
“Ma, nanti makan malam aku nggak makan di rumah ya,” kata Mukti.
“Kenapa?” tanya Aksa lebih dulu dari Ambar.
“Aku mau bawa pacarku ke alun-alun. Mau makan sate kambing buntel di sana biar besok dia masak,” jawab Mukti.
“Lihat Ma curangnya anak Mama kan? Aku diajak ke mana-mana, besoknya suruh bikin makanan sesuai yang aku cicipi,” adu Ayya pada calon mertuanya.
Mukti langsung tertawa dan mengacak-acak rambut Ayya dengan gemas.
“Aku penasaran loh Ma, aku ajak dia makan iga bakar kan, dia besoknya masak lebih enak. Lalu aku ajak dia makan plecing kangkung yang ngetop itu Ma, tempat langganan kita kalau di Bali, besoknya dia masak lebih enak. Begitu pun saat aku ajak dia makan rujak cingur. Aku pikir dia pasti nggak bisa, ternyata ya lebih enak,” ujar Mukti.
“Wah Eyang kangen makan rujak cingur,” kata eyang Angga.
“Kalau begitu menu besok siang rujak cingur ya Eyang, nanti aku minta bu Parman beli bahan-bahannya sekalian beli bahan buat makan malam sama kak Adel.”
“Yank, kamu di sini bukan buat jadi koki loh,” kata Mukti.
“Nggak apa-apa lah. Nggak tiap hari juga. Kalau sudah sibuk dengan kegiatanmu, aku pasti nggak sempat ke dapur,” balas Ayya dengan tersenyum manis.
__ADS_1
“Iya, jangan pelit kayak gitu,” jawab Angga.
“Aku nggak pelit Eyang, tapi dia itu kalau sudah di dapur rasanya lupa dunia,” protes Mukti.
“Karena memang passion ku di situ. Kalau sudah passion ya mau diapain?” jawab Ayya.
“Bener banget, kalau sudah passion memang tidak bisa diganggu gugat. Sama seperti Mukti. Mau orang jungkir balik nyuruh dia kuliah ke mana pun passionnya dia dunia pahat ya sudah dia tetap itu yang digeluti,” kata Abu.
“Iya Pa. Mas Mukti kan juga gitu passion-nya itu. Mungkin mendarah daging dari papanya kan sama. Eh bukan dari papanya, dari kakeknya kan? Sama seperti aku. Aku dapat passion ini mungkin dari ibuku. Ibu memang suka masak dan dia juga jualan kue, jadi memang passion aku di situ,” jawab Ayya.
“‘Ini kan yang Mama bilang?” kata Ambar pada Mukti.
“Mama bilang sebenarnya kamu itu cocok buka cafe, setiap Mas lapor hasil masakanmu. Tapi Mas larang, karena Mas nggak mau kamu capek. Terlebih nanti kalau sudah ada anak,” jawab Mukti tegas.
“Ih ge er banget. Nikah juga belum sudah ngebayangin anak,” kata Ayya tersipu.
“Ya wajib lah, yang namanya nikah nanti pasti suatu saat ada anak. Walau mungkin lama seperti Papa dulu. Tapi kan siapa yang tahu kita cepat,” kata Mukti.
“Jadi makan malam nanti nggak ada yang istimewa?” tanya Abu.
__ADS_1
“Papa jangan bilang begitu dong. Masakan Mama apa enggak istimewa?” jawab Ayya.
“Maksud Papa tamu istimewa! Masakan Mama pasti istimewa lah. Kalau buat Papa, Mama kasih Papa nasi dengan ceplok telor pakai kecap aja itu sudah istimewa, karena Mama menghidangkannya pakai cinta,” kata Abu memegang lembut jemari Ambar.
“Cie … cie,” kata Aksa menggoda kedua orang tuanya.
“Dulu Eyang juga merasakan begitu. Walau hanya dikasih nasi pakai ceplok telur kecap tapi ada irisan cabe di kecapnya, wuiiszz, paling nikmat,” kata eyang Angga mengingat bagaimana cinta kasih mamanya Abu.
“Wah aku jadi ngebayangin besok calonku seperti apa ya kasih masakan cintanya?” kata Aksa.
“Koq kamu ngebayangin begitu? Kamu nggak anggap aku?” goda Ayya.
“Ha ha ha pacar aku marah nih Pa,” kata Aksa pada Abu.
Angga, Ambar, Abu, dan Mukti pun terbahak mendengar Ayya bisa men-skak mat Aksa seperti itu.
“Syukurin, makanya jangan kebanyakan pacar. Jadi kamu seperti itu,” goda Ambar.
“Aku lupa di depan aku ada pacar aku, Ma,” jawab Aksa.
__ADS_1