CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
CINCIN PERAK


__ADS_3

“Kamu seriusan kan?” tanya Vonny saat dia dihubungi besan sekaligus sahabatnya.


“Apa aku pernah main-main kalau urusan jodoh? Terlebih ini jidih anakmu sendiri, bukankah kamu yang minta Ayu memanggil mama padamu?”


“Aku sedang bingung siapa yang jadi ibunya Ayu saat resepsi pernikahan besok. Kamu atau Laksmi. Terserah kalian bagaimana enaknya,” ucap Ambar,


“Biar aku saja. Laksmi belum punya menantu, jadi nggak boleh kalau kata orang sini. Kalau adat Ambon sih nggak pakai seperti itu. Siapa pun boleh. Tapi kalau adat betawi sini kalau orang belum punya menantu nggak boleh jadi pendamping seorang pengantin.”


“Nggak apa-apa. Anakku laki semuanya jadi aku nggak takut,” kata Laksmi. Rumanya mereka ngobrol dalam group.


“Tapi sebaiknya memang kak Vonny saja. Lebih pantas lah daripada aku,” lanjut Laksmi.


“Tapi Ariel nggak apa-apa? Karena kan sebagai bapaknya tetap ada Wayan?”


“Nggak apa-apa lah. ‘Kan aku hanya pada saat pesta saja. Untuk acara lamaran dan semuanya aku kan nggak ikut. Aku cuma digunakan sebagai ibu saat dipajang ketika resepsi,” balas Vonny.


“Berarti sudah ya. Kita bertiga sudah deal siapa yang akan bertugas menjadi ibu mempelai wanita. Terus tadi aku sudah putuskan bahwa lamaran itu dilakukan di rumah asli keluarganya Ayu. Sekecil apa pun itu, lebih terhormat menerima tamu di sana. Kita nggak boleh membuat orang merasa kecil hati,” ucap Ambar.


“Nah kalau akadnya nanti pakai rumah aku yang di Bali. Yang aku bikin jadi homestay. Itu untuk tempat akad. Aku belum tahu resepsinya mau di mana.”


“Kenapa resepsinya nggak di pantai Uluwatu saja? Lebih bagus nggak usah sewa gedung,” kata Vonny.


“Aku setuju. Mendingan pesta di pantai situ. Kita bikin acara resepsi out door. Coba tanya pengantinnya mau nggak?” ujar Laksmi.


“Pengantinnya menyerahkan pada kita,” balas Ambar.

__ADS_1


“Ya sudah. Aku yang tentukan. kalau begitu resepsinya di pantai Uluwatu,” jawab Vonny.


“Oke siap. Lalu nanti semua keluarga harap menyiapkan ukuran pakaian untuk suami dan istri ya,” pinta Ambar.


“Katanya tadi pakai pakaian adat Bali. Pakaian Bali bukannya kainnya cuma lilit-lilit saja ya?” Kata Vonny.


“Ha ha ha, ngawur ah.” ucap Laksmi.


“Memangnya akad nikah kita pakai baju apa? Akad nikah kan pakai baju Jawa. Akad nikah nanti pakai adat Banyuwangi. Lalu untuk lamaran kan kita pakai seragam. Itu selain yang untuk resepsi,” kata Ambar.


“Kayaknya waktu lamaran Adel kalian nggak pakai seragam?”


“Pakai,” kata Laksmi.


“Aku malah lupa,” jawab Vonny.


Mereka terus diskusi semua hal karena waktunya mepet hanya satu bulan persiapan sebelum lamaran, dan 2 minggu kemudian semua sudah harus fix saat mereka sudah di Bali.


Seperti juga Abu Sonny dan Aksa, Laksmi juga akan langsung kembali ke Surabaya sehabis lamaran karena dia tetap harus bekerja dan anak-anak harus tetap sekolah. Nanti kembali lagi saat akan pesta pernikahan.


“Kamu mau maharnya apa Yank?” kata Mukti. Mereka sedang duduk di teras belakang rumah Abu. Wayan dan Made sedang duduk di teras depan karena Made sedang merokok dan Wayan menemani.


“Aku terserah Mas saja,” jawab Ayya.


“Honey, bisa nggak kamu rubah apa-apa terserah Mas? Mas nggak suka loh,” ucap Mukti.

__ADS_1


“Aku akan berpendapat, kalau memang harus berpendapat Mas. Tetapi namanya mahar itu kan memang pemberian dari pengantin lelaki ke pengantin perempuan. Jadi sebenarnya salah kalau pihak perempuan menentukan mahar. Seharusnya ya orang laki yang menentukan dia mau kasih apa. Misalnya dia cuma kasih rp 1.000 karena kemampuannya itu, ya sudah pihak perempuan harus menerima. Nggak bisa pihak perempuannya minta rp 10.000. karena itu di luar kemampuan pihak lelaki. Itu yang aku tahu Mas,” jawab Ayya.


“Kamu kalau kayak begitu aja jawabnya ngotot kan?” ucap Mukti.


“Katanya aku harus berpendapat. Begitu aku berpendapat katanya aku ngotot gimana sih?” Ayya merajuk disebut ngotot oleh tunangannya.


“Oke. Aku akan cari mahar kita sesuai kemampuaanku. Bagaimana kalau  besok kita cari cincin nikah?” usul Mukti.


“Aku nggak ingin cari cincin nikah di sini Mas. Kita cari di Kota gede yuk? Kita pakai cincin perak. Karena orang lelaki kan nggak boleh pakai cincin emas. Jadi aku juga pakai perak saja. Bagaimana?” usul Ayya.


Ketika kemarin dia ke Jogja mereka sempat mampir ke Kota gede tempat pengrajin perak terkenal di Jogja. Itu sebabnya Ayya ingin cincin perak dari Kota gede, Jogja.


“Di Bali juga ada tempat pengrajin perak,” jawab Mukti.


“Tadi katanya aku diminta membuat pilihan. Aku kepengen yang Kota gede saja. Sekarang ngajakin di Bali. Bagaimana sih?” sungut Ayya. Membuat Mukti gemas meohat wajah Ayya yang sedang merajuk itu.


“Ya oke. Lusa kita diam-diam ke Jogja ya? Kita ke sana tanpa bilang Mas Sonny atau siapa pun. Naik Prameks saja yang paling pagi. Bagaimana?”


“Memang lusa jadwal kita kosong?”


“Kosong kayanya, tinggal beberapa yang belum selesai berkasnya. Kalau ruangan kan semuanya sudah kosong dari kemarin. Sudah kita kembalikan dan serah terima juga. Tinggal beberapa berkas yang belum selesai. Kayanya akhir minggu ini kita sudah bisa pulang ke Bali sih, enggak perlu dua minggu lagi,” ucap Mukti.


“Kalau akhir minggu ini kita sudah bisa pulang. Ya kita pulang tiga hari kemudian saja Mas. Jangan terlalu lama disini. Jangan nunggu tiga minggu lagi. Masalahnya kan kita juga harus ngobrol sama papa harus persiapan di sana,” kata Ayya.


“Oke, kamu benar jadi kita pulang dipercepat saja, tapi tidak bareng dengan Wayan dan Made, karena mereka pulang pasti begitu selesai semua berkas.

__ADS_1


“Kita tiga hari sesudah mereka saja, jadi kita masih ada lah waktu buat jalan-jalan di sini seperti kemauan Mas.”


__ADS_2