CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BISKUIT TAK PERLU DIKUNYAH


__ADS_3

Ayya kaget bangun. Dia belum salat ashar. Pelan dia angkat tangannya dari tubuh Mukti. dia raba tubuh Mukti masih terasa panas, walau tidak sepanas tadi sebelum minum obat. Tadi dia sudah minta nomor dokter pribadi Mukti tetapi lelaki tersebut tak mau.


Ayya kembali mencelupkan waslap ke dalam air dan menempelkannya lagi di dahi Mukti dia langsung keluar untuk membersihkan diri untuk melakukan salat ashar.


“Ibu kenapa nggak bangunin aku?” protes Ayya saat melihat bu Pinem di dapur.


“Mbak sejak semalam juga kurang tidur, jadi biarin aja. Tadi saya lihat mau manggil waktu Bu Ambar telepon. Mbak lagi tidur ya udah saya tutup lagi pintu kamarnya,” jelas Bu Pinem.


“Itu Ibu lagi bikin apa?” tanya Ayya.


“Ini ada singkong yang kebetulan tidak mempur ( tidak renyah ), jadi saya bikin untuk lemet saja,” kata Bu Pinem sambil memarut singkong.


Nanti parutan singkong akan dicampur dengan parutan kelapa muda dan gula merah lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Di beberapa daerah disebut lemet atau timus atau apalah tergantung daerahnya. Dia buat untuk makanan sore yang penting ada kudapan atau snack.


“Mbak lauk buat makan malam Pak Mukti apa ya? Tadi saya bikin semurnya itu hanya sedikit cuma untuk satu porsi aja,” jelas bu Pinem.

__ADS_1


“Biar saya bikin aja steak daging cincang,” jawab Ayya sambil segera menyiapkan bumbu untuk mengolah daging cincang.


“Ini juga cepat dan mudah dicerna,” kata Ayya, dia langsung membuat lempengan daging cincang berbentuk bulat untuk menjadi bahan steak daging cincang.


Ayya membuat banyak sekalian karena daging cincangnya sudah dikeluarkan sejak tadi yang diambil oleh Bu Pinem hanya sedikit untuk satu porsi semur bola-bola daging cincang untuk makan siang Mukti saja.


“Bu, ini nanti sayurannya tumis dengan margarine seperti biasa ya setengah matang saja jangan matang. Daging dan saus steaknya sudah siap tinggal dipanaskan,” kata Ayya.


“Lah kok Mbak lagi yang masak?” kata bu Pinem.


“Apa ibu yakin mas Mukti mau makan, kalau bukan masakan saya? Kalau lagi sakit kayak gini dia kan akan tambah rewel. Kalau dia bilang saya nggak mau makan kalau bukan masakan kamu, kan tambah repot Bu. Lebih baik saya masak duluan nanti Ibu tinggal panaskan sama tumis sayuran pakai mentega.”


Bu Pinem tertawa mendengar kata-kata Ayu. Tapi memang itu benar adanya. Mukti pasti akan ngambek kalau tahu yang masak bukan Ayu, padahal dia mau Ayu-nya selalu ada di sebelah dia. Aneh kan bosnya itu. Mau tunangannya yang masak, tapi tunangannya harus selalu disisi dia.


Ayya membawa teh hangat dan beberapa regal ke dalam kamar dia tahu pasti sebentar lagi Mukti sudah bangun.

__ADS_1


Benar saja saat di kamar dia lihat Mukti sedang memegang wash lapnya ingin disingkirkan karena merasa tak nyaman dengaan benda itu di atas keningnya.


“Kita minum teh dulu sama biskuit ya Mas. Sekarang waktunya Mas minum obat. Tadi kak Adel bilang 2 jam dari minum terakhir kan?” kata Ayya.


Tak banyak protes. Tak berontak Mukti meminum obat yang disarankan oleh Adelia, dia pun juga menghabiskan teh madu yang disodorkan Ayya.


“Biskuitnya nggak ya,” kata Mukti. Dia malas makan karena merasa mulutnya masih terasa pahit dan sulit menelan.


“Nggak laper?” tanya Ayya sambil memandang wajah pucat Mukti.


“Nanti aja, Mas nggak mau ngunyah.”


“Ini nggak dikunyah loh, biskuit itu tinggal diemut aja langsung ditelan bisa. Nggak perlu dikunyah,” bantah Ayya.


“Nggak mau,” jawab Mukti.

__ADS_1


“Ya wis jangan nangis,” goda Ayya.


Mukti hanya diam memandangi wajah Ayya. Dia benar-benar tertekan. Dia sangat ketakutan Ayya tak bisa menerima dia. Walau di luar Ayya terlihat seperti mau menerima pertunangan ini, tapi dari kata-kata tadi dia tak yakin Ayya menerimanya itu. Yang membuat dia depresi!


__ADS_2