
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
‘*Alhamdulillah sudah sampai rumah Solo*,’ begitu tulis Ambar di grup sehingga semua tahu bahwa dia sudah tiba dengan selamat di Solo.
\*‘Alhamdulillaaaaah,’ \*Mukti yang membaca itu langsung membalas.
Ambar lalu mengirim foto-foto dan Mukti bersama Rustam dan Ferry karena tadi menggunakan ponselnya.
Ambar juga mengirim foto Mukti, Rustam dan Ferry bertiga.
\*‘Alhamdulillah walau mereka enggak tahu, tapi kita senang bisa bertemu dalam keadaan sehat dengan ayah dan kakeknya Mukti. Biar bagaimana pun darah jangan di putus,’ \*tulis Angga mengomentari foto-foto yang Ambar kirim di group.
‘*Enggak perlu di putus yang penting tak perlu kita sampaikan semuanya asal kita selalu sambung tali silaturahim aja*.’ jawab Abu di chat grup itu.
‘*Ya benar*,’ kata Ambar.
__ADS_1
‘*Enggak usah di putus silaturahim dengan keluarga pak Rustam*.’ lanjut Ambar.
‘*Just info, ternyata ada seorang teman yang lapor pada Ferry kalau dia lihat Witri hamil besar setelah Ferry lulus SMA dan marah meninggalkan Witri karena kecewa anaknya di gugurkan*.’
‘*Saat libur kuliah Ferry mencari Witri tapi tak ketemu karena sehabis melahirkan Witri kan meninggal. Jadi Ferry pernah mencari anaknya*.’
‘*Dan pada perempuan yang akan dinikahinya, Ferry bilang jujur mungkin ada seorang anak yang dia tak tahu keberadaannya karena dia belum menemui Witri yang telah membohongi kalau telah menggugurkan anaknya*.’
\*‘Semua sekarang tergantung Mukti. Kalau mau memberitahu keberadaannya pada ayah dan kakeknya itu baik. Tapi tak memberitahu juga enggak apa-apa. Kami tetap seperti sekarang. Mencintaimu apa adanya,’ \*tulis Sonny bijak.
‘*Matur nuwun. Sampai saat ini aku belum berpikir memberitahu siapa diriku pada om Ferry dan kakek Rustam. Aku masih tergoncang kalau aku ternyata bukan anak mama Ambar dan papa Abu. Aku juga masih menyesali kebodohanku menikam mamasku sendiri*.’
‘*Aku rasa aku butuh waktu sangat lama memulihkan keterkejutanku terhadap kenyataan ini. Jadi aku belum sanggup menerima goncangan lagi dengan persoalan identitas orang tua kandungku. Cukup aku tahu, tapi tak berniat menjadi bagian keluarga besar mereka, sekaya apa pun mereka. Karena aku punya keluarga kaya cinta seperti keluarga besar Lukito*,’ Mukti tetap teguh pada prinsipnya, tak ingin masuk pada keluarga Ferry.
__ADS_1
‘*Kami menerima apa pun keputusanmu. Papa harap itu yang terbaik untukmu*,’ tulis Abu. Dia tak ingin mengharuskan Mukti membuka diri pada Ferry. Biar bagaimana pun hati seseorang tak bisa kita paksakan menerima seseorang masuk ke dalam keluarganya.
‘*Terima kasih Pa, Ma. Kalian memang selalu yang terbaik buat kami anak-anak Mama dan Papa*,’ tulis Mukti.
‘*Pagi tadi, Papa mulai mengikuti proses cerai adat. Akan sangat lama dan berbelit. Tapi setidaknya Papa telah melangkah satu step maju. Tidak diam ditempat*,’ Komang mendapat pesan kalau papanya mulai menjalankan pengajuan cerai adat. Komang tahu kalau papanya akan berjuang sangat keras mengingat perbedaan kasta papanya yang lebih rendah dari kasta bu Dewi.
‘*Benar Pa. Yang penting kita sudah melangkah walau satu step*,’ balas Komang Ayu. Setidaknya harapan papa dan ibu untuk bersama di hari tua bisa terlaksana.
Komang langsung memberi khabar bahagia itu pada pakde Saino.
‘*Tolong bilang ke ibu ya Pakde. Agar ibu bersemangat dan bergairah. Aku rasa itu bagus untuk memompa kesehatan jiwa ibu karena punya harapan besar hidup bersama papa*,’ demikian tulis Komang pada Saino.
‘*Baik, akan Pakde sampaikan berita baik ini. Pakde yakin akan membawa dampak bagus buat kesehatan ibumu*.’
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok
__ADS_1