
“Mas, aku sudah tanya ke Carlo, dia dapat undangan dari mana,” Ayya berupaya menerangkan apa yang masih mengganjal di benak Mukti.
“Hhhmmm …,” jawab Mukti datar.
“Mas dengar aku bicara enggak sih?”
“Dengar,” jawab Mukti.
“Dia bilang manajemennya dapat undangan dari rumah sakit karena mereka sedang syuting di rumah sakit untuk film terbarunya. Jadi dia dan manajemen yang datang ke sini,” jelas Ayya.
‘Aku ingat kok kamu tuh pernah teleponan sebelum kita berangkat, pasti kamu memang sudah janjian!’ kata Mukti. Tapi tidak diucapkan, hanya membatin dalam hatinya saja. mukti ingat ketika di studio Ayya sibuk terima telepon di ponsel pribadinya.
“Ayo kita makan ah, sebentar lagi kan aku harus pergi salat Jumat,” ajak Aksa.
“Kamu bawa baju ganti kan buat berangkat salat Jumat?” tanya Ayu dengan penuh perhatian.
“Bawa lah. Sudah aku siapin di ranselku, jadi enggak perlu bongkar koper,” balas Aksa.
*'Astaga, aku malah lupa tidak menyiapkan baju koko untuk sholat Jumat. Padahal semalam waktu ditanya Ayya, aku mau dibantu apa enggak buat packing, aku bilang enggak usah,’ *kata Mukti dalam hati. Sekarang dia yang kalang kabut sendiri. Buat sholat Jumat nanti tidak menyiapkan baju ganti.
“Ayo Mas makan, mau diambil kan apa?” ajak Ayya.
“Enggak usah, nanti Mas ambil sendiri,” tolak Mukti.
“Ya sudah, aku sama Aksa ya?” pamit Ayya.
“ Ya.”
__ADS_1
Aksa dan Ayu segera ke meja makan. Mereka bertemu Fahri dan Farhan sehingga sekarang berempat mengambil makanan bareng.
“Kak tadi ada artis loh,” lapor Fahri.
“Kalian mau kenal dia?” tanya Aksa yang dari sudut matanya melihat kehadiran Carlo dari ujung ruangan.
“Memangnya Mas Aksa kenal?” tanya Farhan.
“Dia teman dekatnya Mbakmu. Coba minta Mbak Ayu suruh kenalin kalian, nanti aku fotokan,” kata Aksa. Dia tahu anak seumuran Fahri dan Farhan pasti senang berfoto dengan seorang aktor.
Saat itu Carlo memang mendatangi Ayu.
“Halo, boleh ikutan gabung?” tanya Carlo ramah.
“Boleh, kenalin ini adik-adik aku,” kata Ayu. Lalu Aksa, Fahri dan Farhan pun berkenalan dengan Carlo.
“Boleh, pasti boleh dong,” jawab Carlo ramah. Carlo pun foto berdua dengan Fahri juga berdua dengan Farhan. Aksa yang membuat foto sesuai janjinya tadi.
“Sini kalian foto berempat, aku yang ambil,” kata Ayu. lalu Aksa, Carlo Fahri dan Farhan pun berpose berempat.
“Keren nih empat jagoan,” puji Ayu sambil jeprat jepret membuat foto empat orang itu.
Dari jauh Mukti melihat semuanya. Tentu saja tambah membuat Mukti marah melihat Carlo berdekatan lagi dengan Ayya.
“Yank, ambilin aku makan,” pinta Mukti tiba-tiba mengganggu empat lelaki muda itu. Mukti mulai ke mode posesifnya.
‘YANK?’ kata Aksa dalam hati sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
“Mau apa Mas?” jawab Ayu. Tak ada kekagetan dengan sebutan Yank, karena bukan baru kali ini dia dengar.
“Kamu lebih tahu kan selera aku?” Mukti sengaj mengatakan itu di depan Carlo seakan ingin menunjukkan bagaimana kedekatan dirinya dan Ayya.
“Mau pakai nasi enggak?”
“Enggak deh, itu ada keladi. Mas pakai keladi aja,” jawab Mukti.
Menu makan siang kali ini adalah makanan khas dari daerah Maluku. Ada kasbi atau singkong atau ubi kayu yang direbus. Ada keladi rebus, ada kelapa muda yang dipotong panjang tipis. Ada ikan bakar dan semua macam macam makanan termasuk papeda dan kuah ikan.
“Enakan makan kuah ikan deh Mas, sama papeda,” usul Ayya.
“Kamu bisa makannya?” tanya Mukti heran. Tak semua orang bisa makan papeda.
“Bisalah, waktu di cafe kan ada orang dari Ternate. Dia ajarin aku bikin masakan dari Ternate, jadi aku sudah biasa makan papeda dan kuah ikan,” jawab Ayya.
“Kalau aslinya kan makannya enggak pakai sendok,” ujar Mukti.
“Iya aku tahu, kalau di sana makan enggak pakai sendok. Langsung dicucup dari piringnya. Cuma kalau untuk di kota seperti ini mungkin beranggapan tidak sopan, jadi pakai sendok,” jelas Ayu. Padahal ya memang itu ciri khasnya sih sebenarnya. Cuma penilaian orang aja kadang menganggap tak lazim.
Ayya pun mengambil kan keladi dan irisan kelapa serta ikan bakar dengan dilengkapi sambal colo-colo buat Mukti.
“Kamu ambil apa Yank?” kata Mukti.
“Aku mau makan papeda sama kuah kuning aja,” balas Ayya.
Aksa membawa kedua adiknya menjauh. Dia membiarkan Mukti di situ bersama Carlo dan Ayu. Aksa ingin melihat peperangan antara Mukti dan Carlo. Aduh Mas Aksa kecil-kecil juga usil nih, bikin mas Mukti jadi perang dunia.
__ADS_1