
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Jangan lupa ke apotek Mas,” kata Ayya pada Mukti.
“Ya,” jawab Mukti. Mereka baru masuk mobil hendak pulang. Ayya meletakkan dimsum yang dia beli untuk Angga dan Ambar di jok belakang. Terdengar notifikasi ponselnya Ayya.
Ayya mengambil dan melihatnya lalu membaca, ada senyum kecil di bibirnya. Tak lama kemudian Ayya sibuk membalas pesan tersebut.
“Bahagia ya rasanya kalau dapat pesan dari pacar,” sindir Mukti.
“Dia bukan pacar saya,” jawab Ayya tanpa beban.
“Kalau dia pacar kamu juga enggak apa-apa lah, soalnya aku dengar kok tadi dia bilang dia sudah minta kamu sejak SMA,” ada nada cemburu pada jawaban Mukti kali ini. Padahal dengan Vio Mukti tak pernah cemburu.
Dengan Vio, Mukti memang posesif pada semua orang tapi tak ada yang dia cemburui secara personal.
“Benar, waktu SMA Arjun memang meminta saya jadi pacarnya. Tapi saya pikir itu hanya omongan anak kecil. Saya belum pernah punya niat untuk pacaran saat itu dan Arjun itu sangat ganteng. Dia banyak pemujanya. Apalah artinya saya yang hanya anak seorang tukang jualan kue?”
“Saya hanya siswa yang tidak kaya di sekolah tersebut jadi saya tak mau bersaing dengan para bunga sekolah yang super cantik dan super kaya. saya tahu diri kok. Itu sebabnya ketika Arjun bilang dia mau saya jadi pacarnya saya langsung jawab tidak mau, saya di bully perempuan satu sekolah.”
“Arjun memang bilang dia akan serius hanya pada saya, tapi saya nya yang tidak berani bersaing dengan para bunga sekolah.”
“Tapi kan buktinya dia serius sama kamu,” kata Mukti sambil mulai melajukan kendaraannya menuju rumah kedua orang tuanya.
“Bagaimana bisa melihat orang itu serius ketika baru sekali berjumpa? Kita enggak tahu 3 tahun ini dia sudah punya pacar berapa atau mungkin sekarang dia sedang serius dengan orang lain? Hanya karena kebetulan ketemu saya dia iseng bicara seperti itu.”
“Kalau tiba-tiba saya dilabrak oleh kekasihnya atau istrinya, saya mau bilang apa?” jawab Ayya yang tak mau gegabah menerima keisengan orang yang baru bertemu.
“Menerima cinta seseorang yang baru bertemu itu adalah perbuatan bodoh. Kita tidak tahu latar belakangnya, kita tidak tahu dia sudah punya kekasih atau belum, kita tidak tahu dia sudah punya istri atau belum.”
__ADS_1
“Saya memang perempuan bodoh tapi saya tidak mau lebih bodoh dari ibu. Kisah ibu dan papa adalah kitab suci untuk saya belajar tentang cinta dan kehidupan.”
“Ibu sudah tahu papa punya istri walau ibu tahu bahwa papa tak pernah mencintai istrinya, walau ibu tahu papa menikah hanya karena perintah, walau ibu tahu papa dan istrinya itu jarang berhubungan layaknya suami istri. Tapi seharusnya ibu sadar bahwa cinta ibu dan papa itu tak boleh diteruskan karena papa masih terikat dengan perempuan lain.”
“Kekuatan cinta mereka yang membuat mereka menabrak pagar. Saya tahu saat ibu hamil, papa akan menikahi ibu secara agama Islam tetapi ibu menolak.”
“Ibu bilang kalau mau pindah agama itu bukan karena ada kehamilan. Jadi pindah agamanya karena terpaksa menikah, karena terpaksa ada bayi di dalam kandungan ibu. Itu tidak baik. Itu sebabnya ibu menolak. Kalau memang papa mau pindah agama karena panggilan hati itu akan beda. Ibu pasti akan menerima, itu yang ibu bilang pada papa.”
“Mereka memilih seperti itu, mereka tak mau ada keterpaksaan. Walau papa tak merasa terpaksa tapi ibu yang tidak mau.
