jadi ya semua kepahitan ini harus dia telan.
Menjelang magrib mereka semua pulang
‘Untung tadi enggak janjian sama eyang, kalau janjian kasihan eyang menunggu lama karena ternyata rapatku selesainya sampai maghrib.’ batin Mukti.
Mukti juga tidak tahu kalau rapatnya di bikin sesuai dengan jam kerja meeting dari pagi jam 08.00 sampai jam 17.00 dan sekarang malah sudah pk 17.40.
“Kamu mau salat dulu atau langsung pulang?” tanya Mukti saat dia menghampiri Komang Ayu.
“Aku ikut Mas aja. Terserah mau pulang dulu atau mau salat dulu,” kata Komang Ayu.
“Baik.”
Mereka pun langsung mengarah ke mushola dan pisah di tempat wudhu.
Mukti menunggu Komang Ayu keluar dari ruang salat perempuan.
‘Kok lama banget sih enggak keluar-keluar,’ gerutu Mukti, dia langsung menghubungi ponselnya Komang Ayu.
“Kamu di mana? Dari tadi saya tunggu keluar enggak juga keluar juga, apa sih mau kamu?” cerocos Mukti saat Ayya mengangkat panggilan telepon darinya.
“Aku sejak tadi di depan mobil kok Mas, enggak ke mana-mana,” jawab Komang Ayu.
Mukti tentu saja kaget ternyata dia menunggu seseorang yang sudah menunggu dia di mobil.
“Hobbi banget ya kamu ngomel,” kata Wayan.
“Sejak tadi aku melihat dia di sini sendirian, makanya aku temani dia,” ternyata Wayan menemani Komang Ayu menunggu di depan mobil Ambar.
“Enggak apa-apa kok Kak . Memang seperti itu sudah kewajiban saya Kak,” Komang Ayu menjawab lirih.
__ADS_1
“Kalau memang dia enggak suka kamu jadi pegawainya, bilang aja. Banyak yang mau terima kamu kerja kan?”
“Terlebih sutradara tadi sudah menjanjikan kamu untuk langsung bekerja bila kamu ACC. Jelas-jelas jam kerjanya tepat jam 08.00 sampai jam 05.00, di luar itu kamu akan dapat uang lembur dan kerja kamu cuma hari Senin sampai hari Jumat.”
“Bahkan tadi dia bilang, kalau kamu mau, kamu langsung akan dijadikan bintang pigurannya biar cepat naik jadi bintang utama. Apalagi kurangnya coba?” kata Wayan kesal.
“Enggak lah Kak, saya tetap gini aja. Saya mau langsung resign kok. Saya hanya ingin jadi orang desa dengan papa saya,” jawab Komang datar, tak ada amarah atau kesal.
“Nanti kalau kamu sudah menetap di Badung lagi kita saling komunikasi ya,” pinta Wayan.
“Baik Kak, nanti setelah saya resign baru saya akan hubungi kakak untuk minta nomor telepon,” jawab Komang Ayu.
“Kenapa enggak sekarang aja?” tanya Wayan di depan Mukti.
“Enggak lah, sekarang saya bukan orang bebas.”
“Siapa bilang kamu enggak bebas? Kasih aja nomor teleponmu pada semua orang yang minta,” jawab Mukti ketus. Mukti tambah keqi mengetahui Ayya akan dijadikan artis.
“Tidak Mas, aku tahu diri kok siapa aku ini,” jawab Komang Ayu dengan menunduk.
“Ya sudah ayo sekarang pulang ,nanti kita telat makan malam. Sudah ada Mas Sonny menunggu di rumah,” jawab Mukti.
“Mari Kak Wayan, saya duluan. Nanti akan saya cari Kak Wayan bila saya sudah lepas kerja dari mas Mukti. Saya pasti mau kok komunikasi dengan kak Wayan. Selamat malam,” pamit Komang Ayu.
“Iya Komang, selamat malam,” balas Wayan.
Wayan menepuk pundak Mukti, dia tahu Mukti kesal karena ternyata banyak orang yang sangat suka terhadap Komang. Malah akan menjadikan Komang sebagai artisnya.
Wayan yakin kalau perempuan lain pasti langsung bersorak gembira dan langsung mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh sutradara tadi. Tapi tidak demikian dengan Komang Ayu dia selalu memilah-milah semuanya dengan teliti. Dan Wayan sangat salut pada gadis Bali yang telah memikat hatinya itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
eyank akan buat novel baru, langsung cuss ke sana kalau sudah rilis yaa. Judulnya REGRETS
Ceritanya tentang penyesalan seorang suami yang menyia-nyiakan istri sah nya karena selalu memuja mantan calon istrinya yang telah meninggal!
Langsung kasih bintang 5 kalau sudah rilis yaa
Enggak boleh lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar biar eyank semangat nulis kelanjutan ceritanya
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta.
__ADS_1