CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ALASAN RESIGN


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Ma, maaf nanti ada teman aku, teman SMA waktu di Badung dulu mau datang. Tadi sudah di kasih izin sama Mas Mukti. Tapi kan sebagai nyonya rumah Mama harus tahu aku terima tamu,” kata Ayya.



“Ya sudah, kalau Mukti sudah kasih izin kenapa harus lapor Mama?” tanya Ambar.



“Ya harus lah Ma. Biar bagaimana pun Mama nyonya rumah kok,” Ayya merasa biar bagaimana pun di rumah ini Mukti bukan pemilik, melainkan anak pemilik.



“Ya sudah enggak apa-apa, nanti kalau waktu makan malam ajak aja makan bersama ya,” Ambar malah menerima tamu dengan senang hati dan mengajak makan malam bersama.



“Eh jangan Ma, enggak enak,” tolak Ayya.



“Enggak apa-apa. Katanya dia datangnya magrib, berarti kan belum makan malam. Nanti kita makan malam bersama. Enggak apa-apa jangan suka enggak enak begitu ya.”



“Baik Ma, maaf jadi mengganggu,” kata Ayya tak enak hati.



“Enggak, enggak ganggu. Santai aja.”



Jam 18.30 Arjun datang dia memakai hoody dan terlihat sangat ganteng dengan jeans dan sneaker yang sewarna.



“Eh aku kenalin sama mamanya bosku ya, bosku lagi pergi sama adiknya. Ayo,” ajak Ayya.



“Ma, kenalin temanku dia dari Badung dan sekarang bekerja di Jakarta.” Ambar pun bersalaman dengan Arjun.



“Mama ini baru pindah loh, tadinya dia di Denpasar,” Ayya memperkenalkan Ambar pada Arjun.



“Mama punya banyak Villa ada di Uluwatu di mana-mana lah pokoknya,” jelas Ayya lagi.


__ADS_1


“Selamat malam Tante, salam kenal,” kata Arjun sopan.



“Iya silakan kalian ngobrol aja.”



“Iya Ma, terima kasih,” jawab Ayya. Mereka pun ngobrol di teras.



“Sebentar ya aku buatkan kamu minum,” kata Ayya.



“Enggak usah,” jawab Arjun. Tapi belum juga Ayya berdiri Bu Parman sudah mengeluarkan sirup dan kue basah yang sore dibeli oleh Ambar.



“Nah sudah Bude duluan deh. Terima kasih ya Bude,” kata Ayya menurunkan dua buah sirup yang di bawakan oleh Bude Parman.



“Siapa itu Mas?” tanya Aksa yang baru menghentikan motornya di carport.



“Sainganmu,” kata Mukti.




“Dia naksir Ayu sejak SMA. Kemarin mereka ketemu dan kayanya sih ngejar lagi,” kata Mukti.



“Jadi kamu punya saingan.”



“Ah kalau aku sih enggak takut, aku kan kenalnya di dalam. Jadi lebih cepat akrab. Tenang aja. Seperti yang Mama bilang dari perut lari ke hati. Memang dari pertama aku suka dia kok. Usia mah enggak jadi alasan kalau aku suka ya suka,” kata Aksa.



“Wah ada tamu nih,” sapa Aksa.



“Arjun. Kenalkan ini adik bosku dan yang ini Bos aku,” kata Ayu yang sudah berdiri untuk memperkenalkan Arjun pada Mukti.



Arjun pun ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada Mukti dan Aksa.


__ADS_1


“Silakan di lanjut ngobrolnya, asal jangan di apa-apain ini calon pacar aku,” kata Aksa sambil menepuk lembut lengannya Ayya. Ayya hanya tersenyum manis mendapat candaan Aksa. Mukti melihat Ayya menggunakan seulas tipis lipstik. Padahal sehari-hari kalau tak keluar rumah Ayya tak menggunakan lipstik sama sekali.



Arjuna nya tersenyum miris melihat kelakuan anak ABG tersebut.



“Lucu ya anak itu,” kata Arjun begitu mereka ditinggal berdua kembali.



“Iya, dia masih anak kelas 1 SMA. Memang lagi lucu-lucunya,” kata Ayya.



“Tapi anak SMA kan juga bukan anak kecil. Kalau dia bilang suka, ya berarti dia memang pengin jadi pacar kamu tuh,” kata Arjun.



“Enggak lah. Masa sih aku mau pacaran sama anak SMA? Dulu waktu masih SMA aja, aku enggak mau pacaran sama anak SMA. Lebih-lebih sekarang,” jawab Ayya.



“Terus apa planningmu selanjutnya?” kata Arjun.



“Kenapa kamu bilang pengin cepat kembali ke Badung. Apa kamu nggak betah kerja sama orang kaya seperti ini?”



“Aku betah lah, tapi ada beberapa hal yang jadi pertimbanganku.”



“Yang pertama aku bingung dengan hukuman denda yang bosku terapkan. Itu alasan pertama aku ingin cepat resign. Aku nggak ingin dikenai denda. Satu hal yang tak pernah aku lakukan.”



“Memang dendanya apa?” tanya Arjun pensaran.



“Ya adalah. Pokoknya aku nggak kepengin kena denda. Aku pengin cepat-cepat resign,” jawab Ayya.



“Dan yang kedua aku pengen cepet-cepet tinggal berdua sama papaku aja. Aku dulu kerja cuma buat ibuku. Setelah ibu meninggal, rasanya aku harus berhenti kerja. Kalau kemarin enggak ada tragedi mungkin aku tidak akan kembali bekerja. Aku lebih baik di desa aja. Cukup untuk aku hidup sendirian. Karena ada tragedi maka aku kabur dan akhirnya nyangkut kerja di sini.”



“Tapi sekarang kan ada papaku di rumah, jadi aku mau resign. Aku sudah tidak butuh pekerjaan, aku hanya butuh ketenangan hidup,” kata Ayya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.


__ADS_1


__ADS_2