CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
RENCANA LIBURAN


__ADS_3

“Mohon maaf, saya kemungkinan baru bisa hari Kamis, karena saya baru stand by di Solo hari Rabu malam,” kata Mukti saat dia menghubungi panitia inti pameran di Solo.


“Saya masih banyak kerjaan yang tak bisa saya tunda. Pekerjaan kita masih dua minggu lagi kan pamerannya, tolong anda maksimalkan semuanya sebelum saya datang. Sehingga saya datang Saya sudah tidak terlalu banyak harus merombak. Yang penting tidak ada yang keluar dari jalur yang saya sudah buat. Kalau berbeda dengan yang saya buat pasti saya akan minta ulang untuk diubah sesuai konsep saya. Saya tidak mau tahu. Walaupun waktu tinggal satu hari, saya tetap akan minta ulang,” kata Mukti tegas. Dia selalu seperti itu.


“Iya pak Mukti saya akan kerjakan sesuai konsep yang Bapak kirim via email. Tidak akan ada yang saya ubah sedikit pun,” jawab perempuan yang menerima telepon dari Mukti. Dia penanggung jawab project di lapangan atau site project. Dia sudah tahu karakter Mukti yang tegas dan tidak ada kompromi. Dari Mukti tak ada tawar-menawar atau bargaining. Kalau yang Mukti bilang A ya harus A. tidak ada A’. Apalagi diganti menjadi B dan C.


Mukti memang meminta waktu Senin sampai Rabu off. Dia tak mau Ayya harus cepat-cepat pulang dari Jogja. Kasihan bila hanya satu hari pulang pergi. Tentu dia ingin tahu soal Keraton Jogja, Malioboro, Beringharjo juga tempat makan gudeg yang legendaris. Mukti akan membawa tunangannya itu keliling Jogja semaksimal mungkin dengan waktu terbatas. Tentu tidak akan mungkin semuanya tercover, yang penting semua yang legendaris bisa dijangkau oleh Ayya dalam waktu mepet itu. Hanya dua setengah hari dan Mukti akan membuat tunangannya bahagia.


Laksmi bahagia mendengar kabar dari Ambar tentang kehamilan Adelia. Ambar memang menghubungi semua keluarganya. Kepada ayahnya, juga kakak-kakak dan kakak iparnya. Dia memberitahu soal kehamilan Adelia dan mohon doa agar Adelia bisa hamil dengan sehat tanpa gangguan apa pun hingga melahirkan kelak.


Soetiono berucap syukur karena Sonny bisa memutuskan pendapat kalau keluarga Lukito itu orang yang sangat sulit punya anak. Tentu semua itu tak lepas dari ikhtiar dan peran serta Adelia sebagai dokter kandungan juga istri dari Sonny.


“Kamu bawa apa itu?” tanya Adelia saat melihat Aksa baru turun dari motor. Adelia memang sedang mengamati rumah baru mertuanya.

__ADS_1


“Oh ini titipan Mbak Ayu,” kata Aksa.


“Dia titip apa?” tanya Adelia penasaran.


“Apalagi sih kalau nggak buat bahan sarapan besok pagi,” balas Aksa.


“Dia tadi titip cakwe buat bikin bubur ayam, menu sarapan besok pagi.”


“Wah asyik menu sarapannya,” kata Adelia. Dia tak pernah habis pikir kalau si Ayu ini nggak pernah kekurangan ide. Ada saja menu yang ingin dibuatnya.


“Cakwe titipan mbak Ayu Ma.”


“Buat apa? Bukannya sore ini sudah ada cemilan?” tanya Ambar. Sore imi memang Ayya membuat lemet atau ketimus. Yaitu singkong yang diparut dan diberi gula merah lalu dibungkus daun pisang dan dikukus.

__ADS_1


“Bukan buat cemilan sore kok Ma. Itu akan dibuat untuk sarapan besok pagi,” jawab Aksa.


“Kok sarapan pakai cakwe?”


“Iya Ma. Mau dibikin untuk bubur ayam,” kata Aksa selanjutnya.


“Oh pantas. Jadi besok pagi menunya bubur ayam,” ujar Ambar.


“Kalau tidak ada request dari orang yang ngidam, kata Mbak Ayu sih menunya seperti itu saja.”


“Bolak-balik ngidam saja yang jadi pengubah menu,” seloroh Ambar.


“Apa dulu papa nggak seperti itu?” tanya Aksa.

__ADS_1


“Nggak tuh. Papa nggak seperti itu. Baik waktu hamil kamu, mau pun hamil mas Sonny.”


__ADS_2