
“Gue tunggu di cafe kemarin, kita harus bicara,” kata Made begitu mendapat telepon dari Wayan.
Ternyata Wayan berbeda dengan Made dan Mukti dia sendirian di kamar belakang. Bukan di kamar untuk tidur, dia ada di sudut dapur ponselnya juga sama mati!
Made menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Mukti. Tentu saja Wayan kaget tidak mengetahui bagaimana mereka bisa terbius bareng padahal mereka sama sekali tak memakan sesuatu yang menakutkan.
“Kalian silakan saja pergi dulu. Kami akan membahas langkah selanjutnya,” kata Made kepada dua mahasiswi itu.
“Ingat permasalahan ini cuma kalian yang tahu. Kalau sampai tersebar berarti dari mulut kalian. Kalian cerita pada orang tua, orang tua akan marah dan membuat semuanya heboh itu karena kesalahan kalian. Kami tidak akan mengakuinya. Kamu cerita pada sahabatmu kamu akan rugi sendiri karena itu bisa bocor ke mana-mana. Yang pasti kalian tahu dari kami, lebih-lebih dari pak Mukti tidak akan ada pernikahan! Tidak ada pertanggung jawaban karena semua terjadi bukan karena kami inginkan dan sejak awal sudah kami beritahu agar kalian tidak hamil.”
__ADS_1
“Tidak akan ada pembahasan masalah tanggung jawab atau pernikahan lagi. Kami tidak mau membahas untung rugi dengan kalian, karena kami tidak merugikan kalian dan kalau kita bicara kita akan bicara berlima. Tidak ada pembicaraan berdua apalagi dengan pak Mukti. Itu tadi sudah saya jelaskan atau kalian tidak akan dapat nilai akhir sama sekali dari saya!” ancam Made.
“Dan setiap pembicaraan kalian akan melalui Pak Wayan. Dia orang netral di antara kami jadi kalian akan dihubungi Pak Wayan kalian pun akan bicara melalui Pak Wayan. N mor kalian hanya boleh menghubungi Pak Wayan,” kata Made.
Dia memberikan nomor Wayan pada kedua perempuan tersebut walau selama ini dia menyimpan kedua nomor perempuan itu tapi untuk urusan kuliah bukan untuk urusan tragedi.
“Kita harus cari CCTV cafe ini. Karena cafe ini juga nyiapin kamar yang kita pakai. Berarti kan ada hubungan apa-apa,” kata Made.
Mereka pun meninggalkan kafe tersebut dengan mobil Mukti karena Made maupun Wayan tidak ada mobil di kota Solo.
__ADS_1
Mereka pindah ke cafe lain membahas semuanya, cara mengambil CCTV dan segala macamnya.
“Gue yakin itu racun atau obat apa pun dimasukkan di makanan kita. Kita makan lauknya itu bareng nggak ada pesan sendiri-sendiri. Jadi pasti dimasukinnya di lauk yang dicampur di makanan kita. Jadi kita harus ambil CCTV dapur. Bukan CCTV tempat kita makan saja,” kata Mukti.
“Ya benar kita kemarin beli lauk prasmanan bukan lauk perorangan. Kalau lauk per orang kan kalau yang dituju cuma gue pasti cuma makanan gue yang dikasih dan cuma gue yang tepar ini kan semua tepar, termasuk Wayan,” sahut Made.
“Kalau itu dua perempuan hamil bagaimana?” kata Wayan cemas.
“Bego saja kalau mereka sampai hamil. Gue udah bilang walaupun dia hamil sekali pun gue nggak akan nikahin dia. Mungkin gue akan kasih duit atau pelihara tuh anak tapi tidak akan mungkin gue nikahin dia. Gue udah tahu pernikahan tanpa cinta itu kayak apa. Itu akan menyakiti semuanya. Jangankan cinta, gue kenal saja belum. Gue baru tahu namanya barusan karena tuh cewek ngamuk nggak mau dipanggil kamu dan kamu. Dia kasih tahu namanya. Bagaimana gue nikahin orang yang gue belum tahu namanya,” kata Mukti sewot.
__ADS_1
“Kita sekarang harus jelas ngomong jujur apa adanya. Terlebih kalau Ayya atau nyokap gue tanya. Kalau kita bohong satu kali saja pasti akan ketahuan dan kita akan bohong lagi. Jadi gue minta kalau nyokap atau keluarga besar gue tanya terlebih Ayya tanya katakan sejujurnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Itu bahaya buat Ayya dan keluarga besar gue,” jelas Mukti.
Mukti kembali mengingat semua. Kejadian itu yang membuat dia akhirnya baru pulang ke rumah saat maghrib di hari Minggu.