
“Papa di mana?”
“Di ruangan Ma. Papa nggak ke mana-mana kok. Baru saja masuk habis jumatan. Kenapa?” tanya Abu
“Mama on the way ke situ. Papa siapin makan siang,” pinta Ambar.
“Ada apa Ma? Kenapa?” tanya Abu bingung.
“Sebentar sampai situ Mama cerita. Pokoknya diam di situ,” jawab Ambar sambil mematikan sambungan pembicaraan di wirelessnya.
Tanpa diminta Abu langsung pesan pada Sri makanan kesukaannya Ambar. Dia langsung bicara pada Sri minta disiapkan makan siang untuk Ambar dan dirinya.
“Ada apa Ma?” tanya Abu pelan saat istrinya tiba. Makanan baru datang. Pegawai kantin baru keluar saat Ambar masuk ke ruangannya.
“Makan dulu Pa, makan. Nggak bisa kalau ngomong dulu. Nanti akhirnya kita nggak makan,” ucap Ambar. Dia pun langsung mulai makan. Abu tentu ssaja bingung melihat bagaimana kelakuan istrinya. Tak pernah seperti itu Ambar selama mereka menikah.
“Ayo sudah selesai. Kita cerita. Mama tuh bikin Papa penasaran saja,” kata Abu.
__ADS_1
“Kemarin Mama itu dapat telepon dari Ayu ….”
“Mama dapat telepon dari Ayu, lalu Mama nggak cerita sama Papa?” tanya Abu tak percaya.
“Papa mau dengar ceritanya apa mau protes?” kata Ambar. Tadi kalimatnya belum selesai sudah dipotong oleh Abu.
“Ya oke Ma, Papa mau dengar ceritanya,” Abu mengalah.
“Kemarin Ayu telepon. Mama tentu saja kaget waktu terima telepon. Dia kan dia bilang mau ketemu Mama face to face dengan catatan apabila bocor ke satu orang saja dia tidak akan pernah lagi menjadi bagian dari kita. Jadi Mama tidak boleh memberitahukan siapa pun,” ucap Ambar.
“Harusnya kan Mama bilang saja ke Papa. Papa juga nggak bakal datang kalau ancamannya seperti itu. Tapi setidaknya kan Papa jadi tahu,” tetap saja Abu ngeyel protes mengapa tak diberitahu.
“Abis Mama sih bikin penasaran. Kalau tahu ketemuan kan jadi Papa pengen tahu,” kata Abu.
“Nah bener kan. Kalau Papa tahu, Papa jadi pengen ikut. Bahaya! Akhirnya kita keluarga bubar semua. Makanya Mama menahan diri tak cerita dari semua.”
“Pantas sepertinya sejak kemarin Mama gelisah.”
__ADS_1
“Bagaimana enggak gelisah, mau ketemu Ayu, orang yang kita cari selama ini,” kata Ambar.
“Terus bagaimana, bagaimana?” kata Abu tak sabar.
“Iya, dia cerita semuanya. Jadi waktu hari Sabtu kan dia telepon tuh waktu Mukti ngilang nggak ada sambungan kan Pa?”
“Waktu hari Minggu siang dia telepon Mukti ada di suatu daerah yang senyap, tapi Mukti bilang ada di pameran. Sedangkan Ayu-nya di pameran.”
“Saat itu Ayu sudah tahu Mukti selingkuh karena ada perempuan nangis di sebelah Mukti. Jadi dia mulai hari Minggu tuh sudah tahu ada sesuatu yang enggak beres dengan Mukti. Sampai Mukti nggak pulang malam itu. Kebayang kan bagaimana rasanya dia dibohongin sama Mukti?”
“Saat itu yang dia tahu adalah Mukti bermain perempuan entah nakal atau bagaimana. Perempuannya nangis pasti dong namanya ada perempuan nangis pasti dia peluk atau dia bujuk dan segala macamnya itu ada dalam pikiran Ayu. Mama juga nggak tahu bagaimana kelakuan Mukti saat perempuan tersebut menangis. Yang pasti Ayu mendengar bahwa perempuan tersebut menangis!”
“Lalu sudah kan hari Senin dia tetap tidak bicara dengan Mukti karena tahu Mukti sudah menginap dengan perempuan lain.”
“Hari Selasa siang video itu sudah sampai ke tangan Ayu Pa!”
“Astagfirullah dia dapat hari Selasa siang kenapa dia nggak ngomong sama kita?” sesal Abu.
__ADS_1
“Tuh kan kalau tadi kita belum makan, pasti kita nggak jadi makan karena kita langsung nggak minat makan sama sekali sebab sudah kesal duluan.”
“Pokoknya video itu sampai hari Selasa siang. Sepanjang malam dia berpikir mau kabur hari Rabu subuh, itu niat awalnya dia. Ternyata dia dengar pembicaraan bahwa Mama sama eyang hari Rabu pagi mau ke bank. Jadi akhirnya diatur lah larinya itu hari Rabu pagi sesudah rumah kosong. Jadi dia pergi leluasa karena bilang mau ke tempat Sri.”