CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
LOVE PAPA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Kamu jangan sampai sakit,” Sri memberi semangat pada Komang.



“Aku enggak sakit koq Sri. Hanya rasanya aku enggak enak perasaan  aja,” balas Komang.



“Aku kok merasa sesuatu yang enggak enak ya, entah ada apa,” kata Komang lagi.



“Kalau firasatmu seperti itu, sebaiknya kamu cek kondisi ibumu ke pakde yang biasa kamu hubungi,” saran Sri pada Komang.



Komang segera mengambilponselnya di meja, dan dia menuruti saran Sri. Dia harus tahu kejelasan khabar ibunya di kampung.



“Iya Yu, ada apa?” pakde Saino memang kadang memanggilnya Ayu.



“Apa Ibu sehat? Koq aku rasa ada sesuatau yang enggak bener Pakde.”



“Ibumu stabil, dia bisa masak untuk diri sendiri, hanya mencuci memang sudah tak boleh sama budemu,” jawab Saino.



“Mungkin perasaanmu berkaitan dengan papamu nduk,” pakde Saino mencoba memberitahu soal Wayan papa kandung Komang.



“Ada apa dengan papa?” tanya Komang.



“Kemarin dia kecelakaan karena saat hujan lebat tergelincir akibat ban motornya sudah gundul. Tapi ajik ( ayah atau papa ) mu tak mau dirawat, dia minta langsung pilang saja Yu. Papamu tak mau keluar uang lebih banyak untuk rumah sakit karena dia harus banyak menabung guna mengembalikan semua uang yang diminta bu Dewi sebelum mereka urus perceraian. Bahkan papamu rela berkorban tidur di toko dan menjual mobilnya demi menabung.” Saino paling tahu cinta Wayan pada Sukma mamanya Komang.



Komang terharu papanya benar-benar berjuang untuk bebas dari Dewi dan bersatu dengan mamanya.



“Terima kasih infonya Pakde. Sampaikan pada mama kalau aku telepon menanyakan kesehatannya. Salam buat Bude. Assalamu’alaykum.”


\*\*\*



‘*Semoga cepat sembuh ya Pa*,’ Wayan terharu membaca pesan itu. Putrinya sangat jarang menjawab pesannya. Apalagi mengirim pesan lebih dulu seperti ini.



‘*Terima kasih sayang*,’ jawab Wayan.



‘*I love you, jaga kesehatan di Jakarta ya*,’ tulis Wayan selanjutnya.



‘*Love you too Pa*.’


\*\*\*



“Mas, ini ada surat,” pembantu rumah tangga di rumah Jakarta memberikan sepucuk surat yang baru diterima. Mukti bingung surat dari siapa yang dijatuhkan ke alamat rumah Jakarta?

__ADS_1



Mukti melihat, itu tulisan Vio. Dia hafal tulisan mantan istri sirinya karena saat SMA dulu mereka sering belajar bersama.



“*Kamu kemana aja sih Honey*?”



“*Kamu tahu kan aku enggak punya ponsel. Sedang pengacara bilang kamu beberapa hari tak bisa dihubungi*.”



“*Sejak ketahuan pak Sonny koq kamu enggak kesini lagi*?”



“*Aku butuh kamu, aku kangen kamu*.”



Mukti membaca surat itu. Rupanya Vio mencari dirinya ketika dia sedang terpuruk mengetahui dirinya bukan anak Abu dan Ambar.



‘Ya pastilah kamu butuh aku. Butuh memback up finasialmu dan pengacaramu kan?” Mukti mentertawakan kebodohan dirinya yang bisa terjebak kembali dengan kisah cinta lamanya.



“Andai kalian dibiarkan tumbuh, kalian pasti sudah berusia 8 dan 7 tahun ya Nak? Maafkan Papa yang tak tahu keberadaan kalian. Maafkan Papa,” keluh Mukti mengingat bahwa Vio telah 2 kali menggugurkan buah cintanya tanpa dia ketahui.



‘*Telepon papa dari tadi bunyi kemapa enggak diangkat? Apa papa sedang salat ya*?’ Mukti dalam kamar mendengar dering ponsel papanya. Tentu jam segini kedua pembantu sudah di rumah belakang, bukan dirumah utama jadi mereka tak mendengar.



Mukti keluar kamarnya.




Mukti bisa menduga kalau Abu sedang melamun. Televisi menyiarkan film kartun dora emon. Tak mungkin kan Abu menonton film itu? Kalau tom and jerry masih bisa masuk akal lah semua orang suka dengan persaingan dua makhluk beda jenis itu. Tak ada yang pernah bosan dengan pertengkaran tikus dan kucing serial kartun lawas itu. Papanya tak mengenal tokoh kartun baru dora emon.



