CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PONSELNYA DISANDERA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Semuanya sudah beres, Pakde sama Bapak mau ikut ke rumah saya di sini?” tanya Mukti. Dia sudah menyerahkan copy pembayaran pada suster di ruang itu dan sudah mendapat izin pulang.



“Enggak usah lah kami langsung pisah di sini aja. Lain kali kami akan main ke rumahmu,” jawab Wayan.



“Kalau mau nginep juga bisa kok, di rumah banyak kamarnya,” tawar Mukti.



“Enggak lah, besok masih ada tukang kerja,” kata Wayan menolak ajakan Mukti malam ini.



“Ya sudah kami langsung kembali ya Pa,” Ayya memutuskan bicara pada Wayan. Dia sudah ngantuk akibat obat yang disuntikkan dokter tadi.



“Iya kalau ada apa-apa kabari Papa,” balas Wayan.



 ”Iya Pak. Lusa kami juga kontrol ke dokter kulit, ini ada rekomendasi untuk langsung ke dokter kulit guna penanganan pada luka yang sudah mulai kering,” Mukti lupa tadi Wayan ikut mendengar saat dia mendapat rujukan ke dokter kulit.



“Kok masih kontrol lagi?” Ayya tak percaya harus berobat lagi.



“Iya supaya kulitnya kembali normal ini ada pertunjukan dari dokter tadi,” Mukti memberikan surat rujukan ke Ayya.



Ayya memeluk Bude Ati dengan hati-hati karena lukanya ada di depan.



“Sudah enggak usah peluk lah nanti malah bahaya,” Wayan menasihati Ayya.



“Papa cium aja.” Wayan pun mencium kening putrinya tanpa memeluk. Wayan tak ingin putrinya sakit bila lukanya tersentuh.



“Keluarganya Mukti itu sebegitu cintanya pada Ayya ya,” Bude Ati bicara setelah mereka berada di mobil. Naik mobil bak bertiga tentu mepet tapi memang hanya ada itu mobil yang bisa mereka gunakan.



“Aku juga merasa seperti itu,” Wayan ternyata juga mempunyai penilaian yang sama.



“Enggak aneh,” kata Pakde Saino.


__ADS_1


“Ayya kan memang mudah diterima di mana-mana. Dia orangnya seperti Sukma, sangat agak cepat beradaptasi, lembut, hormat pada yang tua  dan sering membantu orang sehingga semua langsung jatuh cinta padanya.”



“Itu ibu bosnya aja sampai manggilnya mama, pasti dia tak boleh manggil ibu atau nyonya,” kata Ati.



“Yang aku tangkap sih kayaknya dia mau datang langsung ke sini begitu tahu Ayya sakit. Tapi dilarang oleh Ayya karena katanya ada Sonny kah yang mau menikah,” Wayan belum tahu siapa Sonny. Hanya mendengar tadi putrinya menyebut itu di telepon. Minta perempuan yang dipanggil mama untuk konsentrasi pada pernikahan mas Sonny.



“Mungkin kerabatnya Mukti mau menikah sehingga mamanya enggak boleh ke sini. Mungkin Ayya tak mau disalahkan bilang sang mama meluncur saat sedang super sibuk,” kata Ati.



“Alhamdulillah kalau Ayya seperti itu penerimaan di masyarakat, dia tidak mengalami kesulitan seperti saat di sini. Mau diperkosa saat baru tiba dan sedang berduka,” Saino ingat bagaimana kesulitan Ayya sebelumnya.



“Iya Alhamdulillah kalau dia diterima dengan baik di keluarganya Mukti. Aku suka. Sepertinya mereka adalah keluarga hangat yang senang menebar cinta pada sesama,” Wayan menyimpulkan Ayya berada di tengah keluarga yang hangat. Belum tentu nanti dapat keluarga yang menerima Ayya seperti keluarga Mukti.



“Ini rumah siapa?” tanya Ayya yang sudah sangat sulit menahan kantuk. Mereka baru tiba di sebuah rumah besar bergaya Bali yang sangat mewah.



“Ini dulu rumah tinggal kami sejak aku berumur 4 bulan. Setelah gonjang-ganjing akhirnya di rehab dan disewakan buat homestay. Kebetulan hari ini masih kosong. Jadi kita bisa tinggal di sini.”



