
“Yank kamu makan duluan gih,” perintah Mukti.
“Nanti aja lah Mas, kita makan sama rombongan keluarga. Kan ada menu khusus buat keluarga. Sekarang masih tanggung ngobrol sana ngobrol sini,” bantah Ayya yang di dekati Mukti. Saat itu Ayya sedang ngobrol dengan sepupu Mukti.
“Dari tadi aku ngemil kok sama Sri. Jadi tenang aja. Sebentar lagi kan sudah selesai juga acaranya.
Memang saat ini sudah jam 21.15 tamu sudah mulai satu persatu pulang karena undangan memang jam 19.00 sampai jam 21.00
“Cinta kabari aku kapan kita bisa bertemu ya,” pinta Carlo yang tiba-tiba ada di depan Mukti dan Ayya.
“Aku enggak berani menjanjikan karena masih padat pertemuan keluarga,” jawab Komang Ayu dengan lugas. Dia tak mau memberi harapan.
“Kali aja kamu ada waktu kosong sebelum kamu pulang ke Bali,” jawab Carlo.
“Aku nggak lama kok di Jakarta. 5 hari lagi juga aku pulang, mungkin lebih cepat karena aku masih ada urusan di pengadilan Bali juga akan ada kegiatan di Solo.”
“Pengadilan? Ada apa?” tanya Carlo kaget.
“Ada orang usil, jadi langsung aku ajukan perkara.” balas Ayya tanpa mau menerangkan detail.
“Maksudmu?”
“Sudahlah enggak usah dibahas yang pasti ada orang yang ingin berbuat jahat pada aku langsung aku perkarakan. Bukan aku sih, tapi orang tua mas Mukti,” jawab Ayya.
“Komang aku pamit ya kalau bisa kita bertemu dulu sebelum kamu pulang,” Arjun ikut nimbrung di sana. Bikin Mukti tambah keqi saja.
“Wah aku juga enggak pulang ke Bali dulu kok. Jadi kamu jangan berharap bisa titip apa-apa. Mungkin aku mau ke Solo dulu,” Ayya sengaja menghindar bila dititipi sesuatu oleh Arjun untuk temannya. Dia tahu itu hanya sarana agar mereka bisa bertemu saja.
“Bisa jadi kita ke Surabaya dulu Yank,” Mukti menyambung pembicaraan Ayya dan Arjun. Carlo hanya diam memperhatikan siapa Arjun sebenarnya buat CINTA nya.
__ADS_1
“Enggak, aku enggak mau titip-titip kok. Aku mau ngobrol aja sama kamu,” kata Arjun tak ragu dan tak bohong.
“Aku enggak janji, mungkin lusa aku sudah pulang dan aku masih sibuk dengan banyak keluarga di sini.”
“Aku mengerti, tapi aku harap kamu ngasih kesempatan aku buat bertemu.” pinta Arjun. Carlo makin mengerti siapa Arjun.
“Nanti aku atur waktu ya, tapi jujur aku tak janji bisa bertemu,” kata Ayya sebelum dia dipanggil Abu.
Akhirnya semua tamu selesai pulang. Jam 10.00 tepat tinggal rombongan dua keluarga yang akan makan meja sudah diatur dengan menu baru untuk.
“Sri ayo kita makan bareng-bareng,” kata Komang Ayu mengajak Sri tentu saja bersama pengantin.
“Kamu kapan?” tanya Eyang Soetiono pada Mukti. Tentu tahu apa yang dimaksud KAPAN oleh eyang Soetiono kan?
“Insya Allah secepatnya Eyang,” jawab Mukti.
“Enggak semuanya lah, Aksa masih jauh,” tolak Abu.
“Ha ha ha iya ya. Aksa masih jauh. Nanti Aksa barengannya sama Fahri dan Farhan aja,” timpal Laksmi.
“Ya jangan bareng Fahri dan Farhan juga lah kelamaan. Mereka aja masih SMP dan SD,” tegas Ambu.
Semua akhirnya tertawa bahagia.
“Kamu beneran mau secepatnya?” bisik Sri.
“Yang mau secepatnya kan Mas Mukti. Bukan aku. Dia kan bukan nikah sama aku. Kenapa kamu tanya itu ke aku?” balas Ayya juga sambil berbisik.
“Ya pasti sama kamu lah,” jawab Sri.
__ADS_1
“Sri, sudah ah. Enggak usah aja bahas, nanti kedengaran orangnya,” pinta Ayya melihat Mukti menghampiri mereka.
“Ayo Yank ambil makan,” ajak Mukti.
Ayya pun mengambilkan apa yang dia rasa cocok buat Mukti karena Mukti sekarang ikut-ikutan makan tanpa pakai nasi.
“Besok kita check out dari hotel jam berapa Mas?”
“Kayanya habis makan siang untuk semua keluarga. jadwalnya jam 13.00 harus keluar tapi kita makan siang dulu sudah di booking oleh Om Ariel,” jelas Mukti.
“Pengantin saja yang di sini sampai 3 hari ke depan.”
“Terus kita baliknya ke rumah mana? Ke rumah yang kemarin awal kita datang atau ke tempat Om Ariel?”
“Ya ke tempat Om Ariel lah.”
“Ooh begitu,” jawab Ayya sambil mulai melangkah ke meja tempat mereka akan makan.
“Memang kenapa?”
“Besok pagi-pagi Sri pulang karena dia harus masuk kerja. Aku mau nganterin dia ke cafe boleh enggak? Mau ngobrol sama teman-teman.”
“Lalu baju dan kopermu?”
“Nanti aku dititipin ke Aksa,” jawab Ayya.
“Enggak usah titip Aksa, masukin aja langsung di mobil. Pagi kamu naik taksi sama Sri ya? Mas di sini sampai semua bubar. Mas menyusul setelah makan siang,” jawab Mukti. Dia memberi izin pada Ayya, karena bersama Sri. Dia pikir di cafe aman tak ada Carlo dan Arjun. Mukti tak tahu di sana ada Dadang dan Kusno yang lebih dulu mencintai Komang.
“Iya Mas.”
__ADS_1