CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KARENA KAMU ADALAH AKU!


__ADS_3

“Mas enggak mau makan nasi,” pinta Mukti.


“Terus Mas maunya makan apa?” Ayya bingung mau isi apa piring kosong Mukti.


“Pokoknya tanpa nasi lah, ayo jalan kan nanti terlihat menu apa saja yang tersedia,” kata Mukti.


“Tumben sih Mas enggak mau pakai nasi?”


“Mas lihatin kamu setiap pesta atau jamuan pasti enggak pernah makan nasi. Jadi Mas ikutin kamu lah. Cuma makan sayur sama ikan atau ayam aja,” jawab Mukti.


“Sayur kuah seperti sop atau soto saja kamu enggak pernah makan bila di acara jamuan,” jawab Mukti lagi.


“Ngapain Mas perhatiin aku? Perut Mas kan beda sama aku?”


‘Karena kamu adalah aku!’ batin Mukti.


“Makanya Mas selarasin sama kamu, biar bisa mengerti kenapa kamu makan enggak pakai nasi,” jawab Mukti. Dia tak menolak sayuran dan ikan serta daging yang Ayya berikan.


“Kalau aku makan nasi nanti makan lauknya enggak banyak. Dan enggak bisa makan yang lain,” jawab Ayya.


“Halaaah, pasti kamu takut gendut kan?” goda Mukti.


“enggak juga sih Mas. Aku makan banyak juga enggak gendut. Semua direbut sama cacing di perutku,” jawab Ayya santai. Dia ambil mangkuk kecil untuk asinan.


Mukti memegang piring sendiri, tapi isinya semuanya diambilkan oleh Ayya.


Dari jauh Aksa dan eyang Angga saling lirik dan tersenyum simpul melihat bagaimana Ayya meladeni Mukti dengan telatennya.


“Ambil minumnya nanti Mas aja. Kamu duduk dan pegangin piring Mas,” kata Mukti sambil mereka cari meja kosong.


“Piringnya enggak usah dipegangin lah taruh aja di meja terus Mas ambil minum,” jawab Ayya.

__ADS_1


“He he lupa. Mukti menaruh piringnya di meja. Dia pindahkan dua kursi lainnya ke meja kosong dekat meja mereka.


“Kenapa dipindah Mas?”


“Biar cuma kita berdua, enggak ada yang ganggu,” jawab Mukti lalu dia mengambil air minum dan puding untuk mereka berdua.


“Manut,” kata Ayya.


“Sepertinya sebentar lagi kamu tambah mantu,” kata Bude Pras.


“Insya Allah, semoga Bude,” kata Ambar. Dia tahu yang dimaksud adalah Mukti. Sejak di rumah penginapan mereka semua melihat bagaimana


“Kamu tidak melarang mereka?” tanya bude Pram.


“Memang ada larangan aku menerima Ayu? Apa karena dia miskin?”


“enggak ada larangan sih.”


“Dulu Sonny pernah bertunangan dengan Vio yang anak yatim piatu saja aku enggak peduli kok. Yang aku mau anak-anak menikah dengan pilihan mereka sendiri. Dan itu keputusan mutlak mereka. Jadi kalau mereka gagal itu bukan karena aku.”


“Benar. Biarkan saja anak-anak memilih pasangannya sendiri. Tapi kalau pasangannya tidak baik ya tetap kita harus luruskan. Harus kita tegur untuk mencari yang terbaik.” Bude Pram setuju pendapat adik iparnya.


“Itu yang aku maksud. Kalau untuk kelakuan dan segala macam tindak tanduk Ayu itu sudah memiliki poin yang full untuk menjadi menantu dan anak idaman keluarga kami.” Ambar memberitahu penilaian dia, Abu dan Angga tentang sosok Ayu. Bahkan untuk penilaian ini Aksa juga ikut dilibatkan.


“Benar, aku melihat semua itu. Bahkan terhadap Ayah aja dia sangat care,” jawab bude Pram. Yang dimaksud ayah sama bude Pram adalah Soetiono. rupanya selain Budi Pras juga ada Bude Pram dan Laksmi di meja itu.


“Bahkan anak-anak aku aja sejak baru kenal lebih dekat dengan Ayu daripada sejak kenal dengan Adelia,” ujar Laksmi.


