
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Kamu ngapain sibuk masak?” tegur Mukti pada Ayya.
“Enggak sibuk kok. Cuma sebentar aja tadi masak. Dari tadi kan sudah selesai. Hari ini kerjaan dari galeri enggak terlalu banyak. Tadi hanya Mbak Sita yang bilang ada tamu dari Jepang, tapi dia tidak butuh kedatangan Pak Mukti. Cabang yang lainnya sama sih. Seperti biasa tanya stok barang di studio juga tanya jadwal Bapak kapan ke galeri dan seperti jadwal yang ada di sini aku bilang Bapak enggak bisa ke galeri sampai pulang dari Jakarta karena sedang produksi.”
“Terus apalagi?” tanya Mukti. Dia tak protes dipanggil bapak karena sedang bicara masalah kerjaan.
“Enggak ada Pak. Enggak ada kegiatan yang harus Bapak datangi kecuali tadi Pak Putut Adhyaksa bilang ingin bicara dengan para saksi.”
“Makanya nanti malam mereka kan akan datang buat bicara sehingga kita tidak salah kata-kata pada saat persidangan,” tegas Mukti.
“Kalau semua bicara jujur sesuai dengan kejadian pasti enggak ada yang harus diatur Pak. Ngomong aja sesuai kejadian, nggak ada yang harus ditutupi dengan kebohongan yang lain,” ujar Ayya.
“Masalahnya kita kan datang di pengadilan lusa, sesudah itu datang lagi nanti setelah kita pulang dari Jakarta. Jadi kita enggak bisa datang saat mereka bersaksi,” kata Mukti.
“Nah itulah Pak, untuk kesaksian kita selanjutnya di persidangan kan nunggu jadwal Jakarta lalu Solo,” ujar Ayya.
“Dari Jakarta kita langsung balik aja ke studio. Enggak usah ke Solo dulu. Kalau ke Solo dulu nanti kasus di pengadilan tertunda dan waktu produksiku pun kepotong. Kita ke Solo sesudah kasus di pengadilan sini selesai,” tegas Mukti.
__ADS_1
“Baik Pak. Nanti aku bilang ke mama kalau dari Jakarta kita langsung ke Bali dulu. Sesudah dari Bali kita langsung terjun ke Solo sekalian buat pameran,” kata Ayya. Dia akan mencatat semuanya di buku kerjanya Mukti biar enggak salah-salah walaupun itu laporannya ke ibunya Pak Mukti sendiri.
“Kamu tekankan seperti itu bahwa dari Jakarta kita enggak bisa ke Solo. Selesaikan masalah dulu di sini nanti setelah itu baru kita ke Solo selama 2 bulan.”
“Bukannya 3 bulan ya Pak? 2 bulan persiapan, 3 minggu acara dan satu minggu sesudahnya adalah penyelesaian acara.”
“Iya maksud aku 3 bulan. 2 bulan kita kan bisa bicara dengan mama. Tapi satu bulan saat acara tentu waktu kita terbatas.”
“Iya Pak, akan saya sampaikan seperti itu.”
“Tadi kamu bilang kamu masak sedikit. Kamu bikin apa?”
“Yang buat malam aja kok Pak buat para tamu. Kalau yang siang ini semua dimasak Bu Pinem,” kata Ayu sambil menyendokan nasi buat Mukti. Memang mereka sedang bersiap makan siang makanya bisa ngobrol bareng.
“Sudah Mas lihat nanti aja buat kejutan. Kalau Mas lihat sekarang nanti Mas minta. Aku belum finishing baru setengah matang,” ujar Ayya. Sudah kembali ke model santai, sudah kembali panggil mas.
“Tadi bu Ikhlas bilang kalau biasanya teman-teman Mas itu pulang sampai tengah malam atau bahkan dini hari. Kalau itu terjadi Mas enggak perlu takut. Aku akan bikinkan mereka nasi goreng seafood. Aku sudah siap semua bahan nya kok.”
“Mereka memang tidak bisa kita atur waktunya kecuali mungkin Ketut yang memang masih ada bayi. Mungkin sekitar tengah malam dia harus pulang. Yang lain kan bebas, biasanya mereka bisa sampai dini hari.”
“Nanti aku masakin kalau mereka memang di sini sampai dini hari atau tengah malam. Enggak apa-apa kok. Sudah aku siapkan, Mas enggak perlu ragu. Sudah ready baik tenaga maupun waktu, bahannya juga sudah lengkap semua.”
“Terima kasih ya kamu malah perhatian untuk itu. Mas pikir kalau tengah malam ya biasanya kita cuma ngopi aja sepanjang malam.”
__ADS_1
“Aku kasih dispensasi satu cup kopi pada saat sesudah makan malam karena pagi ini tadi Mas sudah ngopi duluan. Nanti aku ditegur Kak Adel Kalau Mas konsumsi lebih dari satu gelas satu sehari.”
“Kak Ade itu ternyata kayak sipir penjara ya?” canda Mukti.
“Kok kayak sipir penjara? Apa hubungannya?” tanya Ayya bingung.
“Galak!”
“Aku laporin ke Kak Adel loh,” ancam Ayya sambil tersenyum.
“Kamu juga sama aja kayak detektif.”
“Koq detektif?”
“Lihat sana lihat sini laporin ke Kak Adel,” Mereka pun tertawa dan meneruskan makan siang mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok.
__ADS_1