
“Wah ketemu lagi sama makanan yang membuat aku jatuh cinta sama kamu dulu pertama kali,” kata Aksa pagi ini melihat ada nasi goreng kambing buatan Ayya.
“Woow juga ada acar mentah yang sangat aku sukai,” ucap Aksa. Karena acar buatan Ayya itu bukan hanya cabe, timun, wortel dan bawang merah yang di iris, tapi juga ditambah dengan potongan nanas membuat acarnya semakin segar.
“Eyang jangan pakai emping ya. Pakai kerupuk biasa saja,” kata Ayya. Ayya sadar Angga harus dikurangi asupannya karena nanti terlalu tinggi kolesterol setelah makan daging kambingnya. Itu sebabnya Ayya menyediakan kerupuk biasa untuk teman makannya eyang Angga.
“Papa jadi malas kerja kalau seperti ini,” kata Abu ketika menerima nasi penuh nasi goreng dari istrinya. Di piring ada tambahan garnis tomat iris juga daun selada dan dadar telur.
“Wah payah nih Ma, bilang saja Papa pengennya di kamar kan?” goda Mukti pada Abu.
“Ih bukan itu, maksud Papa. Papa enakan di rumah saja karena makan enak terus. Nanti siang katanya menunya rujak cingur, gimana coba Papa nggak ingin di rumah saja. Bukan karena efek kambingnya. Kamu ini sudah mulai nakal otaknya,” Abu balas menggoda Mukti.
“Aku masih kecil loh, nggak ngerti efek dari kambing,” timpal Ayya menjawab candaan Abu pada tunangannya.
__ADS_1
Tentu saja mereka akhirnya tertawa. Sekali lagi Ambar bersyukur menantunya bisa membuat suasana rumah ini semakin ramai.
Ambar juga senang tadi malam Ayya sudah berani masuk ke kamarnya Mukti menaruh belanjaan mereka. Tadi malam selain makan sate buntel Ayya dan Mukti juga belanja beberapa pakaian karena Mukti juga tidak bawa banyak baju.
Semalam Mukti hanya membeli beberapa kaos dan kemeja tangan pendek saja di mall yang mereka datangi saat mereka beli minuman untuk mengurangi rasa sakit saat Ayya menstruasi.
Beli bajunya tidak niat khusus, kebetulan mereka lihat toko pakaian besar di mall yang mereka datangi sehingga langsung beli baju.
Mereka juga sempat mampir ke satu butik besar. Ayya membeli rok sarimbit dengan kemeja panjang untuk Mukti. Tentunya karena di butik besar harganya juga lumayan, sebab mutunya juga sangat bagus. Mukti bilang itu akan mereka gunakan untuk acara pembukaan pameran. Tentu saja Mukti minta Ayya beli sepatu dan tas yang sesuai dengan warna gaun itu. Mereka beli warna hijau lumut. Celana dari bahan corduray untuk Mukti berwarna hijau lumut juga benar-benar serasi dengan kemeja sarimbit atau couple dengan gaun Ayya.
“Alhamdulillah ada semua Mbak Ayu. Tapi saya lupa loh kayaknya stok gula merah di rumah habis, nanti saya beli ke warung saja deh,” jelas bu Parman.
“Gula merah buat masak apa Yu?” tanya Ambar.
__ADS_1
“Bukankah masakan kamu nggak ada yang pakai gula merah?”
“Itu Ma, aku mau bikin kunir asam, tapi enaknya pakai gula merah saja.”
“Kamu lagi mens?” tanya Ambar.
“Iya, semalam aku memang sudah beli minuman instan yang di botol. Tapi kalau untuk hari-hari aku lebih sreg bikin saja Ma,” kata Ayya.
“Ya sudah beli di warung saja kalau memang gula merahnya habis. Mama kemarin pakai buat apa ya lupa terakhir itu. Oh pas Mama bikin bubur sumsum itu Yu. Jadi mungkin lupa beli lagi.
“Ah bener, Ibu kemarin habis bikin bubur sumsum waktu habis pulang dari Bali,” kata Bu Parman.
“Pasti gara-gara Mama di sana belum puas makan bubur sumsum ya Ma,” kata Ayya yang hafal mertuanya dan kak Adel suka banget sama bubur sumsum.
__ADS_1
“Iya rasanya waktu pas di Bali belum puas makan bubur sumsum, jadi Mama bikin lagi waktu sampai Solo. Ketika di Jogja juga gitu sama Adel. Kayanya nggak puas kalau nggak makan bubur sumsum itu dalam jumlah banyak dan buburnya itu bikin sendiri. Karena kalau beli rasa gurih santannya itu kurang,” jelas Ambar.