“Benar Aksa yang dari umur 5 tahun sudah sangat dekat dengan Adelia,  tiba-tiba kenal dengan Ayu dia langsung lengket. Memang cinta mereka pasti beda. cinta Aksa pada Adelia adalah cinta anak kecil pada pujaannya sejak dulu, sedang buat Ayu itu datang tiba-tiba tapi Aksa tetap mencintai kedua calon kakak iparnya itu.


“Yang satu kan sudah kakak ipar?”

__ADS_1


“Betul, waktu itu kan masih calon aku bicara perkenalan Aksa dan Adelia serta Ayu sebelum pernikahan ini,” jelas Ambar.


“Jadi enggak ada larangan ya?” tanya bude Pram memastikan.


“enggak, aku tahu Mukti juga sangat mencintai Ayu,” ucap Ambar.


“Tapi yang aku tahu Ayu-nya tidak merespon apa pun yang Mukti lakukan.


“Biasanya kan perempuan ingin ada kata-kata penentu, walaupun perbuatan sudah memperlihatkan bahwasanya lelaki itu cinta. Mungkin Mas Mukti belum mengungkapkan hal itu ke Ayu,” ucap Laksmi.


“Yang aku tahu Mukti pernah menyatakan enggak mau kehilangan Ayu, dia juga bilang bahwa dia sayang Ayu. Mungkin Ayu tidak sadar karena saat itu dia sedang kena musibah,” jelas Ambar. Lupa kalau yang diceritakan Mukti itu hanya untuk dirinya. Readernya yanktie aja belum dapat bocoran apa yang mas Mukti ucapkan kala di mobil Wayan menuju rumah sakit.


“Maksudmu musibah apa?” tanya Bude Pras


“Waktu itu Ayu disiram air panas oleh perempuan yang mencintai Mukti …,” belum sempat Ambar meneruskan bicara reaksi yang mendengar secara spontan langsung terjadi.


“Astagfirullah,” kata Bude Pram dan Laksmi bersamaan. Bude Pras hanya bisa menutup mulut mendengar Ayu menjadi sasaran seperti itu.


“Sekarang kasusnya sedang dilakukan, mas Abu dan Aksa marah besar. Mereka yang akan maju bila Mukti tak menuntut. Tapi sebelum mas Abu dan Aksa bertindak, ternyata Mukti sudah lapor polisi.”


“Saat di mobil menuju rumah sakit Mukti mengatakan Ayu harus kuat bertahan karena Mukti menyukai dan menyayangi Ayu dan minta Ayu menemani sisa hidupnya. Tapi ya itu, mungkin karena Ayu nya sedang konsen pada sakitnya, dia tidak menyadari kata-kata Mukti itu. bahkan Mukti cerita saat itu tanpa sadar dia meneteskan air mata melihat bagaimana kondisi luka bakar Ayu.


“Mukti cerita semuanya sama kamu?” tanya bude Pram.


“Semua anak aku wlau lelaki, apa pun diceritakan pada aku Bude. Sejak mereka TK, aku biasakan mereka harus sharing apa pun yang dia rasakan. Dari ketiga anakku memang Mukti yang paling dekat dan paling sering sharing apa pun pada aku. Mungkin karena jiwa seninya, dia berbeda dengan Sonny yang introvert dan Aksa yang penuh kejutan. Tapi mereka semuanya tetap cerita bahkan antar mereka sendiri hubungan mereka memang dekat,” ujar Ambar penuh syukur.


“Aku salut caramu merawat anak yang bukan anak kandungmu sendiri,” ujar bude Pras.


“Semua itu anak kandung aku. Bagaimana pun cara mereka datang mereka tetap anak kandung aku. Sama seperti Adelia dan Ayu mereka semua anak kandung aku. Kalau pun nanti Ayu tidak berjodoh dengan Mukti, dia tetap anak aku.” Ambar sangat tegas kalau hal ini. Dia sangat mencintai kelima anaknya.


“Aku yakin mereka berjodoh Mbak,” kata Laksmi.

__ADS_1


“Aamiiin,” jawab Ambar, bude Pras dan bude Pram.



__ADS_2