CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MAMA AMBAR PEREMPUAN HEBAT


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hari ini hanya rapat kecil sebelum Wayan, Silvana dan Mukti kembali ke Pulau Bali. Mereka hanya menyerahkan kumpulan hasil meeting hari Selasa.


“Aku langsung pulang ya, aku akan bersiap-siap ke Jakarta esok pagi ternyata Mas Sonny menjadwalkan penerbangannya besok pagi untuk tiba di Jakarta. Tadinya aku pikir dia akan memesan besok malam.” Mukti memberitahu Trisno dan Wayan akan segera pulang. Bahkan dia sengaja menggunakan motor matic operasional bu Parman.


“Oh ya selamat untuk pak Sonny ya, aku beberapa kali bertemu dengan dia ketika ke rumah lamamu di Denpasar dulu,” Wayan memang kenal dengan Sonny karena dia dan Made sering ke rumah Ambar.


“Ya nanti aku sampaikan salammu, kamu kapan kembali ke Bali?” tanya Mukti.


“Nanti sore aku langsung pulang,” jawab Wayan.


“Lho, bukannya kita pulang besok?” tanya Silvana, gadis itu tak tahu perubahan jadwal yang Wayan katakan barusan.


“Kita? Kamu kali yang pulang besok. Saya nanti sore dan saya tidak ada urusan dengan kamu. Saya sudah ubah jadwal yang diberikan oleh provinsi untuk diri saya sendiri,” dengan tegas Wayan menjelaskan siapa dirinya yang tak mau digunakan sebagai umpan oleh Silvana.


Silvana harus menelan ludah dan menanggung wajah malu karena ternyata dia sudah tak dianggap lagi oleh tim kecil ini.


Hari ini Ayu tidak ikut meeting karena Mukti bilang tidak terlalu penting untuk dia ikut hadir pada rapat penyerahan berkas.


“Kenapa dibawa semua?” tanya Bude Parman melihat Ayya melipat semua bajunya yang baru kering dari cucian.

__ADS_1


“Aku kan akan langsung terbang ke Bali Bude,  habis lamaran mas Sonny aku kembali Bali dulu. Mas Mukti bilang dia banyak pekerjaan di Bali.” jawab Ayya cepat.


“Oh gitu, pantas kok dibawa semua. Kenapa sebagian enggak ditinggal di sini aja? Nanti kan ke sini lagi,” ucap bude Parman.


“Enggak usahlah ditinggal sini nanti jadi ngerepotin. Malah kamar ini jadi enggak bisa dipakai oleh orang lain.” tepis Ayya yang selalu memikirkan orang lain.


“Enggak apa apa lah tinggal di sini,”


“Enggak Bude, nanti aja kapan-kapan aku bawa lagi ke sini kok.” Ayya menjawab desakkan bude Parman dengan bijak.


“Bawa mereka walau hanya pulang pergi. Kamu jangan hanya berdua Dwi,” ucap Ambar pada Laksmi yang mengatakan hanya akan datang berdua suaminya pada acara lamaran Sonny.


“Kami dari sini berangkat besok pagi. Nanti kami bookingkan kamar untuk kalian,” Ambar bilang enggak boleh tidak bawa anak-anak walaupun hanya pulang pergi.


“Ya wis Mbak, kami tunggu anak-anak pulang sekolah lalu kami berangkat ke Jakarta,” jawab Laksmi.


“Enggak mungkin kan keluarga calon mempelai melamar hanya beda kamar tapi satu rumah? Kami harus datang dari luar kan?” jawab Ambar.


“Iya juga ya?” Laksmi memutuskan dia akan berangkat hari Jumat sore lalu pulang kembali ke Surabaya hari Minggu tanpa anak-anak piknik yang penting anak-anak tahu lamarannya Adelia. Naik bajaj dan lainnya nanti pas saat liburan saja.


“Itu barang-barang apa Bude?” tanya Komang Ayu


“Semalam mas Sonny bilang barang dari Jogja akan datang hari ini. Itu sebagian barang-barang dari Jakarta dari rumah Jakarta yang sudah dijual lalu dari rumah Bali yang sudah dijual juga rumah Surabaya. Paling hanya baju surat-surat dan foto segala macam sih enggak ada barang berharga karena atau barang besar karena semua barang kan dijual dengan rumahnya.”


“Oh gitu.”

__ADS_1


“Iya rumah Jakarta kan tidak ada yang pakai lalu perusahaan di Jakarta kan juga ditutup karena kasusnya Mbak Vio itu, lalu perusahaan pindah ke Solo sini,” Kata bude Parman.


“Kalau rumah Bali dan Jakarta dan Surabaya kenapa Bude?” tanya Komang Ayu.


“Kalau rumah Surabaya kan mereka enggak mau tinggal di sana lagi karena mengingatkan pada eyang Menur istri eyang Angga yang berbuat jahat sama juga dengan rumah di Bali.”


“Oh karena kasus itu, aku tahu kalau kasus itu. Mas Mukti sudah pernah cerita, tapi aku enggak berpikir bahwa rumahnya harus dijual untuk menghilangkan kenang-kenangan itu.” Komang Ayu ingat Mukti pernah cerita semua tentang keluarganya saat habis melihat Vio bunuh diri.


“Semua rumah dijual kecuali rumah Bali dijadikan homestay. Kalau Villa Ibu punya banyak. Perusahaan ibu di Surabaya yang mengelolanya tante Laksmi.”


“Mama punya perusahaan?” tanya Komang Ayu. Info ini dia baru dengar.


“Punya malah punya ibu Ambar sendiri, bukan dari warisan seperti punya pak Abu. Bu Ambar membuatnya saat masih lulus SMA.”


“Wow mama tuh hebat ya,” Komang Ayu makin kagum terhadap Ambar yang ternyata bukan ibu rumah tangga biasa.


“Yang Bude tahu sih begitu, bude juga dengar-dengar aja sih,” Kata bude Parman.


“Aku pikir perusahaan itu milik orang tuanya mama,” Komang Ayu memberi opininya.


“Bukan Mbak, orang tuanya Bu Ambar itu pejabat eselon di departemen pertanian bukan pengusaha,” bude Parman tahu semua karena dia ikut sejak Mukti kecil dan Aksa belum lahir. Bahkan dia baru tahu Mukti bukan anak bu Ambar ketika Mukti akan kuliah di Paris. Selama ini keluarga Lukito tak pernah cerita apa pun. Bude Parman mendengar tak sengaja ketika eyang Menur menasehati Ambar saat menangisi kepergian anak sambungnya kuliah.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.

__ADS_1



__ADS_2