CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MAS ENGGAK SAYANG KAMU


__ADS_3

“Mas bangun dong, mas jangan bikin aku khawatir,” kata Ayya sambil mengusap kening Mukti. Dia tadi membawa wash lap dan air biasa bukan air es atau air panas. Dia taruh wash lap di kening Mukti.


“Mas bangun ,” bisik Ayya lagi, sekarang sambil terisak. Bu Pinem yang mengantar teh jadi trenyuh melihat bagaimana Ayya menangisi kekasihnya.


“Ini tehnya Mbak,” kata bu Pinem.


“Ibu lari beli obat ya Bu, jangan sampai telat dan jangan lama tapi tolong bantu naikkan kepala Mas Mukti dulu biar agak tinggi biar bisa minum pakai sedotan,” kata Ayya.


“Mas bangun Mas. Minum teh panas dulu yuk, kata kak Adel suruh minum air teh manis hangat, ini aku banyakin madunya.” ucap Ayya.


Mukti membuka matanya dia ingin menarik bibir untuk tersenyum tapi tak sanggup hanya matanya saja melihat Ayya dengan ucapan terima kasih. Akhirnya dengan susah payah dan pelan Mukti mengangkat tangannya dan menghapus air mata di pipi Ayya.


“Habiskan ya, biar Mas sembuh. Kita punya proyek besar loh Mas. Mas nggak boleh sakit,” kata Ayya sambil berbisik. Mukti hanya mengedipkan matanya sebagai ganti mengangguk. Dia benar-benar sangat lemah.


“Mulai besok sudah nggak boleh begadang ya. Jam 12.00 adalah jam kerja maksimal habis itu tidur. Apa pun kondisinya tidak boleh begadang,” omel Ayya.


“Habiskan sedikit lagi Mas, habis itu nanti nunggu minum obat yang dibelikan oleh bu Pinem. Dia sedang ke apotek disuruh beli obat sama kak Adel,” jelas Ayya.

__ADS_1


Ayya terus mengkompres kening Mukti. Berkali-kali dia celup wash lap ke air, dia peras lalu ditempelkan ke kening kembali.


“Ini Mbak,” kata Bu Pinem memberikan obat pada Ayya.


“Minum dulu ya Mas,” Ayya memberikan 2 butir obat rekomendasi Adel yang di beli oleh bu Pinem pada Mukti.


“Mbak Ayu makan dulu. Nanti Mbak Ayu sakit,” kata Bu Pinem yang mulai ikut memanggil Ayu seperti keluarga lainnya karena sejak tadi ibu Ambar telepon menanyakan Ayu bukan Komang. Padahal dia tahu panggilan spesial pak Mukti bukan Ayu. Tapi panggilan special kan memang tak boleh digunakan oleh orang lain.


“Iya Bu nanti saya makan. Tolong ibu buatkan bubur ya. Beri santan kental dan garam biar gurih,” kata Ayya.


“Lauknya buatkan semur daging dari daging giling aja. Jadi lebih mudah dicerna dan cepat matang,” pinta Ayya.


“Mas cepet sembuh ya,” bisik Ayya.


Mukti berupaya menggapai tangan Ayya di keningnya dia genggam jemari Ayya dengan pelan tak bisa menggenggam erat karena memang dia sangat lemas.


“Mas nggak sayang aku kan?” Ayya merajuk.

__ADS_1


“Enggak Mas enggak sayang kamu,” kata Mukti lambat mengucap kata per kata dengan pelan.


Ayya menatap lekat mata tunangannya yang mengatakan bahwa pria itu tidak menyayanginya. Rasanya dia tak percaya mendengar pengakuan lelaki itu.


“Mas cinta banget sama kamu,” Mukti melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus.


“Jangan pernah meragukan itu,” begitu Mukti bicara kata perkata dengan sangat lambat.


“Ayya menempelkan pipi kanannya di pipi kanan Mukti dia memeluk pria itu yang sedang terbaring. Ayya membaringkan badannya dengan posisi duduk tentunya.


“Kalau Mas sayang aku, Mas cepat sembuh,” bisik Ayya. Tentu saja mudah karena posisi mulutnya memang ada di telinga kanan Mukti.


‘Mas hanya merasa tak pantas mencintai kamu Yank,’ keluh Mukti dalam hatinya.


Rupanya sepanjang malam Mukti menyesali jalan hidupnya sehingga dia berpikir keras bahwa dia tak pantas untuk seorang Ayya yang masih polos dan lugu.


Dirinya hanyalah seonggok sampah yang tak ada gunanya. Seonggok sampah yang kebetulan diangkat oleh Ambar dan Abu sehingga bisa sedikit bersih, tapi sebelum bersih dengan benar sudah kembali dijebloskan menjadi kotoran oleh Menur.

__ADS_1


Mukti menyesali jalan hidupnya, itu membuat dia depresi sehingga sekarang panas. Kisah ini tak mungkin dia tuangkan pada tempat penampungan di dadanya Ambar. dia tak mau membuat namanya terluka bila dia menceritakan hal ini. Mukti tak punya tempat berbagi lagi sehingga akhirnya pikirannya kalut membuat dia drop.


__ADS_2