
“Kamu seriusan aku nggak apa-apa tidur di sini?” tanya Sri.
“Lagian aku kan enggak bawa pakaian,” kilah Sri lagi.
“Aku sudah bawain kok kamu pakaian, baik pakaian tidur maupun pakaian biasa dan buat pesta.” Komang Ayu sudah menyiapkan sejak dari Bali.
“Nanti pakaian untuk pesta di hotel pun sudah aku bawa. Tapi maaf enggak bisa pakai seragam keluarga, karena aku enggak bisa daftarin pakai seragam. Kamu pakai baju aku. Ukuran kita kan sama,” kata Komang Ayu di kamar tempat mereka tidur malam ini.
“Ayo kita bersiap-siap, habis ini akan makan malam. Kita bantu di dapur,” kata Komang Ayu.
Mereka memang dapat kamar di belakang seperti dulu waktu saat Komang Ayu datang pertama ketika Adelia dan Sonny tunangan.
Makan malam masih penuh dengan keluarga dari pihak Ariel dan Vonny. Tapi tidak semuanya tidur situ. Untung rombongan keluarga dari Abu semua sudah dapat kamar karena sudah dipersiapkan oleh Ariel yang jauh hari.
‘Ya ampun kado pernikahan aja sebuah rumah sakit!' kata Komang dalam hatinya. Dia tak menyangka keluarga ini benar-benar sangat kaya dan benar-benar saling mengasihi.
__ADS_1
Sehabis makan malam semua keluarga berkumpul di ruang depan saat itu diberitahu kalau hadiah pernikahan dari Ambar, Abu, Ariel, Vonnny dan Angga untuk Sonny dan Adelia adalah sebuah rumah sakit di Jogja.
“Komang itu enggak salah?” bisik Sri.
“Aku juga baru ngebatin, gila aja hadiah pernikahan aja sebesar itu,” jawab Ayu.
“Ayo kamu cerita semuanya, koq kamu jadi bisa bekerja jadi sekretaris pribadi pak Mukti?” pinta Sri saat mereka sudah di kamar tidur. Yang Sri dan Komang duga dulu Komang akan dipekerjakan Mukti di salah satu galeri miliknya.
"Alhamdulillah rupanya Allah menurun kan pak Mukti jadi dewa penolongku." Komang lalu bercerita bagaimana awalnya dia akan dipekerjakan Mukti di galeri selepas urusan pemakaman ibunya.
"Aku bersyukur bertemu dia. Kamu tahu kan waktu pulang ke Bali itu aku tak bawa uang. Hanya Rp 20.000 saja uangku."
"Enggak apa-apa lah. Aku pikir kalau sudah sampai di Bali aku bisa sampai di rumah walau numpang-numpang kendaraan atau aku mungkin ngojek dari Denpasar ke Badung. Nanti dibayar meminjam uang tetanggaku di sana." jelas Komang Ayu.
"Tapi rupanya pak Mukti ada keperluan ke Badung. Dia kasihan padaku, aku diberi uang satu juta rupiah, dari galerinya pak Mukti di Badung aku diantar sampai depan rumahku."
__ADS_1
"Nah lusanya aku hendak diperkosa oleh orang dekat rumahku."
"Kamu sampai diperkosa?" tanya Sri tak percaya.
"Hampir goal, enggak sampai masuk sih, sudah hampir dan saat kritis itu tetanggaku, pakde yang baik hati padaku menolong." Komang sedih ingat kejadian itu.
"Pakde dan bude berteriak agar aku bisa lepas dari orang tersebut."
"Besoknya aku kembali hendak diperkosa, aku lari ke galerinya Pak Mukti. Aku hanya pakai sandal jepit dan bawa dompet saja. Karena Pak Mukti saat itu hendak ke Jakarta aku pun dibawa lalu dia bilang sejak hari itu aku menjadi asisten pribadinya."
"Apa tugas asisten pribadi?" tanya Sri.
"Sama aja pembantu pribadi lah, tapi itu lebih baik buat aku daripada aku di tangan para orang yang ingin memperkosa aku." kenang Komang Ayu.
"Aku juga enggak butuh uang buat transportasi ke mana-mana, aku enggak butuh uang buat makan juga tempat tinggal karena aku ikut ke mana pun pak Mukti pergi."
__ADS_1
"Aku bersyukur walau pun hanya jadi pembantu seperti ini tapi lebih aman buat hidupku. Gajiku bisa utuh nanti bisa aku tabung untuk buat menambah modal usaha toko papaku di desa." Komang tetap ingin menabung dan punya usaha sendiri di desanya.