
Ayya masih diam saja. Dia benar-benar memberi kesempatan Mukti bicara sampai tuntas dia tak ingin menyela apa pun. Nanti bila ingin bertanya baru dia akan menyela.
“Setelah telepon kamu tutup, Mas langsung menghubungi Made. Ternyata Made pun sama tapi perempuan yang bersama Made bisa diberi pengertian bahwa mereka memang sama-sama korban. Mas keluar menemui Made, di situ Mas baru tahu ternyata kami ada di kamar penginapan di cafe tempat kami makan siang.”
“Made mengancam kedua mahasiswi tersebut bahwa kami tidak akan pernah mau menikahi mereka. Kami juga korban, kami tidak mau kalau harus bertanggung jawab bila mereka hamil, karena kami sama sekali tidak kenal mereka. Terutama Mas. Bahkan nama dia Mas tahu saat sesudah bersama Made dan Wayan. Jadi benar-benar sampai keluar dari kamar Mas belum tahu nama dia sama sekali.”
“Kami bertiga mengultimatum dua perempuan tersebut kalau sampai mereka cerita ke mana pun Made akan tidak akan memberikan nilai pada mereka dan kalau mereka cerita ya mereka yang rugi karena akan ketahuan mereka bukan virgin lagi. Kalau buat lelaki berita itu tersebar tentu tak masalah terlebih kami berdua bukan perjaka, kami sama-sama duda.”
__ADS_1
Ayya membenarkan pendapat Mukti. Kalau seorang perempuan bercerita pada sahabat, saudara atau orang tuanya suatu rahasia, apa yakin rahasia itu akan aman?
Mulut sahabat atau saudara siapa yang jamin akan terkunci tak membiarkan cerita itu pindah ke telinga orang lain?
Sedang kalau orang tua pasti akan mencak-mencak dan minta pertanggung jawaban sehingga akhirnya akan tersiar beritanya ke mana-mana.
“Belum, Made belum ada calon istri. Tapi syarat jadi istrinya adalah bisa jadi ibu sesungguhnya untuk Pram! Jadi kalau perempuan itu hamil dan harus dinikahi, ternyata dia tak cinta Pram, kan repot. Pram adalah segalanya untuk Made.”
__ADS_1
“Soal kerugian mereka sehingga jadi tidak virgin, kan bukan keinginan kami. Kami juga nggak melecehkan mereka, tidak ada paksaan atau kekerasan. Kita sama-sama nggak sadar dan tidak ada pemaksaan itu poinnya.”
“Lalu sampai lewat magrib Made, Mas dan Wayan mencari cara dengan berdiskusi, diskusi dan diskusi. Baru kami pulang setelah maghrib. Itu kejadian yang sebenarnya versi Mas saat itu. Jadi benar-benar tidak ada apa pun diantara Mas dengan dia apalagi perselingkuhan. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya Made dan Wayan.”
“Karena cuma ada dua perempuan yang tersisa yang dua katanya sudah pulang lebih dulu, Wayan itu tidak ditaruh di kamar seperti kami berdua. Wayan ditidurkan di amben ( dipan atau bale) dapur, di ujung dapur cafe tersebut. Ada suara berisik masak sampai siang dia sama sekali nggak mendengar karena kan memang kami bukan tidur biasa tapi karena pengaruh obat. Jadi Wayan pun bangun barengan sama Mas dan Made. Mungkin level kerja obatnya sama. Kami sadar dalam waktu yang hampir bersamaan. Tidak ada yang lebih lama atau lebih dulu. Selisih kami hanya beberapa menit. Bahkan Wayan pun yang tidak ngapa-ngapain bangunnya tetap sama dengan Mas dan Made.”
“Jadi Wayan nggak ada perempuan yang menemaninya?” tanya Ayya.
__ADS_1
“Nggak ada. Katanya yang dua sudah pulang. Mungkin kalau ada, Wayan juga kena jebak.”