Mukti hanya mendengarkan saja, dia masih kesal terhadap Arjun, Mukti juga kesal karena pembicaraannya jadi beralih fokus dari Arjun malah ke urusan orang tua Ayya.
“Kita bukan lagi bahas orang tuamu kan? Kita lagi bahas pacarmu!” kata Mukti ketus.
“Saya enggak pernah pacaran sama dia. Jadi enggak perlu ada yang dibahas.”
“Wajar saya bahagia bertemu dengan seorang teman lama, tapi tidak akan lebih. Saya tahu batasan,” jawab Ayya lalu dia diam.
Ayya tak mau bicara lagi, Mukti pun lupa bahwa dia harus ke apotek Ayya tak mau mengingatkan. Sampai di rumah dia langsung turun membawa ranselnya juga dimsum, lalu langsung masuk kamar setelah memberi salim pada Ambar dan Angga karena saat itu Abu sedang pergi bersama Aksa.
“Wah kamu sudah fresh,” sapa Ambar ramah ketika Ayya keluar sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
“Sudah Ma. Bapak ke mana?” tanya Ayya sambil mengatur dimsum yang sudah dia hangatkan di dandang karena microwave belum pindah ke rumah ini.
“Papa pergi sama adikmu Aksa, sepertinya ada sesuatu yang dia ingin beli,” jawab Ambar.
“Loh ada Aksa?” tanya Ayya. Dia sudah beberapa kali dengar nama Aksa. Tapi tadi pagi belum berjumpa. Walau hari Minggu Aksa berkegiatan jadi saat mereka tiba Aksa sudah tak ada di rumah.
__ADS_1
“Iya papamu pergi pakai motornya Aksa,” balas Ambar. Memang tadi Ayu melihat ada dua mobil baru di garasi. Itu pasti mobil baru yang Mukti cerita kalau kedua orang tuanya pulang karena mobil mereka akan datang hari ini.
“Eyang ini aku bawakan dimsum untuk Eyang dan Mama, aku malah lupa beli buat bapak dan adik Aksa,” Ayya menyebut dirinya aku pada Angga dan Ambar. Tapi kalau pada Mukti dia masih tak berani akrab. Dia masih menyebut dirinya saya.
“Enggak apa apa Aksa dan papa nanti aja,” kata Ambar dia membahasakan diri papa buat Abu. Tapi tentu saja Ayya masih ragu memanggil papa.
“Ayo Eyang kita makan dimsum sambil minum teh, kata Ambar. Mereka bertiga pun duduk di meja makan yang sangat artistik. bentuknya seperti potongan kayu pohon yang sangat lebar tidak kotak atau bulat, benar-benar alami.

“Kamu enggak ikutan makan?” tanya Angga sambil mencelup dimsum ke saos yang disediakan.
“Aku tadi sudah makan Eyang, sudah cukup kenyang,” jawab Ayya.
“Mukti ke mana?” tanya Angga yang belum melihat Mukti kembali.
“Katanya dia ke rumah untuk ngambil beberapa pakaian dan buku Eyang,” kata Ayya. Memang tadi Mukti langsung menuju ke rumah kontrakan yang jaraknya cukup jauh kalau jalanan kaki tapi kalau naik motor atau mobil sangat dekat.
“Oh gitu, kan dia malam ini masih tidur disana, ngapain ambil baju?” tanya Angga.
“Wah enggak tahu kalau soal itu,” jawab Ayya.
“Nanti malam kamu masih tidur dengan Bu Parman dan Pak Parman ya, karena kasur kami baru datang malam ini. Mungkin belum sempat bongkar,” kata Ambar memberitahu Ayya kalau mereka masih tidur di rumah lama semua.
“Iya Ma, enggak apa apa,” jawab Ayya tak terbebani.
“Kalau tempat tidurnya sudah datang semuanya, hanya kasurnya yang datangnya nanti agak malam bersama beberapa barang lainnya,” kata Ambar lagi.
“Itu sebabnya dari tadi Mama enggak berani keluar rumah, takut ada barang datang.”
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1