CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
INGIN MERASA NYAMAN TIDUR DI SISIMU


__ADS_3

Hampir jam 03.00 pagi mereka baru berencana pulang. Memang mereka sengaja duduk santai berleha-leha sambil menurunkan isi perut. Karena mereka memang sudah sangat kekenyangan. Sehabis makan steak tadi mereka masih tambah wedang ronde yang tak mereka dapat di Bali.


 “Nanti kalau kita ngumpul di studio buatkan wedang ronde ya Komang,” Made sudah request pada Komang Ayya saat mereka tiba di Bali nanti ada wedang ronde.


“Ha ha ha siapa takut. Tapi dengan syarat, Kak Made bawa calon istri ya,” balas Ayya. Tentu saja membuat Made jadi bingung sendiri. Karena sampai saat ini dia belum bisa jatuh cinta lagi. Dia jatuh cinta pada orang yang salah lalu dikhianati, itu membuat dia benci perempuan.


Wayan dan Mukti tersenyum melihat wajah Made yang tersenyum kecut mendengar syarat yang Ayya berikan.


Sejak tadi Mukti belum berani menanyakan kehidupan Ayya sejak berpisah dengannya. Dia belum mau memulai itu. Biarlah besok saja. Bukan besok sih, lebih tepatnya nanti. Karena sekarang sudah berganti hari.


“Kita pulangnya dekat subuh aja. Ini sudah jam 03.00, jadi begitu sampai rumah kita salat, baru tidur,” kata Mukti. Kalau mereka tidur dulu tentu pusing kepala karena harus bangun salat lalu tidur lagi.


“Mas terbiasa seperti ini?” selidik Ayya.


“Nggak Yank. Nggak pernah, selama kamu nggak ada, nggak pernah. Hari ini kan karena penutupan aja, jadi pulang sampai tengah malam,” ucap Mukti gugup. Takut Ayya mengira selama dia tinggal, Mukti sering ngelayab.


“Pulang tengah malam karena penutupan pameran, terus kan kita makan, biasanya juga langsung pulang maksimal jam sembilan malam,” jawab Mukti sambil meremas pelan telapak Ayya.


Mereka di rumah hampir pukul 04.00 dan memang sudah waktu masuk subuh Ayya langsung masuk kamarnya, membersihkan diri lalu bersiap untuk salat. Begitu pun Made dan Mukti.

__ADS_1


Bu Parman senang melihat Ayya datang, tapi dia belum tahu bagaimana kelanjutan hubungan Mukti dan Ayya karena secara selentingan dia sering dengar Ayya pergi karena ribut dengan Mukti. Tapi tentu saja tak ada keluar cerita apa pun dari mulut Ambar.


“Pa, Ma habis salat kami mau tidur ya,” Mukti pamit dulu sebelum mereka melakukan salat. Dia tak ingin Made dan Wayan nanti punya rasa tak enak karena tidur di rumah orang sampai bangun siang.


“Iya kalian tidur aja, jangan sampai kalian sakit,” kata Angga.


Sehabis salat Ayya berjalan ke dapur.


“Yu. Kamu langsung tidur aja atau mau sarapan dulu?” tanya Ambar.


“Nggak Ma, kami baru aja selesai makan, jadi masih kenyang. Nanti aja sarapannya. Aku mau bikinin su5u aja buat eyang. Lalu baru tidur,” kata Ayya.


“Ya sudah Ma. Aku masuk kamar ya Ma,”  jawab Ayya.


Ayya menuju kamarnya. Sejak tadi memang tak bawa handphone karena begitu tiba di rumah, handphonenya dicas dan dia keluar karena ingin sholat tentu tak mungkin salat bawa ponsel.


“Yank kamu mau tidur sekarang?” tanya Mukti saat Ayya baru mau membuka pintu kamarnya.


“Ada apa Mas?” tanya Ayya. Dia tak ingin menghindari. Dia ingin semuanya diselesaikan sekarang juga. Paling tidak hari ini juga. Ayya tak ingin berlarut-larut.

__ADS_1


“Mas lebih baik tidur aja. Aku nggak pergi kok sebelum kita menyelesaikan masalah kita,” ucap Ayya.


“Jujur Mas nggak bisa tidur. Takut kamu pergi,” jawab Mukti pelan tanpa malu kalau dia takut kehilangan Ayya.


“Aku janji kok, aku akan menyelesaikan persoalan kita dulu baru aku pergi,” kata Ayya. Dia tidak menjanjikan akan tinggal di situ, dia bilang akan menyelesaikan masalah sebelum pergi.


“Mas boleh minta sesuatu?” tanya Mukti penuh harap.


“Kenapa?” jawab Ayya. Dia tak sanggup menatap mata sendu milik tunangannya itu.


“Mas tidur di sebelahmu ya? Nggak akan sentuh kok. Cuma Mas takut aja kamu pergi lagi,” bisik Mukti.


“Kalau Mas takut aku kabur, aku masuk kamar, lalu Mas kunci dari luar ya,” ucap Ayya tanpa ragu.


‘Sebegitu lemahnya rasa percaya dirimu, sampai ketakutan aku pergi sebelum kita bicara,’ kata Ayya dalam hatinya. Dia sangat sedih mengetahui lara yang Mukti rasakan.


“Nggak Mas nggak akan seperti itu. Mas percaya kok sama kamu tapi Mas ingin rasa nyaman aja, ingin tidur di sebelahmu,” jawab Mukti.


“Baiklah. Ayo masuk,” jawab Ayya. Dia tak tega melihat Mukti yang sudah sangat depresi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2