Satu kali Mukti bicara, Abu tak mendengar. Akhirnya Mukti mengambil ponsel Abu yang sedang di charge, dan dia sentuh lengan papanya. Mukti melihat Airlangga yang menghubungi sang papa.



“Ada telepon daritadi Pa,” ucap Mukti.



Mukti yakin papanya masih syok menerima permintaan cerai setidaknya berpisah dari mamanya. Perempuan yang papanya cintai dengan sepenuh hati.



" Assalamualaikum Pa. Ada apa?" tanya Abu pelan.



"Kamu sedang dimana?" Airlangga bertanya lirih.



"Tentu saja aku di rumah bersama Mukti," Abu meloudspeaker volume ponselnya agar Mukti bisa ikut bicara.



"Kami di rumah Eyang," kata Mukti membenarkan posisi yang Abu katakan barusan.



"Menjelang magrib mamamu dirawat di rumah sakit," Mukti kaget mendengar hal itu. Kalau eyangnya di rumah sakit, lalu Aksa dengan siapa? Biasanya mama yang selalu menemani sang adik saat ujian.


__ADS_1


"Mama kenapa?" kata Abu.



"Siang tadi Ambar datang. Dia bercerita telah bertemu denganmu dan menceritakan juga kalau dia minta waktu satu tahun berpisah."



"Ambar lalu packing dan membawa semua barang miliknya. Ambar cerita Aksa memilih ikut dengannya daripada tinggal disini bersamamu."



 "Ambar bilang pada kami, dia sangat terluka sejak disuruh merawat bayi hasil zina dirimu dan Witri. Mungkin itu yang membuat mamamu merasa sangat bersalah karena telah membuat Ambar terluka sejak mama menyuruh Ambar merawat bayi itu."



"Dokter bilang mama depresi" kata Airlangga.



"Aku akan usahakan pulang segera Pa. Aku selesaikan dulu sedikit reformasi di struktural kantor agar kantor bisa berjalan lancar." Akhirnya hanya itu yang Abu bisa janjikan pada Airlangga.



Mukti yang mendengar semua pembicaraan itu merasa lebih bersalah lagi. Dirinya adalah bayi pembawa sial bagi Ambar, Aksa dan Sonny. Sekarang juga buat Menur dan Airlangga.



'*Aku adalah orang tak berguna yang membuat masalah dalam kehidupan semua orang*.' keluh Mukti dalam batinnya



Mukti merasa sejak lahir dia memang pembawa sial sekarang dia memdapat bukti lagi kalau sejak lahir dia membuat Ambar terluka. Mukti sangat membenci ibu kandung yang membuat dia terlahir tanpa tahu siapa ayahnya. Dia mau menelusiri keluarga ibu kandungnya pun merasa tak guna.



Witri ibunya sejak muda sudah dibuang, tentu saat Witri hamil tak ada yang mau peduli apalagi mengurus bayinya.



'*Pantas dia cari sasaran agar ada yang mau tanggung jawab. Aku yakin bukan papa yang merebut kegadisan perempuan itu. Dia sudah hamil maka menjebak papa*' pikir Mukti.


\*\*\*



Mukti sudah memesan tiket untuk mereka berdua pulang ke Bali nanti malam sehabis papanya membereskan masalah kantor speninggal Sonny.



"Harusnya kamu di sini aja. Ngawasin Imelda dan Vio," demikian semalam yang Abu katakan pada Mukti.



"Ngawasin ngapain Pa? Wong mereka di dalam penjara. Kalau buat ngawasin kan ada pengacaranya Papa. Kita nggak perlu ngawasin mereka lagi," kata Mukti.



Mukti pun ingin kembali ke Bali. Dia ingin bergerak dan mengatur hidupnya di sana. Dia juga ingin mengembalikan semua administrasi keuangan villa ke nama Abu seerti sebelumnya.



Mukti merasa cukup sudah dia menjadi benalu di keluarga Lukito.



Abu dan Mukti tiba di bandara Bali sudah sangat malam. Abu berkeinginan langsung ke rumah sakit di mana Menur dirawat. Dia tak ingin pulang dulu.



"Kasihan eyang kakung enggak ada yang ngegantiin jaga eyang putri," Abu memberi alasan mengapa meminta sopirnya mengantar mereka langsung ke rumah sakit saja.


\*\*\*



Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK


 yok

__ADS_1



__ADS_2