“Oh ini dulu rumah mama?” tanya Ayya dia melihat rumah yang sangat besar dan memang artistik sekali.




“Oh gitu,” jawab Ayya sambil mengambil tas pakaian dan tas kerjanya.



“Biar aku aja yang bawa,” pinta Mukti.



“Tanganku enggak apa-apa koq. Aku bisa bawa sendiri,” tolak Ayya.



“Wis tho jangan ngeyel. Aku lapor mama Ambar dan papamu nih,” ancam Mukti. Ayya pun tak berani membantah.



“Kok tiba-tiba mas Mukti?” tanya Mbok Darmi.



“Iya pas ada di Denpasar jadi aku mending tidur sini aja daripada di hotel Mbok,” kata Mukti.



“Kasih satu kamar buat asisten aku ya Mbok dan besok pagi aku minta di masakan nasi goreng spesial buatanmu,” kata Mukti.


__ADS_1


“Iya Mas besok akan mbok bikinkan. Tadi Ibu sudah telepon. Kalau mbaknya butuh sesuatu suruh bilang simbok dan mbaknya enggak boleh cape,” kata Mbok Darmi.



“Terima kasih Mbok. Besok saya minta tolong untuk minta wash lap aja,” jawab Ayya.



‘*Ponselku mana ya? Tadi perasaan saat suster minta sesuai keinginan mas Mukti sudah aku berikan. Apa belum kembali ke aku ya? Kok mas Mukti bisa pakai buat telepon papa? Kan aku kunci layarnya*.’



‘*Apa saat aku berikan belum terkunci karena aku baru reject panggilan Arjun ya*?’



‘*Sekarang aku mau hubungi Arjun bagaimana? Pasti daritadi dia hubungi aku terus menerus*.’ Ayya mencari ponsel dan dompetnya. Tadi Mukti minta dompet untuk melihat identitasnya saat daftar pasien.



‘*Dompetnya ada. Seharusnya ponsel ada. Kalau ketinggalan di rumah sakit bagaimana aku ganti ponsel mahal itu*?’ Ayya panik, membuat kantuknya hilang seketika.



“Kenapa keluar lagi?” tanya Mukti yang sedang mengamati hasil karya pemahat luar negeri di laptopnya. Ada secangkir kopi panas di meja makan. Dan ada pisang rebus serta ada seorang lelaki tua menemani Mukti. Ayya menduga dia suami mbok Darmi.



“Ponsel aku dimana ya Mas?” tanya Ayya. Dia berniat tanya pada Mukti sebelum memastikan ponselnya ketinggalan di rumah sakit. Itu sebabnya dia keluar kamar.



“Aku pegang. Selama kamu belum sembuh enggak usah pegang telepon. Daritadi aku matikan karena ada panggilan masuk dari kak Adel dan mama,” jawab Mukti.



‘*Juga pesan dan berkali-kali panggilan masuk dari Arjun*,’ lanjut Mukti dalam hatinya.



“Tangan dan pikiranku enggak sakit Mas. Siniin ponselnya. Aku akan bilang pada mama dan kak Adel enggak usah khawatir,” rengek Ayya.



“Kamu mau janjian sama pacarmu? Atau kasih tahu kamu ada di sini biar dia datang nengok kamu?” kata Mukti



“Enggak kok,” jawab Komang Ayu. Dia putus asa tak bisa memberitahu Arjun karena ponsel ditahan Mukti.



“Sudah tidur aja. Lusa aku kembalikan sekalian kita berangkat ke dokter. Besok kamu di rumah aja. Aku mau ke dinas pariwisata provinsi,” Mukti memerintah Ayya tidur.



“Aku bisa koq ikut ke dinas,” pinta Ayya. Dia tak mau dianggap lemah.



“Enggak usah. Kamu di rumah saja,” tegas Mukti. Dia mau diskusi masalah Saras dengan Wayan dan Made karena kebetulan mereka besok bertemu di kantor pariwisata tingkat provinsi yang dalam bahasa sehari-hari biasa di singkat menjadi dinas saja.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.

__ADS_1



__ADS_2